Lake Toba Tradisional Music Festival 6.0 Dorong Musik Tradisi Sumut Tembus Pasar Asia Tenggara

Lake Toba Tradisional Music Festival 6.0 Dorong Musik Tradisi Sumut Tembus Pasar Asia Tenggara
Lake Toba Tradisional Music Festival 6.0 Dorong Musik Tradisi Sumut Tembus Pasar Asia Tenggara (Analisadaily/zulnaidi)

Analisadaily.com, Medan - Musik tradisional tidak boleh berhenti sebagai warisan yang hanya dipelihara, tetapi harus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan pintu masuk bagi talenta-talenta muda Sumatera Utara menuju pasar internasional.

Semangat tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam Lake Toba Tradisional Music Festival (LTTMF) 6.0, yang digelar Rumah Karya Indonesia (RKI) dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan kebudayaan, termasuk Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara, Taman Budaya Sumatera Utara, Manajemen Talenta Nasional (MTN) bidang musik serta Badan Pelaksana Otorita Danau Toba.
Direktur LTTMF 6.0, Ramanta Sinulingga, mengatakan festival tahun ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik, tetapi dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan musisi tradisional Sumatera dengan pelaku industri dan jejaring musik internasional.
“Tujuan besarnya bagaimana kita menjaga ekosistem musik tradisi di Sumatera, sekaligus membuka pintu agar karya-karya anak muda bisa menjangkau pasar global,” ujarnya dalam konferensi pers LTTMF 6.0 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU, Medan, Kamis (3/9).
Menurut Ramanta, festival tahun ini menghadirkan kelompok musik dari berbagai daerah di Sumatera, termasuk Sumatera Utara, Aceh hingga Lampung. Selain itu, terdapat delegasi dan penampil internasional dari Korea Selatan, Singapura dan Malaysia.
Kehadiran mereka diharapkan tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dan transaksi industri musik.
“Ketika mereka melihat karya-karya kita, harapannya ada yang tertarik untuk berkolaborasi, mengundang tampil atau membawa karya tersebut ke pasar yang lebih luas,” katanya.
Bukan Sekadar Festival
Ramanta menjelaskan, LTTMF 6.0 tahun ini memiliki tiga program utama, yakni talk show, titik temu (meeting point), dan pertunjukan musik.
Talk show menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai bagaimana musik tradisional dapat dikembangkan dan dikemas agar memiliki daya saing di tingkat internasional.
Sementara program titik temu mempertemukan kelompok musik dengan para delegasi dan jejaring industri. Setiap kelompok diberikan kesempatan mempresentasikan profil, karya, rekaman maupun portofolio mereka secara langsung.
Adapun pertunjukan menjadi ruang bagi para musisi untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membuka peluang kerja sama lebih lanjut.
“Ini bukan kontes. Teman-teman diberikan ruang untuk membawa tradisinya, kemudian dikemas dengan berbagai pendekatan, bisa masuk ke pop, kontemporer maupun bentuk lainnya, tanpa kehilangan akar tradisinya,” jelas Ramanta.
Konsep tersebut, menurut dia, merupakan upaya membangun ekosistem musik yang berkelanjutan. Musik tradisional tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai karya yang memiliki nilai ekonomi.
MTN: Talenta Harus Dibawa ke Level Internasional
Perwakilan Manajemen Talenta Nasional (MTN) bidang musik, Aristofani, mengatakan pengembangan talenta merupakan bagian dari program prioritas nasional yang didukung Perpres Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional.
Dalam bidang seni budaya, pengembangan talenta mencakup lima bidang, yakni film, sastra, seni rupa, seni pertunjukan dan musik.
Menurut Aristofani, ekosistem talenta tidak cukup hanya dengan menemukan orang-orang berbakat. Mereka juga harus diberi ruang untuk meningkatkan kapasitas, menghasilkan karya, membangun jejaring dan mendapatkan akses ke pasar internasional.
“Yang sedang kita bangun adalah bagaimana mencari, mengembangkan, kemudian membawa talenta-talenta tersebut ke tingkat internasional,” katanya.
Ia mengungkapkan, proses pengembangan talenta di Sumatera Utara telah dilakukan melalui berbagai kegiatan dan laboratorium, termasuk pengembangan komposisi musik berbasis tradisi serta peningkatan kapasitas para pelaku musik.
Karena itu, LTTMF 6.0 dinilai menjadi momentum penting untuk menguji apakah ekosistem yang selama ini dibangun mampu masuk ke tahap berikutnya, yakni pasar.
Musik Tradisi Bisa Gerakkan Ekonomi Masyarakat
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara, Sukronedi, menilai pengembangan musik tradisional dapat memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih luas.
Menurutnya, kekayaan budaya di kawasan Danau Toba jangan hanya menjadi pelengkap pariwisata. Musik tradisional harus dapat menjadi salah satu pintu masuk industri budaya Sumatera Utara.
“Wisatawan jangan hanya datang karena keindahan Danau Toba. Kita juga kaya dengan musik-musik tradisi. Musik tradisi ini bisa menjadi pintu sebagai industri budaya Sumatera Utara,” katanya.
Dampaknya, kata dia, dapat dirasakan masyarakat di berbagai sektor.
Pertunjukan musik membutuhkan alat musik yang pada akhirnya menghidupkan pengrajin. Bahan baku alat musik juga membutuhkan keterlibatan sektor pertanian, termasuk peny
Selain alat musik, pengembangan musik tradisional juga dapat membuka peluang bagi pelaku usaha di sektor lain, seperti pembuat pakaian dan perlengkapan tradisional, pelaku kuliner, hingga usaha mikro yang tumbuh di sekitar lokasi pertunjukan.
Karena itu, menurut Sukronedi, pengembangan kebudayaan harus dilakukan secara lintas sektor. Pelestarian musik tradisional tidak dapat berdiri sendiri, sebab keberlangsungannya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, perajin, pelaku seni, pendidikan, pariwisata hingga sektor ekonomi kreatif.
“Kalau kita bermain musik tradisional, khususnya, tentu ada pakaian-pakaian tradisional. Itu juga menumbuhkan peluang ekonomi bagi masyarakat. Ketika ada pertunjukan, masyarakat sekitar juga bisa berdagang. Jadi banyak dampak positif yang bisa menggerakkan ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kawasan Danau Toba memiliki potensi besar untuk menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pengalaman wisata. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga mendapatkan pengalaman melalui musik, seni pertunjukan, kerajinan dan berbagai produk budaya masyarakat setempat.
Pandangan senada disampaikan perwakilan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Utara, Tommy Marpaung. Ia mengatakan pemerintah daerah mengapresiasi konsep LTTMF 6.0 yang dinilai lebih fleksibel dan diarahkan pada kebutuhan pengembangan ekosistem kebudayaan.
Menurutnya, pola dukungan pemerintah tidak semata-mata berorientasi pada bantuan anggaran, tetapi memberikan ruang agar kebutuhan yang benar-benar diperlukan dalam pengembangan kegiatan dapat dipenuhi secara tepat sasaran.
“Dengan konsep seperti ini lebih fleksibel dan tepat sasaran. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tentu mengapresiasi dan mendukung,” katanya.
Pelaksanaan LTTMF 6.0 juga mendapat dukungan dari Badan Pelaksana Otorita Danau Toba. Festival tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi kawasan Danau Toba bukan hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai ruang pertumbuhan ekosistem budaya dan industri kreatif.
Memperbanyak Ruang Tampil
Bagi Rumah Karya Indonesia, perjalanan LTTMF merupakan proses panjang membangun ekosistem musik tradisi di Sumatera Utara. Festival tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara seniman, komunitas, pemerintah, akademisi, pelaku industri dan masyarakat.
Pengalaman selama beberapa tahun menunjukkan bahwa semakin banyak ruang tampil yang tersedia, semakin besar pula peluang bagi kelompok-kelompok musik tradisional untuk berkembang, menemukan penonton baru dan membangun jejaring.
Karena itu, keberlanjutan festival menjadi penting. LTTMF dirancang menggunakan skema pengembangan ekosistem pada tahun ganjil dan penguatan pasar pada tahun genap.
Skema tersebut diharapkan membuat proses pengembangan talenta tidak berhenti setelah festival selesai. Kelompok-kelompok musik yang ditemukan dan dikembangkan pada satu periode dipersiapkan untuk mendapatkan akses pasar dan jejaring yang lebih luas pada periode berikutnya.
Ramanta mengatakan, ke depan pihaknya ingin memperluas jejaring tersebut secara bertahap, dari Sumatera Utara menuju Sumatera, kemudian Asia Tenggara dan pasar internasional.
“Yang kita bangun bukan hanya festivalnya, tetapi ekosistemnya. Bagaimana pengetahuan tetap hidup, karya terus berkembang, dan akhirnya terjadi transaksi ekonomi yang memberikan manfaat bagi para pelaku musik dan masyarakat,” katanya.
(NAI/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi