Dinkes Sumut Diminta Evaluasi RSUD Sultan Sulaiman Sergai

Dinkes Sumut Diminta Evaluasi RSUD Sultan Sulaiman Sergai
Erick Yoma (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Serdang Bedagai - Kualitas pelayanan dan fasilitas di RSUD Sultan Sulaiman, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) sangat mengecewakan pasien yang berobat di rumah sakit tersebut, sehingga terus menjadi sorotan dari berbagai elemen masyakarat.

Kali ini sorotan tajam disampaikan Erick Yoma, seorang Pemerhati dan Pegiat Sosial di Kabupaten Sergai. Ia mendesak Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk segera mengevaluasi keberadaan RSUD plat merah tersebut, menyusul rentetan keluhan pasien yang dinilai mencoreng rasa kemanusiaan.

Menurut Erick Yoma, pelayanan kesehatan adalah kebutuhan dasar yang seharusnya mengedepankan kenyamanan dari tenaga medis yang humanis maupun fasiltasnya.

Ia menyoroti laporan pasien yang harus berjuang melawan gerah di dalam ruang rawat inap lantaran fasilitas pendingin ruangan (AC) yang rusak, bahkan teknisi melakukan perbaikan saat pasien masih berada di lokasi.

Selain itu, bak air mandi yang berisikan cacing kecil-kecil dan jentik-jentik, bola lampu di kamar mandi yang mati, serta lantai di tempat kamar mandi bocor, sehingga saat disiram menimbulkan aroma tidak enak.

"Jika hal ini benar terjadi, tentu harus menjadi perhatian serius Dinkes Provinsi Sumatera Utara untuk mengevaluasi segera keberadaan RSUD plat merah tersebut. Kemudian kepada Bupati Sergai, Darma Wijaya, yang selama ini terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat, maka diminta kepada Bupati wajib melakukan pula evaluasi total terhadap direktur hingga seluruh staf wajibnya," tegas Erick Yoma di Seirampah, Senin (10/8/2026).

Kritik ini mencuat setelah salah satu pasien, Umi Salamah, mengungkap kekecewaannya. Umi yang merupakan peserta BPJS Mandiri Kelas 1 mengaku tidak mendapatkan kenyamanan di Ruangan Anggrek 11 sejak Sabtu (1/8/2026). Selain fasilitas AC yang tidak berfungsi, ia juga mengeluhkan sikap dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang dinilai kurang profesional.

"Dokter justru melontarkan ucapan yang kurang pantas saat saya sedang menahan sakit hebat. Seharusnya tenaga medis memberikan pelayanan dengan empati, bukan justru membuat pasien merasa tertekan," ujar Umi.

Demikian pula halnya yang dialami seorang pasien bernama Abdul Rahman alias Buyung (66) peseta BPJS kesehatan, yang dalam dianogsanya menderita penyakit paru-paru, kemudian dipindahkan ke ruangan isolasi paru-paru di kamar 3, Rabu (5/8/2026) sore, namun kamar mandinya jorok, bola lampu mati, bak airnya kotor dan banyak cacing serta jentik, bahkan keran air dipasang saringan, tapi saringannya jorok dan cacing ikut lengket. Demikian pula lantai kamar mandi bocor, sehingga mengeluarkan aroma tidak sedap saat pintu kamar mandi dibuka.

Dengan mencuatnya peristiwa kedua pasien ini, Erick Yoma mengingatkan bahwa RSUD Sultan Sulaiman memiliki catatan kelam di masa lalu. Pada September 2025, rumah sakit ini sempat diguncang demonstrasi besar oleh Aliansi Masyarakat Desa Bakaran Batu terkait kematian seorang bayi pasca-operasi caesar. Masyarakat saat itu menduga adanya kelalaian medis yang sempat dibawa ke ranah hukum, walaupun akhirnya berdamai antara korban dengan pihak korban.

Tidak hanya itu, Erick juga mengatakan pada tahun yang sama timbul lagi peristiwa seorang pasien bernama Imelda Sabatini Sihombing (18) warga Dusun IV Desa Gempolan, Kecamatan Seirampah Bamban, Sergai, pasien peserta BPJS Kesehatan menjalani perawatan selama 15 hari di RSUD Sultan Sulaiman yang awalnya didiagnosa menderita penyakit usus buntu, namun setelah menjalani perawatan intensif, Imelda menghembuskan nafas terakhirnya di ruangan ICU pada Jumat (12/9/2025) sekitar pukul 06.00 WIB.

Setelah tiga minggu pasca meninggal Emilda, ayahnya, Labuan Sihombing bersama kuasa hukumnya, Senin (6/10/2025) mendatangi rumah sakit tersebut untuk meminta dokumen medis dan surat keterangan kematian, namun pihak keluarga hanya memperoleh surat keterangan meninggal dunia tanpa ada penjelasan resmi mengenai alasan tidak diserahkannya rekam medis pasien.

"Pihak keluarga hanya diberikan surat keterangan meninggal dunia, tapi surat rekam medis tidak diberikan tanpa ada penjelasan apapun dari pihak rumah sakit, padahal transparansi dan tanggungjawab pihak rumah sakit sangat diperlukan, mengingat dokumen rekam medis merupakan hak pasien atau ahli waris dan menjadi dasar penting dalam menelusuri penyebab kematian pasien," tegas Erick.

Erick menambahkan, karena tidak kepastian dari pihak rumah sakit tentang hal tersebut, maka pihak ahli waris almarhumah Imelda melaporkan pihak RSUD Sultan Sulaiman ke Polda Sumut dan Ombudsman Sumut, dan sampai saat ini kasusnya masih di Polda Sumut dan Ombudsman Sumut.

Erick juga menyampaikan banyak warga tidak nyaman berobat karena pelayanannya sangat tidak profesional.

"Meski pihak manajemen telah membuka kanal aduan, desakan publik untuk perbaikan nyata di lapangan kini semakin menguat, menuntut standar pelayanan yang lebih manusiawi dan profesional di fasilitas kesehatan kebanggaan masyarakat Sergai tersebut,sebab peristiwa yang terjadi pada tahun 2025 lalu sudah cukup seharusnya menjadi pelajaran bagi rumah sakit milik Pemkab Sergai ini," ungkapnya.

(BAH/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi