JKN Hadir di Tengah Keterbatasan, Dinisya Bersyukur Bisa Berobat Tanpa Biaya

JKN Hadir di Tengah Keterbatasan, Dinisya Bersyukur Bisa Berobat Tanpa Biaya
JKN Hadir di Tengah Keterbatasan, Dinisya Bersyukur Bisa Berobat Tanpa Biaya (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Padangsidimpuan - Dinisya (63), warga daerah Bargot Topong, Desa Padang Bulan, Kecamatan Padangsidimpuan, sakit bukan hanya persoalan kondisi tubuh. Bagi seorang petani dengan kehidupan sederhana, biaya pengobatan juga menjadi kekhawatiran tersendiri.
Namun, kekhawatiran itu sedikit teratasi berkat kepesertaannya sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Beberapa hari lalu, Dinisya tiba-tiba mengalami sakit kepala disertai rasa dingin dan tubuh yang terasa sangat lemas. Kondisinya bahkan membuat dirinya hampir terjatuh ketika mencoba berdiri.
“Mulanya sakit kepala, dingin, tiba-tiba berdiri mau jatuh. Jadi pagi itu dibawa naik becak ke Puskesmas Batunadua,” ujar Dinisya.
Sesampainya di puskesmas, kondisi Dinisya semakin lemah. Tenaganya terasa seperti sudah habis hingga dirinya tidak mampu melakukan banyak hal. Melihat kondisi tersebut, petugas kesehatan kemudian memberikan rujukan agar Dinisya mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
“Sampai di puskesmas itu, rasanya saya sudah tidak ada lagi tenaga, tidak bisa apa-apa lagi. Kemudian saya langsung dirujuk ke rumah sakit ini. Sampai di sini aku tidak tahu lagi, tidak sadar. Waktu bangun, ternyata sudah dipasang infus,” katanya.
Dinisya telah menjalani perawatan selama kurang lebih tiga hari. Selama dirawat, ia mendapat pendampingan secara bergantian dari suami dan anaknya. Meski harus menjalani perawatan beberapa hari, Dinisya mengaku merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit.
“Kalau yang saya rasakan enaklah. Semua pelayanan dan perawatan baik, tidak ada yang mengecewakan,” sebutnya.
Menurut Dinisya, dokter secara rutin datang untuk memantau kondisinya dan menanyakan keluhan yang dirasakan. Para perawat juga dinilainya ramah serta sering memeriksa kondisi pasien.
“Dokternya datang, kadang pagi, kadang sore, ditanya apa keluhannya.Perawat-perawat yang datang ke sini pun baik-baik semua, sering datang melihat kondisi saya,” tuturnya.
Keinginannya untuk segera kembali ke rumah sempat disampaikan kepada dokter. Namun, dokter menyarankan Dinisya untuk tetap menjalani perawatan hingga kondisinya benar-benar membaik. Ia juga masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan oleh dokter paru.
“Semalam ditanya dokter bagaimana keadaan saya. Saya bilang sudah ada perubahan, lalu saya tanya apakah sudah bisa pulang. Tapi kata dokter belum bisa, karena besok mau diperiksa dulu sama dokter paru. Jadi belum boleh pulang, tunggu betul-betul sembuh dulu,” ujar Dinisya.
Hal yang paling membuat Dinisya merasa lega adalah selama mendapatkan perawatan, dirinya tidak pernah diminta membayar biaya tambahan.
“Enggak ada. Semuanya gratis,” katanya singkat.
Sebagai peserta PBI, Dinisya merasakan langsung manfaat JKN di tengah kondisi keluarganya yang serba terbatas. Suaminya saat ini sudah tidak lagi bekerja karena mengalami gangguan pada kakinya, sementara kebutuhan keluarga sehari-hari dibantu dari warung kecil yang mereka kelola di rumah.
“Namanya orang susah, terima kasih banyak itulah yang bisa kusampaikan kepada pemerintah. Tidak ada yang bisa kubuat untuk membalas semua ini, Tuhanlah yang membalas sama pemerintah,” ungkapnya dengan penuh haru.
Dinisya berharap Program JKN terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat yang membutuhkan dapat merasakan manfaatnya.
“Semoga tetap berlanjutlah BPJS ini, karena sangat berguna untuk kami yang tidak mampu. Terima kasih banyak kepada pemerintah,” tutupnya.
(ATS/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi