Oleh: Jekson Pardomuan. Amsal 2:1-2 : “Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian. Ayat 6 “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” Amsal 3:16 menuliskan “Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.”
Berbicara tentang pribadi yang berkualitas, berkenan dan selalu berpengharapan kepada Tuhan akan mendapat ketenangan dalam hidupnya. Karena, biasanya orang-orang seperti ini akan hidup dalam kesederhanaan dan tidak menjadi hamba uang atau terlalu ambisius untuk mendapatkan harta berlimpah-limpah. Untuk menjadi pribadi yang berkualitas mungkin terasa cukup berat bagi kita, apalagi bagi kita yang masih berusia muda.
Menjadi pribadi yang berkualitas berarti ada kata kualitas di dalamnya. Berbicara tentang kualitas, sadar atau tidak kita mengakui kalau hal itu telah menjadi sebuah kebutuhan dasar yang dicari oleh semua orang, bahkan kita belajar di bangku kuliah juga dalam rangka memperoleh kualitas dan pengakuan. Pada masa sekarang ini, sangatlah sulit bagi kita untuk menemukan sosok pribadi yang berkualitas.
Di tengah situasi seperti sekarang ini, sebagai ilustrasi saja. Ada banyak perguruan tinggi yang terus berpacu untuk meningkatkan kualitasnya. Walaupun di satu sisi ada juga beberapa kampus yang mengejar kuantitas dulu baru seiring waktu berjalan mereka membenahi kualitasnya. Kata kualitas mengacu kepada sesuatu atau seseorang yang memiliki nilai positif dan khusus, yang biasanya ditampilkan dalam bentuk integrasi dari kredibiltas seseorang atau sesuatu tersebut.
Pribadi yang berkualitas adalah pribadi yang tidak hanya berkualitas dalam bidang keilmuan saja, tapi juga perilaku hidupnya, penampilannya, cara bicaranya serta nilai-nilai yang melekat di dalam dirinya. Permasalahan kredibilitas dan tanggungjwab juga sanagt erat kaitannya dengan perkataan berkualitas.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang berkualitas. Tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah : kualitas yang seperti apakah yang harus dimiliki oleh orang percaya ? Kita semua mengetahui bahwa setiap manusia yang hidup tidak pernah bisa lepas dari yang namanya relasi, dan kita tahu bahwa relasi yang ada terbagi menjadi dua bagian yang besar yaitu : relasi internal dan relasi eksternal. Relasi internal adalah relasi yang yang terjadi antara seseorang dengan dirinya sendiri, sedangkan relasi eksternal adalah relasi yang terjadi antara seseorang dengan pribadi diluar dirinya sendiri.
Ibrani 13:5 mengingatkan kita “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Kemampuan seseorang dalam menjaga diri sendiri pastilah berbeda-beda. Kalau diri sendiri saja tidak bisa dijaga bagaimana mau memiliki hubungan dengan manusia di luar diri kita sendiri ? Alkitab memberikan banyak contoh kepada kita tentang pemuda yang memiliki kualitas, tapi sangat sedikit dari mereka yang menyerupai keberadaan Daniel. Daniel adalah perwakilan dari keberadaan kita sebagai orang muda pada masa itu, dia adalah seorang muda, seorang pelajar dan seorang yang takut akan Allah.
Daniel bisa menggunakan kemampuannya pada saat yang tepat, dia tahu kapan saat yang tepat menegakkan imannya dan saat yang tepat untuk menggunakan pengetahuannya, tapi keduanya itu berjalan didalam kebergantungannya kepada Allah. Penggabungan dari kedua kualitas ini juga membuat Daniel menjadi pribadi yang selalu diperhitungkan dan dipertimbangkan keberadaannya dalam tiga pemerintahan yang secara runtut bergantian, yaitu kerajaan Babilonia, kerajaan Media dan Kerajaan Persia.
Sebagai orang percaya kita memiliki beberapa alasan yang membuat kita perlu menjadi sosok yang berkualitas, pertama adalah memancarkan citra dari Kristus dengan secara terus menerus memperbaharui iman dan ilmu, bersaksi kepada dunia untuk menjadi garam dan terang menyerukan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan dan kebenaran. Menjadi pribadi yang berkualitas juga harus memiliki pola hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.
Jangan jadi hamba uang atau menjadi sama dengan dunia ini, mementingkan diri sendiri dan berusaha untuk mencari kesempatan dalam memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Sebagai orang percaya, kita juga akan menghadapi tantangan dari dunia, yang menghalangi berkembangnya kualitas. Kita tahu bahwa di atas dunia ini berlaku hukum “siapa yang kuat dialah yang bertahan”, hal ini berarti bahwa setiap orang yang tidak bisa berdiri tegak dalam kompetisi akan tersingkirkan. Kualitas membuat kita sanggup untuk menghadapi semua jenis tantangan ini. Dengan kata lain, mereka yang memiliki kualitas akan bertahan sedangkan mereka yang tidak memilikinya akan dikalahkan dan tersingkir.
Untuk menjadi pribadi yang berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk ahli dalam sebuah bidang tertentu juga memiliki tahapan-tahapan. Seorang perenang tidak lantas jadi juara renang ketika dia hanya mempelajari buku-buku tentang berenang, akan tetapi harus terjun langsung ke kolam renang dan merasakan seperti apa sesungguhnya gaya-gaya renang yang dipelajari.
Seiring waktu berjalan, menjadi pribadi yang berkualitas harus menjunjung tinggi yang namanya kejujuran, kepercayaan dan selalu membentengi diri dengan iman yang kuat. Berjiwa besar dan selalu memiliki keinginan yang tulus dalam membentuk kepribadiannya hingga semakin matang dan dipertimbangkan.
Pengkhotbah 2 : 26 "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah.”
Amin.











