Bayar Kelas 1 tapi Dapat 'Pelayanan Panas', Pasien RSUD Sultan Sulaiman Sergai Pilih Pulang Paksa (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Serdang Bedagai — Niat hati ingin mendapatkan pemulihan yang nyaman dengan menjadi peserta BPJS Mandiri Kelas 1, Umi Salamah (55) justru harus menelan kekecewaan mendalam.
Ia mengeluhkan fasilitas AC kamar rawat inap yang tidak berfungsi dingin hingga dugaan sikap kurang profesional dari tenaga medis di RSUD Sultan Sulaiman, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).
Peristiwa bermula saat Umi masuk menjalani perawatan di Ruangan Anggrek 11 pada Sabtu (1/8) malam lalu akibat menderita sakit perut disertai muntah dan mencret (mumen). Alih-alih merasa tenang, ia justru dibuat gerah dan tersiksa lantaran mesin pendingin ruangan (AC) di kamarnya mati rasa dingin.
"Saat itu sudah kami sampaikan kepada perawatnya, AC-nya tidak dingin. Datang dua orang pria memperbaikinya dan membersihkan saringan, tapi tetap saja tidak dingin. Kami gerah karena panas," ujar Umi kepada wartawan, Rabu (5/8).
Tidak hanya persoalan fasilitas, Umi juga menyayangkan sikap tidak ramah yang ditunjukkan oleh dokter jaga perempuan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Saat tiba di IGD dalam kondisi lemas dan menahan sakit hebat, ia mengaku sempat kesulitan berbicara secara lancar.
Alih-alih mendapat empati, sang dokter justru menunjukkan gestur kesal. Bahkan, ketika Umi memberikan isyarat tangan menolak opsi berobat jalan dan ingin rawat inap, dokter tersebut diduga melontarkan kalimat bernada ketus.
"Makanya kalau saya ngomong dijawab, jadi biar tahu saya apa saja keluhannya," tiru Umi menirukan ucapan sang dokter.
Kondisi semakin diperparah ketika suami Umi mencoba menghubungi Direktur RSUD Sultan Sulaiman melalui pesan WhatsApp untuk meminta fasilitas pindah ruangan yang layak sesuai hak kelas BPJS Mandiri mereka. Namun, tidak ada respons maupun solusi konkret yang diberikan oleh pihak manajemen rumah sakit.
Merasa sudah jatuh tertimpa tangga, Umi akhirnya memilih mengambil langkah tegas untuk menandatangani surat pulang paksa pada Minggu (2/8) lalu, meski masa perawatan BPJS-nya masih menyisakan beberapa hari lagi.
"Kita pasien kan mau sehat, mau tenang, masa tidak ada upaya mereka cari alternatif lain? Padahal kita pakai BPJS Mandiri kelas 1. Kalau begini, bukan sehat malah tambah sakit," keluh Umi dengan nada kecewa.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait keluhan tersebut, Direktur RSUD Sultan Sulaiman, dr. Hendri Yanto Ginting, memberikan respons singkat melalui aplikasi WhatsApp. Ia menyampaikan terima kasih atas masukan yang diberikan dan mengarahkan agar persoalan tersebut dilaporkan melalui saluran pengaduan resmi rumah sakit tanpa memberikan penjelasan rinci mengenai langkah perbaikan internal.
Kasus pelayanan ini kembali mencoreng citra RSUD Sultan Sulaiman Sergai. Sebelumnya, rumah sakit pelat merah ini juga sempat menjadi sorotan tajam dan didemo oleh puluhan massa dari Aliansi Masyarakat Desa Bakaran Batu akibat insiden pelayanan fatal yang berujung pada kematian bayi dalam kandungan. Sayangnya, rentetan persoalan tersebut tampaknya belum menjadi evaluasi berarti bagi perbaikan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit daerah tersebut.
(DEL)