Analisadaily.com, Medan - Stroke kini tak lagi identik dengan penyakit orang lanjut usia. Gangguan pada pembuluh darah otak itu semakin banyak ditemukan pada usia produktif, termasuk mereka yang baru memasuki akhir 30-an hingga awal 40-an.
Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, pemahaman masyarakat mengenai pemeriksaan dan penanganan stroke juga menjadi hal penting. Sayangnya, informasi yang beredar kerap menimbulkan salah persepsi, salah satunya mengenai Digital Subtraction Angiography (DSA) yang sering disamakan dengan istilah brainwash atau cuci otak.
Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Columbia Asia Medan, dr. Steven Tandean, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS, menjelaskan, DSA dan brainwash merupakan dua hal yang berbeda. DSA merupakan prosedur diagnostik untuk melihat kondisi pembuluh darah, sedangkan brainwash merupakan istilah yang digunakan untuk suatu metode terapi tertentu.
“DSA itu adalah metode pemeriksaan medis standar internasional untuk mendeteksi pembuluh darah. Secara historis, DSA pertama kali ditemukan oleh Egas Moniz, seorang pakar asal Portugis, dan bukan pencetus brainwash,” ujar dr. Steven.
Menurutnya, prosedur DSA memiliki mekanisme yang mirip dengan kateterisasi pada jantung. Tindakan tersebut dilakukan secara invasif minimal dengan memasukkan kateter untuk memetakan aliran darah dari pembuluh di leher hingga otak secara real-time melalui gambar bergerak.
Berbeda dengan CT scan atau MRI konvensional yang menghasilkan gambaran tertentu, DSA memungkinkan dokter melihat pembuluh darah dan aliran darah secara lebih dinamis.
Sementara itu, brainwash atau “cuci otak” yang populer melalui metode heparin flushing merupakan bentuk terapi yang dicetuskan dan dipopulerkan Prof. Terawan.
“Kalau DSA itu pemeriksaan diagnostik terstandar global. Kalau kita bicara DSA di Singapura, Jepang, atau Amerika Serikat, para medis di sana paham itu pemeriksaan. Tapi kalau kita bilang brainwash, mereka bingung karena itu istilah yang berkembang di Indonesia,” jelasnya.
Dr. Steven menegaskan, dirinya tidak berada pada posisi untuk mendukung ataupun menentang metode brainwash. Menurutnya, setiap tindakan medis harus ditempatkan sesuai dengan landasan ilmiah, pedoman klinis, serta bukti penelitian yang tersedia.
“Saya mengategorikan brainwash sebagai pengobatan berbasis penelitian, sama halnya seperti stem cell atau terapi tertentu yang masih dikembangkan. Belum ada bukti riset yang menyatakan itu jelek, tetapi juga belum ada standar bukti klinis global yang menyatakan itu bagus. Jadi, keputusan sepenuhnya kembali kepada hak pasien setelah mendapatkan pemahaman yang benar,” katanya.
Mitos Obat Darah Tinggi dan Ancaman Stroke Usia Muda
Selain meluruskan persepsi mengenai prosedur medis, dr. Steven mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi kesehatan yang beredar di media sosial.
Menurutnya, perubahan gaya hidup turut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus stroke pada usia produktif. Pola makan tinggi karbohidrat, gorengan, gula dan garam, ditambah kurangnya aktivitas fisik, menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.
Namun, yang tak kalah mengkhawatirkan adalah kebiasaan pasien menghentikan obat darah tinggi secara sepihak karena terpengaruh informasi yang belum tentu benar.
“Banyak pasien menghentikan obat tensi karena mendengar kabar burung atau edukasi keliru di media sosial seperti TikTok dan Instagram yang menyebut obat darah tinggi bisa merusak ginjal. Ini salah kaprah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, tekanan darah tinggi dan gula darah yang tidak terkontrol justru dapat merusak ginjal. Karena itu, pasien yang mendapatkan obat dari dokter tidak dianjurkan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Penghentian obat secara sepihak dapat menyebabkan tekanan darah kembali tidak terkendali dan meningkatkan risiko stroke, baik akibat sumbatan maupun perdarahan pada pembuluh darah otak.
Golden Period, Jangan Menunda Pertolongan
Dalam penanganan stroke, waktu merupakan faktor yang sangat menentukan. Semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang untuk menyelamatkan jaringan otak dari kerusakan permanen.
Gejala dan dampak stroke juga bergantung pada lokasi pembuluh darah yang mengalami gangguan. Stroke yang menyerang bagian otak kiri, misalnya, dapat menyebabkan kelemahan pada anggota gerak sebelah kanan dan gangguan bicara atau komunikasi.
Pada stroke akut tertentu, pasien yang datang dalam golden period dapat menjalani evaluasi dan tindakan medis sesuai kondisi klinisnya. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan pada kasus tertentu adalah trombektomi, yakni prosedur untuk mengangkat atau menarik bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah otak.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu gejala membaik dengan sendirinya ketika muncul tanda-tanda stroke. Wajah mencong, kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, serta gangguan bicara merupakan tanda yang harus segera mendapatkan pertolongan medis.
Deteksi Dini dan Edukasi Jadi Kunci
RS Columbia Asia Medan terus berupaya menyediakan fasilitas dan layanan kesehatan untuk mendukung penanganan stroke serta berbagai gangguan neurologis.
Hospital CEO RS Columbia Asia Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, mengatakan, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan menjadi bagian penting dalam menekan risiko kecacatan akibat stroke.
Menurutnya, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan konsultasi dengan tenaga medis profesional dapat membantu mendeteksi faktor risiko lebih awal.
“Pesan kami sederhana, kenali gejalanya, jangan menunda pertolongan, dan percayakan keputusan pemeriksaan maupun tindakan kepada tim medis. Kehadiran layanan DSA merupakan bagian dari upaya menyediakan teknologi yang dapat mendukung diagnosis dan penanganan gangguan pembuluh darah secara lebih terintegrasi,” tandasnya.
Edukasi yang tepat, menurutnya, diperlukan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi kesehatan yang belum teruji. Pada akhirnya, pencegahan melalui pola hidup sehat, pengendalian faktor risiko, pemeriksaan berkala, serta pertolongan medis yang cepat tetap menjadi langkah penting dalam menghadapi ancaman stroke.(MUL)
(DEL)











