Tim pelaksana bersama mitra UMKM Dodol Riana di Desa Bengkel, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. (Analisadaily/istimewa )
Analisadaily.com, Serdang Bedagai - Tim pengabdian kepada masyarakat dari Institut Bisnis dan Komputer Indonesia melaksanakan program penguatan UMKM Dodol Riana di Desa Bengkel, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Program ini diarahkan untuk membantu mitra meningkatkan kesiapan scale-up usaha melalui standardisasi mutu, penguatan legalitas produk, penerapan teknologi tepat guna, perbaikan kemasan, serta optimalisasi pemasaran digital berbasis data.
Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui observasi dan wawancara, sosialisasi, pelatihan, praktik langsung, penerapan teknologi, pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Program menyasar persoalan yang selama ini menjadi hambatan pengembangan usaha, terutama proses produksi yang masih banyak bergantung pada pengalaman, belum optimalnya dokumentasi mutu dan higiene, kesiapan dokumen legalitas, kemasan yang masih sederhana, serta pemasaran yang dominan mengandalkan pelanggan tetap dan penjualan langsung.
Pada aspek produksi, mitra didampingi menerapkan standar operasional prosedur produksi, higiene, dan sanitasi. Tim juga memperkenalkan penggunaan timbangan digital presisi, termometer digital, alat sealer, dan kemasan food grade. Penggunaan teknologi tersebut membantu proses produksi menjadi lebih terukur, terutama pada penimbangan bahan, pengendalian suhu pemasakan, dan tahap pengemasan.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada penyediaan alat, tetapi juga pada perubahan prosedur kerja dan penguatan pencatatan mutu agar proses produksi dapat dilakukan secara lebih konsisten. Penguatan legalitas menjadi bagian penting dalam program karena perluasan pasar membutuhkan kesiapan administrasi dan informasi produk yang lebih baik.
Mitra memperoleh pendampingan untuk mengidentifikasi kebutuhan dokumen usaha dan produk, menyiapkan persyaratan PIRT/IRT dan sertifikasi halal, serta memperbaiki informasi pada label dan kemasan. Program menempatkan legalitas bukan sekadar sebagai pemenuhan administrasi, tetapi sebagai fondasi kredibilitas usaha dan kesiapan produk memasuki pasar yang lebih luas.
Pada sisi pemasaran, tim mendorong transformasi dari pemasaran konvensional menuju pemanfaatan media sosial dan marketplace. Pendampingan meliputi penguatan branding dan storytelling produk, pembuatan materi promosi, pemanfaatan kanal digital, pencatatan transaksi, serta pengenalan data sederhana seperti respons konsumen, performa konten, dan perkembangan penjualan. Pembukuan digital juga mulai diperkenalkan agar keputusan usaha tidak hanya bergantung pada intuisi, tetapi semakin didukung oleh data yang terdokumentasi.
Hasil evaluasi menunjukkan seluruh sepuluh aspek peningkatan keberdayaan mitra yang dinilai berstatus tercapai. Perubahan terlihat pada penerapan SOP produksi, formulasi bahan yang lebih terukur, penerapan higiene dan sanitasi, monitoring mutu, penggunaan alat produksi, pendampingan legalitas, perbaikan label dan kemasan, penggunaan media sosial dan marketplace, penerapan pencatatan digital, serta mulai digunakannya data usaha dalam pengambilan keputusan.
Meski demikian, program tetap membedakan antara capaian yang sudah terdokumentasi dan target kuantitatif yang masih memerlukan pemantauan lanjutan. Target seperti peningkatan omzet minimal 10 persen dan performa kanal pemasaran digital masih membutuhkan data realisasi yang konsisten agar dampak ekonominya dapat diukur secara lebih kuat.
Keberlanjutan program karena itu diarahkan pada konsistensi penerapan SOP, penyelesaian proses legalitas, pencatatan penjualan dan keuangan, evaluasi pemasaran digital, serta pengembangan jejaring pemasaran.
Program ini memperlihatkan bahwa penguatan UMKM pangan lokal membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Peralatan produksi, prosedur kerja, legalitas, kemasan, pemasaran, dan data usaha tidak diperlakukan sebagai persoalan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu rangkaian penguatan kapasitas. Model pendampingan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi Dodol Riana untuk tumbuh sebagai usaha pangan lokal yang lebih profesional, adaptif, dan berkelanjutan.
Kegiatan dilaksanakan oleh tim Institut Bisnis dan Komputer Indonesia yang terdiri atas Lasman Eddy Bachtiar, Riomas Sinurat, Edwar Alezandro Lumbanraja, Stevi Consthantia Br Sinaga, dan Roli Bestari Harefa, dengan UMKM Dodol Riana sebagai mitra sasaran.
(DEL)