PT AR Gelar Smartabe Connect 3 Bersama Insan Pers (HIH)
Analisadaily.com, Padangsidimpuan - PT Agincourt Resources (AR), selaku pengelola Tambang Emas Martabe Batangtoru, kembali menggelar Smartabe Connect ke-3 bersama insan pers di Aula Cafe Kopimix, Kota Padangsidimpuan, Sabtu (8/8).
Smartabe Connect ke-3 tersebut mengangkat tema “Peran Monitoring Lingkungan Lestarikan Ekosistem Batangtoru”.
Manager Public Relations PT AR, Reni Nugrahika Radhan, dalam sambutannya mengatakan, Smartabe Connect menjadi wadah untuk berdiskusi dan bertukar informasi bersama para wartawan.
“Manfaatkan informasi yang didapatkan dalam acara ini dengan sebaik-baiknya,” pintanya.
Sementara itu, Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PT Agincourt Resources, Syaiful Anwar, selaku narasumber, memaparkan bahwa fokus PT AR pascabencana saat ini adalah pemulihan lingkungan.
Selain itu, ia menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan perusahaan, mulai dari penataan lingkungan, manajemen peledakan terbatas, rehabilitasi dan reklamasi, hingga pengelolaan keanekaragaman hayati serta biodiversity support.
Sementara itu, Dr. Suci Utami, ilmuwan biodiversitas dari Universitas Nasional
Jakarta sekaligus BAP PT AR, mengatakan, stasiun riset PT AR telah berdiri sejak Januari lalu.
“Saat ini kita fokus pada adaptasi orangutan di habitatnya, yakni hutan Batangtoru, pascabencana,” ungkapnya.
Selain orangutan, katanya, pihaknya juga melakukan penelitian terhadap berbagai satwa yang berada di kawasan hutan Batangtoru, seperti harimau Sumatera, tapir, dan satwa lainnya.
Parman Sitanggang, Tim Patrol Area, mengatakan, patroli dilakukan untuk mencegah pembakaran hutan serta perburuan satwa liar.
“Selain mencegah perburuan liar, kita juga mencegah upaya pembakaran lahan di kawasan hutan Batangtoru karena akan berakibat fatal bagi habitat di dalamnya,” ujarnya.
Abdi Paruntungan, Ketua Lembaga Muda dan Kreatif yang fokus pada lingkungan, mengungkapkan, dirinya dipercaya PT AR melakukan monitoring bersama 10 anggota di lapangan.
“Tim dibagi dua. Setiap tim melakukan patroli selama satu minggu, kemudian satu minggu berikutnya off,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, peralatan yang digunakan di antaranya GPS, radio patroli, dan perlengkapan lainnya.
Di sisi lain, Yusuf, anggota Tim Stasiun Riset, menambahkan, pengawasan di kawasan hutan Batangtoru telah dilakukan sejak 2007, tetapi belum semasif saat ini.
“Tantangan yang dihadapi di lapangan antara lain cuaca ekstrem, jerat, bertemu harimau, serta masyarakat yang mengklaim lahan sebagai hak milik, padahal lahan tersebut sudah dibebaskan,” ungkapnya.
Acara dirangkai dengan sesi tanya jawab serta pemberian hadiah kepada narasumber dan penanya terbaik.
(HIH/BR)