Sambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, PDSKJI Gelar Seminar Parenting For Mental Wellbeing (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Sumatera Utara (Sumut) bersama Program Studi Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ( FK USU) menggelar Seminar Awam Kesehatan Jiwa bertajuk 'Parenting for Mental Wellbeing', di Aula RS Prof dr Chairuddin Panusunan Lubis (CPL) USU, Medan, Selasa (22/09/2026).
Diikuti sekitar 150 peserta, kegiatan yang menjadi rangkaian Road to World Mental Health Day 2026 ini terlaksana melalui kolaborasi PDSKJI Cabang Sumatera Utara, Departemen/Program Studi Kedokteran Jiwa FK USU, RS Prof dr Chairuddin Panusunan Lubis (CPL) USU, USU Centre for Health Politics and Management (UPCHOLM), Lions Club Medan Kota, Edu Global School (EGS), serta berbagai mitra lainnya. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi dan kepedulian terhadap kesehatan jiwa di masyarakat.
Ketua Panitia HKJS 2026, dr Alfi Syahri Rangkuti MKed(KJ) SpKJ(K) menyampaikan, World Mental Health Day bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum untuk mengingatkan bahwa kesehatan jiwa merupakan hak setiap manusia dan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan fisik.
Tahun ini, kegiatan seminar mengangkat tema internasional 'Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change' atau 'Mendengarkan Pengalaman Nyata, Menghadirkan Perubahan Nyata'.
Dr Alfi menekankan, perubahan dalam kesehatan jiwa tidak cukup hanya melalui ilmu pengetahuan, kebijakan, dan pelayanan kesehatan, tetapi juga perlu dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan pengalaman nyata mereka yang menghadapi persoalan kesehatan jiwa.
Masyarakat perlu didorong untuk mengubah cara pandang, dari menghakimi menjadi memahami, dari stigma menjadi empati, serta dari sekadar mendengar menjadi benar benar mendengarkan (listening). "Ruang bagi pengalaman nyata masyarakat dinilai penting untuk membangun layanan kesehatan jiwa yang lebih manusiawi, inklusif, dan bermakna," katanya.
Semangat itu, sambung dr Alfi, diwujudkan melalui seminar yang mengangkat isu pengasuhan dan kesehatan jiwa keluarga. "Melalui tema Parenting for Mental Wellbeing, peserta diajak memahami pentingnya hubungan yang sehat dalam keluarga, komunikasi, pola pengasuhan, serta peran kesehatan jiwa orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak," imbuhnya.
Kegiatan ini, mendapat dukungan Lions Club Medan Kota. Hadir President Lions Club Medan KOTA Gunawan, Global Extension Team District Coordinator Erika Gunawan, Ketua Daerah Kang Hang Ui, Ketua Daerah Linda Chendra, serta sejumlah anggota Lions Club Medan.
Turut memberikan sambutan, Ketua PDSKJI Cabang Sumut, Dr dr Vita Camellia MKed SpKJ(K), dan Wakil Direktur RS Prof Dr Chairuddin Panusunan Lubis USU, Prof Dr dr Mustafa M Amin MSc MKed SpKJ SubspBP(K).
Seminar menghadirkan empat dokter spesialis kedokteran jiwa dengan materi yang saling melengkapi, yakni dr Wijaya Taufik Tjii MKed(KJ) SpKJ Subsp PsiM(K) membawakan 'Connected Not Controlled'. Kemudian, dr Syaifuddin Nasution MKed(KJ) SpKJ menyampaikan 'Berani Jatuh Mampu Bangkit', dr Nanda Sari Nuralita MKed(KJ) SpKJ membawakan 'Happy Parents Happy Kids', dan dr Dessy Mawar Zalia MKed(KJ) SpKJ Subsp PK(K) menyampaikan 'Breaking the Cycle'.
Keempat materi tersebut membahas berbagai aspek kesehatan jiwa dalam keluarga, mulai dari membangun relasi yang sehat, menghadapi kegagalan dan proses bangkit, menjaga kesehatan jiwa orang tua, hingga memutus pola pengasuhan anak yang berpotensi berulang lintas generasi.
Dalam kegiatan ini, juga diperkenalkan Tracker Mood, aplikasi pemantauan suasana hati yang dapat membantu pengguna mengenali perubahan kondisi emosional dan meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan jiwa. Pemantauan mandiri tersebut diharapkan dapat mendorong seseorang mencari bantuan profesional apabila perubahan berlangsung menetap atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, dr Alfi menegaskan, bahwa PDSKJI Cabang Sumut dalam memberikan edukasi kesehatan jiwa merupakan komitmen yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dunia kerja, dan mitra lainnya, edukasi diharapkan dapat menjangkau orang tua, keluarga, guru dan tenaga pendidik, pelajar, mahasiswa, akademisi, tenaga kesehatan, komunitas, hingga masyarakat umum.
"Dengan demikian, edukasi kesehatan jiwa tidak berhenti pada kegiatan seminar, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, pelayanan kesehatan, dan masyarakat," tandasnya.
Diketahui, menuju puncak World Mental Health Day 2026, rangkaian Road to World Mental Health Day 2026 dilanjutkan dengan konsultasi kesehatan jiwa gratis bersama dokter spesialis kedokteran jiwa melalui Zoom, pada 4 Oktober 2026. Kemudian mencapai puncaknya pada 11 Oktober 2026, di Lapangan/Stadion Kebun Bunga Medan.
Kegiatan puncak, akan menghadirkan olahraga bersama, konsultasi kesehatan jiwa gratis, pemeriksaan kesehatan dan mata, pembagian kacamata, donor darah, serta edukasi dan kampanye kesehatan jiwa. Rangkaian ini melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi Sumut UTD Mata, RSUP H Adam Malik Medan, RSJ Prof Dr M Ildrem Medan, serta berbagai mitra lainnya.
Melalui rangkaian ini, PDSKJI Cabang Sumut berharap, World Mental Health Day 2026 tidak hanya menjadi momentum peningkatan kesadaran, tetapi juga mendorong kepedulian, empati, dan tindakan nyata terhadap kesehatan jiwa di tengah masyarakat.
"Tidak semua luka terlihat oleh mata, tidak semua perjuangan terdengar oleh telinga. Namun, setiap manusia memiliki kisah yang layak didengarkan dan harapan yang layak diperjuangkan'. Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change-Suara Nyata, Perubahan Nyata, untuk Jiwa yang Lebih Sehat," tutup dr Alfi. (*)
(NAI/NAI)











