Subandi: Indonesia Mulai Melihat “Pulau Tujuan”, Arah Pembangunan Prabowo Semakin Jelas (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Optimisme terhadap masa depan Indonesia menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato di hadapan bangsa. Ketua Komisi E DPRD Sumut HM Subandi menilai, perjalanan pemerintahan yang baru berlangsung 19 bulan telah menunjukkan capaian signifikan sekaligus memperlihatkan arah pembangunan yang semakin jelas.
Hal itu disampaikan Subandi seusai mengikuti rapat paripurna DPRD Sumut, Jumat (14/8/2026).
Menurut Subandi, sejumlah capaian pemerintah dalam ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan ekonomi, pembangunan infrastruktur hingga pengentasan kemiskinan menunjukkan bahwa Asta Cita tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi mulai diterjemahkan menjadi program yang menyentuh kehidupan masyarakat.
"Kita melihat optimisme Presiden dalam masa 19 bulan ini sungguh luar biasa. Capaian-capaian yang dihasilkan juga luar biasa, mulai dari ketahanan pangan, peningkatan SDM hingga bagaimana mengendalikan perekonomian kita," ujar Subandi.
Ia mengibaratkan perjalanan pembangunan Indonesia seperti kapal yang sedang berlayar. Jika sebelumnya tujuan pembangunan dinilai masih samar, kini pulau yang hendak dituju mulai terlihat.
"Kalau ibarat kapal berlayar, kita sudah nampak pulau yang mau kita tuju. Arahnya sudah jelas. Selama ini arah pembangunan kita masih belum jelas, tetapi sekarang tujuan itu sudah mulai terlihat," katanya.
Subandi menilai kekuatan pemerintahan Prabowo terletak pada cakupan program yang menyentuh berbagai sektor kehidupan rakyat. Asta Cita, kata dia, tidak hanya berbicara mengenai ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga pendidikan, pertanian, nelayan, pengentasan kemiskinan serta pembangunan manusia.
Salah satu hal yang dinilainya inspiratif adalah perhatian pemerintah terhadap anak-anak dari keluarga miskin melalui program Sekolah Rakyat.
Menurutnya, program tersebut membuktikan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi alasan untuk mematikan cita-cita generasi muda.
"Anak-anak Sekolah Rakyat ternyata banyak yang pintar-pintar. Artinya, kemiskinan bukan membatasi masa depan atau cita-cita anak Indonesia," tegasnya.
Ia juga mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap masyarakat nelayan melalui pembangunan kampung-kampung nelayan serta berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Di sektor pendidikan, revitalisasi sekolah dinilai menjadi langkah penting untuk menciptakan generasi Indonesia yang lebih berkualitas. Sementara di bidang pertanian, peningkatan dukungan pupuk serta membaiknya harga sejumlah produk pertanian dinilai memberikan harapan baru bagi petani.
"Pertanian kita juga diperhatikan. Pupuk ditingkatkan, harga produk pertanian naik, sehingga memberikan keuntungan yang jelas kepada petani kita," katanya.
Subandi mengatakan capaian di sektor pangan bahkan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Target swasembada pangan yang sebelumnya diproyeksikan dalam tiga tahun, menurutnya, telah menunjukkan pencapaian lebih cepat.
"Target swasembada pangan tiga tahun, tetapi dua tahun sudah selesai. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah membangun ketahanan pangan," ujarnya.
Selain pangan, ia menilai kebijakan hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mengubah kekayaan alam Indonesia menjadi sumber kekuatan ekonomi nasional. Sumber daya alam yang sebelumnya banyak diolah di luar negeri kini didorong untuk diproses di dalam negeri sehingga nilai tambahnya dapat dinikmati masyarakat Indonesia.
Bagi Subandi, rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak dari sekadar memiliki potensi menjadi negara yang mampu mengelola potensinya untuk kesejahteraan rakyat.
"Semua sektor menyangkut hajat hidup rakyat Indonesia yang lebih dari 280 juta orang terangkum dalam Asta Cita Pak Prabowo dan kinerja kabinetnya. Tidak ada yang tertinggal," ujarnya.
Ia berharap optimisme tersebut terus dijaga dengan memastikan setiap program pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama kelompok yang selama ini membutuhkan perhatian.
"Kalau ibarat pelaut, garis lintang sudah jelas, bujur timur dan barat sudah jelas. Tujuan sudah terang di depan. Tinggal berlabuh," pungkas Subandi.
(NAI/NAI)