Bazaar Imlek Indonesia Chinese:

Mempererat Persaudaraan Sesama Warga Indonesia di Amerika

Oleh : Helmy Fenisia. Tahun 2014 merupakan tahun pertama kali saya merayakan Imlek jauh dari keluarga. Masih ingat kebiasaan keluarga yang selalu berkumpul untuk makan malam bersama di malam pergantian tahun (malam Sin Tjia). Banyak makanan disediakan, kue - kue, baju baru dan tak lupa angpau untuk yang lebih muda dan belum menikah.

Ketika saya membuka akun jejaring sosial maupun menelpon teman dan keluarga mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek, banyak yang bertanya pada saya bagaimana perayaan Tahun Baru Imlek di Amerika. Saya hanya tersenyum kecut. Tidak ada aroma dupa yang tercium hidung, tidak ada lentera atau lampion yang saya lihat di pusat perbelanjaan, tidak ada baju cheong sam yang bisa saya pakai. Saat itu saya benar-benar merasa kesepian dan rindu dengan suasana Imlek seperti yang selalu saya lalui setiaptahun bersama keluarga dan para sahabat.

Ketika suami saya pulang dengan membawa majalah Indonesia Media edisi medio Januari 2014 yang dia dapatkan dari seorang teman, mata saya tertuju pada sebuah iklan, Bazaar Imlek ICAA 2014 yang diselenggarakan pada 1 Februari 2014. Sebagai orang yang baru pertama kali datang ke Amerika dan jauh dari keluarga, di hari raya Imlek ini tentu even tersebut dapat mengobati rasa rindu pada keramaian perayaan tahun baru lunar yang jatuh pada 31 Januari 2014 menurut penanggalan umum. Untunglah meski jauh dari tempat tinggal, suami dan teman-temannya berkenan mengajak saya untuk melihat-lihat even tersebut.

ICAA sendiri merupakan singkatan dari Indonesian Chinese America Association. Karena ini adalah perkumpulan Indonesia Chinese Amerika maka tidak heran jika Bazaar Imlek ini banyak dihadiri oleh orang Tionghoa Indonesia yang tinggal di Amerika khususnya Los Angeles dan sekitarnya. Bazaar Imlek ICAA 2014 merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan untuk merayakan Tahun Baru Imlek di Southern California - Amerika bagi warga Tionghoa Indonesia.

Tahun ini merupakan tahun keenam belas. Salut! Bekerjasama dengan pihak KJRI-LA, bazaar ini juga menyediakan pelayanan pasport untuk warga Indonesia yang ingin memperpanjang pasport, melaporkan diri, atau membuat pasport baru. Selain itu banyak stand makanan khas Indonesia. Bagi yang rindu nasi padang, nasi remes, lontong sayur, pempek, bakso, sate ayam, sate daging , es koteng, es cendol, martabak dan banyak lagi lainnya tersedia.

Bukan itu saja, stand asuransi, stand souvenir, stand minuman ringan, stand batik, stand foto, stand makanan ringan khas Indonesia, bumbu-bumbu juga dijual di sana. Selain itu ada iringan band yang menghibur pada pengunjung. Lagu-lagu lawas ditembangkan dengan merdu sehingga pengunjung tidak merasa bosan, bahkan ketika lagu dan musik gembira dibawakan banyak pengunjung ikut bergoyang.

Pada bazaar ini panitia mendapat kunjungan tamu kehormatan antara lain U.S. Conggresman, Ed Royce, Walikota Walnut, Mary Hsu, Konsul Jendral RRT dan mantan Pang Dam Jaya, May.Jen.Purn. Darpito yang sengaja mampir dari Jakarta.

Yang paling menarik bagi saya adalah atraksi barongsai yang pemainnya masih berusia muda dan bukan dari kalangan etnis Tionghoa saja. Beberapa bahkan orang bule. Mereka adalah siswa dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi.

Menurut Bapak Dr.I. Irawan selaku ketua panitia sekaligus Editor in Chief Indonesia Media, grup barongsai ini dipimpin oleh Rofi yang merupakan murid dari Bryant, putera Bapak Irawan yang saat ini sudah mengundurkan diri dari grup ini dikarenakan kesibukan sekolah.

Meski pun para pemain barongsai masih muda dan bukan dari etnis Tionghoa saja tetapi penampilan mereka boleh dibilang sangat atraktif dan menghibur. Terbukti banyak pengunjung yang member angpao berkali-kali sambil tertawa senang. Pemain barongsai juga tidak hanya beratraksi di satu tempat tetapi mereka berkeliling di arena bazaar untuk menghibur dan mendapatkan angpau.

Melihat antusias para pengunjung terhadap atraksi tersebut saya berharap dalam hati agar minat anak muda khususnya remaja dan pemuda Tionghoa Indonesia di Amerika untuk melestarikan budaya Barongsai sebagai ciri khas budaya Tionghoa akan terus berkembang.

Selama beberapa jam berada di arena Bazaar Imlek ICAA 2014, saya memperhatikan banyak sekali pengunjung yang datang. Bahkan menurut data dari panitia setiap tahunnya bisa menyerap pengunjung sekitar tiga ribu sampai empat ribu orang. Pengunjung bukan saja warga Tionghoa Indonesia tetapi juga dari berbagai etnis Indonesia yang tinggal di Amerika. Hal ini mencerminkan toleransi yang berkembang dan terus tumbuh di mana pun kita berada.

Selain itu terlihat juga pengunjung bule yang rela antri untuk menikmati makanan khas Indonesia. Well, kita harus bangga dengan keberagaman yang ada di tubuh bangsa Indonesia.

Semoga ICAA terus berkembang dan mengadakan even-even lain untuk mempererat persaudaraan sesama warga Indonesia di Amerika.***

()

Baca Juga

Rekomendasi