Oleh: Nevatuhella
MENURUT pengamat, Damiri Mahmud dan Melayu ibarat dua sisi koin yang tidak dapat dipisahkan. Karyanya baik puisi, cerpen, novel dan esainya, seratus persen berkonstruksi resam alot Melayu. Bahkan dalam kesehariannya, ayah empat anak dan atok tujuh cucu ini, sangat-sangat bersahaja.
Tertib, selalu takut salah dan menghindari hal-hal yang meragukan. Bergaul di luar pun menjadi tidak sehat baginya. Warung minum atau kedai kopi, ibarat penyebar kuman baginya. Sebagai anak Melayu, dia sangat taat menjalani rukun hidup orang Melayu yang ditandai dengan berbelas kasih pada sesama. Hormat kepada yang lebih tua.
Dalam catatan proses kreatifnya, Damiri mengakui kalau dia terlambat masuk ke dunia tulis menulis, khususnya sastra. Begitu puisi-puisi awalnya muncul di antalogi Kuala, terbitan Dewan Kesenian Medan, 1976, Wilson Nadeak langsung membabatnya.
Tak tanggung, telaah Wilson dimuat di Horison. Ironinya, sejak saat itu, Damiri dikukuhkan sebagai penyair. Selanjutnya, dia melenggang selama hampir empat puluh tahun berkarya. Hasilnya memang ratusan puisi, puluhan cerpen, dan ratusan esai ditulisnya.
Tahun lalu, Yayasan Lontar Indonesia mengikutsertakan beberapa puisinya untuk di terjemahkan dalam bahasa Inggris. Saat ini bukunya Rumah Tersembunyi Chairil Anwar sedang diproses penerbitannya.
Damiri menulis berbekal cerita nenek, kehidupan dalam keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya, Hamparan Perak. Dia merekam apa yang dilihat dan dirasakannya.
Cerpen-cerpen karya awalnya: Jaman Pakuasi, Lelang, Kupon Getah, Tok, cerita jalan hidup yang dilaluinya di akhir masa kekuasaan Belanda dan awal-awal kekuasaan Jepang. Puisi Kami Kau Halau Ke Lembah-lembah ke Rumah Rimau bisa dikatakan sebagai puncak pengakuannya mewakili puak Melayu yang terpinggirkan saat ini. Pemerintah memang kurang nyaman baginya.
Sebagaimana bahasa Melayu yang telah mempersatukan suku yang ada di kepulauan Nusantara ini, Damiri selalu memberi isyarat agar dikembalikan lagi ke posisi semulanya. Sesudah bahasa itu menjadi alat pemersatu (Sumpah Pemuda tahun 1928), penamaan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, saatnya kini dikembalikan bernama Melayu kembali.
Damiri mengatakan para ahli bahasa tidak mengenali yang namanya bahasa Indonesia. Bahkan Majalah Pantau, yang pernah terbit beberapa nomor, sebagai media Jurnalisme Sastrawi, menyebut majalahnya berbahasa Melayu, agar mendunia.
Sampai saat ini, di usia 70 tahun (Damiri lahir 17 Januari 1945), Damiri masih sesekali menulis. Mengkritik puisi-pusi penyair muda yang terbit di media Medan.
Para anak muda ini merasa lebih percaya diri kalau puisi-puisinya sudah dikritisi oleh Damiri. Sudah merasa naik kelas dan bisa tegak berjalan di Taman Budaya Medan, tempat berkumpul sastrawan Sumatera Utara. Damiri memang salah seorang kritikus sastra asal Sumatera Utara yang diakui sesepuh sastrawan Indonesia.
“Pandai kau nulis ya.” HB Jassin pernah memuji Damiri muda yang saat itu karya-karyanya mulai dimuat di Horison dan koran ibukota. Saat itu juga, Paus Sastra Indonesia itu menepuk-nepuk bahu Damiri, dan merangkulnya.
Kalangan universitas tetap selalu menghadirkan Damiri dalam kegiatan budaya. Terlebih dalam konteks budaya Melayu. Sebagai budayawan, laki-laki bertubuh kurus berwajah teduh ini hampir bisa dikatakan tak meyakinkan sebelum dia berbicara di podium dalam diskusi. Pembawaannya lemah lembut dan selalu menghindari basa basi yang tak berguna.
Pernah pada suatu kesempatan diskusi, seorang ibu guru menanyakan pada Damiri, bagaimana kalau isterinya meminta uang belanja padanya. Apa dengan kata-kata puitis juga? Damiri hanya bisa menjawab dengan senyuman. Bulan Oktober 2014 yang lalu, dalam rangka Bulan Bahasa, Damiri diundang sebagai keynoote speaker membicarakan ahli tata bahasa Sumut, Alm. Sabaruddin Ahmad.
Damiri mengakui memang akhir-akhir ini, ada kejenuhan sesekali muncul. Dalam kesempatan silaturahmi beberapa seniman Medan ke kediamannya akhir Desember lalu.
“Apa-apa dirasa hambar! Saya hanya bisa membaca Al-Qur’an kalau jenuh muncul” akunya.
Beberapa undangan ditolaknya di tahun 2014. Salah satu undangan khusus Radhar Panca Dahana, Desember lalu, dalam rangka “Dialog Mencari Rumusan Baru Budaya Indonesia”. Dengan berat hati ditolaknya. Dokter mengatakan ia tak bisa bepergian jauh, terlebih naik pesawat. Untuk kegiatan fisik, Damiri mengatakan pula setiap pagi mengerjakan ladangnya mengurangi kejenuhannya.
Romantika Masa Orba
Tahun 1979, Damiri dipilih menjadi pengurus Dewan Kesenian Sumatera Utara. Bertahan hanya setahun. Keputusannya mengundurkan diri karena tak bia menyesuaikan diri dengan pengurus lainnya, yang berasal dari bermacam bidang seni.
“Saya hanya menekuni sastra, tidak yang lainnya” aku Damiri. Kalangan atasan mengatakan padanya waktu itu “Betullah kau Melayu!”.
Ini cerita Damiri yang selalu dikenangnya. Dia sepertinya memang memilih berfikir dan bekerja keras untuk sastra dan keperluan hidup keluarganya. Pagi mengajar di sekolah negeri dan swasta. Sore bertani. Menulis disempat-sempatkan, sebab memang merupakan kebutuhan jiwanya. Oksigen bagi hidupnya sebagai penyair.
Dimasa Orba, dia melahirkan cerpen-cerpen protesnya yang cerdas. Ditulis dengan kehati-hatian. Patung, Gua, Rumah Pangsa, Cacat, Selasa, Gelombang, Bayangan, cerpen-cerpen yang legendaris. Realitas cerita terbungkus kardus keindahan bahasa. Sekalem senyum pak Harto yang berkuasa saat itu dimunculkan pada tokoh-tokohnya yang berdarah dingin.
Manusia dengan pernik-pernik jiwanya, lusuh dan amoral, tak puas, gila kekuasaan menjadi thema cerpennya. Membacanya di waktu ini, tak ubah membaca sejarah kelam anak bangsa sesudah kemerdekaan. Kita tak dan belum bisa lolos dari macam-macam kerakusan manusia yang katanya sebangsa. Sampai kini, kita tahu, jamur kekuasaan Orde baru masih bergentayangan di jagad Nusantara.
Menghormati Keterbatasan
Tidak menulis puisi atau cerpen lagi saat ini bagi Damiri hal lumrah. Saya menghormati keterbatasan saya, selalu dikatakannya sejak dulu. Pengaruh hal ini yang membuat dia bersikap revolusioner terhadap sesiapa yang coba menggugat fitrah ini.
Visinya sebagai penyair memang bukan sebatas menisik kain yang koyak saja. Coba menghentikan kokang pelatuk para penjahat, penghkianat kehidupan. Manusia bisa lebih suci dari malaikat. Sebaliknya bisa keji, muntahan para iblis yang bergelantungan di pohon-pohon kerakusan dan kekuasaan.
Atas nama menyelamatkan bumi dan manusianya, ini semboyan mereka yang berkuasa. Kuasa kapitalisme punya daya rusak yang akut. Penyair terpinggirkan. Tak lagi bertahta sebagai empu. Pewarta yang murung sajalah jadilah penyair.
Melayu Orang Laut
Terhadap Melayu yang agung, sikap dan pandangan Damiri berbeda jauh dengan pandangan umum. Terutama apa yang terjadi di Sumatera Utara. Bahwa yang disebut orang Melayu, Damiri menolak sebatas para bangsawan.
Melayu yang dulu jaya adalah orang-orang yang tinggal di tepi-tepi laut Nusantara. Mereka yang membangun bandar-bandar dan berperang mengusir pendatang yang coba menetrasi Nusantara. Melayu lewat bahasanya sebagai lingua franca menguasai perdagangan.
Belanda mengetahui hal ini, Melayu kuat di Nusantara, makanya habis-habisan ingin memusnahkannya.
Kekuatan modal dan teknologi memundurkan kejayaan Melayu. Idris Pasaribu merekam dengan manis sisa-sisa orang laut di perairan Sibolga, dengan novel Pincalang. Sebuah buku juga dipersembahkan Shafwan Hadi Umri berjudul Manusia Bandar yang mengupas Melayu secara tuntas. Perlu memang Melayu di kembalikan marwahnya sebagai satu sistem masyarakat yang ideal. Terlebih bila dikaitkan dengan mayoritas mereka yang Melayu Islam.
Seperti yang diyakini Damiri, Melayu sebagai sistem masyarakat baik dan memungkinkan kesejahteraan merata. Dia menolak dengan tegas mitos-mitos Melayu yang dijadikan Belanda selama ini sebagai alat penghancurnya. Ikon Melayu yang egaliter sudah dipraktekkan oleh jiran kita Malaysia. Melayu disana jaya, dan heran melihat Melayu Indonesia. Persoalannya apakah karena kita dulu dijajah Belanda, mereka di jajah Inggris?
Tujuh puluh tahun Damiri Mahmud, terlalu sedikit yang bisa ditulis dalam catatan kecil ini. Selamat ulang tahun!
Penulis; esais berdomisili di Tanjungbalai, Sumut











