Berladang di Punggung Mahasiswa

Oleh: Arbi Syafri Tanjung

Tak ondak. Tak Ondak aku lagi yang kuliah ni

Tangannya terus memasukkan se­gala jenis pakaian ke dalam tas hi­tam. Biasanya hanya berisi buku, diktat dan laptop serta cermin seukur­an telapak tangan balita. Baju tidur, rok, jilbab, baju kaos, pakaian dalam masuk secara bergantian dengan hen­takan sembarangan. Tak beratur­an. Pakaian-pakaian itu asal saja su­sunannya. Berantakan.

Kumandang adzan magrib baru sa­ja terdengar. Suara itu seakan tak sampai lagi ke telinganya. Meski ja­rak kamar kost dengan mesjid ha­nya di batasi oleh dua rumah tetangga. Rumah bang Dirman dan Warung Buk Eni tempat dia dan kawan-kawan kost biasa berbelanja.

Jemarinya terus bekerja di antara lemari baju dan tas. Bahu turun naik, seperti menahan sesuatu yang berat. Usaha untuk menahan semua itu, la­hirkan dengusan nafas tak beratur­an. Persis seperti suara nafas usai la­ri sprint kecepatan tinggi.

Semakin dia berusaha menahan, semakin jelas suara dengusan. Tepat di pangkal kerongkongan terasa ada yang membentengi. Layaknya pintu yang tertutup rapat, tanpa celah. Sir­kulasi udara seakan berhenti mele­wa­ti kerongkongan. Tekanan itu se­makin kuat saja, apalagi bila ingat­annya hadirkan peristiwa di ruangan dosen tadi siang. Gerak tangan cepat dan tergesa-gesa. Sesekali dia gigit bi­bir bawahnya. Gigitan yang juga di­gunakan untuk menunda airmata yang sejak tadi memaksa untuk keluar.

“Kenapo kau Zira?” Tanya itu berulang kali terdengar. Berulangkali pula tak mendapat jawaban apa-apa. Sejak tanya yang tak punya jawaban di magrib itu. Sejak itu pula Zira tak lagi menjadi penghuni kost. Hampir sebulan kabut asap kirim rasa pedih mata dan sesak hidung orang-orang di Medan.

Pedih dan sesak itu bercampur da­lam dada dan langkah Zira ketika ia melewati pintu dan teras. Tampak tas hitam tersandang dipunggung­nya, tangan kirinya menenteng kan­tongan plastik hijau. Melangkah tanpa tinggalkan cerita apapun, kecuali uca­pan pamit pada empat perempuan yang menjadi teman kost sejak empat belas bulan lalu. Selebihnya lagi Zira membawa rapi ingatan tentang peris­tiwa yang ia alami di ruang dosen.

* * *

“Apa benar ada jurusan dan dosen sebuah perguruan tinggi seperti itu?”

“Apakah benar pak?”

Laki-laki berbadan atletis itu di­am. Pandangan matanya ragu untuk mengarahkan  ke bola mata wanita ber­mukena di hadapannya. Wanita langganan pelintas didepan rumah­nya. Sesekali bertegur sapa bila ber­temu. Kaki wanita tua ini biasanya akan menapaki tanah sepanjang gang dari rumahnya ke mushalla tiap waktu shalat tiba.

Khusus magrib dia akan melintas ketika suara ngaji mulai terdengar da­ri toa. Pulang ke rumah setelah me­nunaikan shalat Isya. Malam ini berbeda. Dia tak langsung pulang ke rumah, tapi singgah dan bercerita di sini, di rumah lelaki berbadan atltetis. Seperti ada yang ia cari. Penuh pena­sa­ran. Pemilik rumah ini ia simpulkan sebagai orang yang tepat untuk membantu menemukan sesu­a­tu yang sedang dia cari.

Dua minggu lalu, dia men­de­ngar cerita. Mimpi dan hara­pan untuk kuliah  biaya murah diperguruan tinggi negeri itu tidak benar. Tidak seperti iklan di televisi yang sering dia lihat. Apalagi cerita yang dia dapat­kan ini, hanya mengundang ta­nya dan terus mengundang ta­nya. Tanya itu pula yang me­ng­arahkan kakinya untuk ber­tandang ke rumah ini.

“Benarkah ada dosen men­ju­al buku pada mahasiswa pak?”

“Wajib dibeli katanya Pak?”

“Benarkah harga buku yang dijual dosen-dosen itu bi­sa mencapai tiga kali lipat dari harga sebenarnya pak?”

Pertanyaan mengalir lancar berhamburan dari lidahnya. Persis lancarnya dia melafaz­kan ayat-ayat Quran di mu­shal­la mengisi waktu dari Mag­rib menjelang Isya. Nama dibubuhi gelar M.Si pada papan di pintu masuk sang tuan ru­mah­, menjadi alasan mengapa tamu memilih rumah sebagai tempat bertanya. Pikirannya tiap orang yang bergelar M... serba tahu dan mau memberi tahu. Sekolah mereka sudah tinggi, sudah sarjana dua kali pikirnya.

Tuan rumah buka mulut mem­persilahkan tamu untuk men­cicipi segelas teh dan ane­ka jenis kue yang ada dalam toples.

“Oh ya bapak, apakah tu­gas-tugas kuliah itu bisa sesu­ka hati dosennya juga ya pak?”

“Jika ada kegiatan atau per­jalanan mahasiswa keluar kampus atau keluar kota yang terkait matakuliah seorang dosen, biayanya harus ditentu­kan dan dikelola dosen juga pak”

“Begitu ya pak?”

“Oh ya pak, katanya biaya yang sudah ditentukan tak perlu di jelaskan, pokoknya maha­sis­wa harus patuh untuk bayar saja ya pak?”

* * *

Bisikan istri, memutus pem­bi­caraan antara lelaki pe­milik ru­mah dan perempuan tua bermukena. Ucapan maaf dan alasan akan mengantar is­tri, mengisyaratkan si tamu mesti pamit. Jawaban atas ta­nya yang diajukannya tertun­da.

Perempuan itu pulang men­­jinjing sederet tanya. Su­dah dua minggu duduk rapi di­tempurung kepalanya. Sete­lah malam itu, tiap pulang Isya leher serta matanya, meman­jang dan mengarah tajam ke isi rumah tempatnya bertanya kemarin. Lampu teras dan ru­ang tamu rumah tersebut tak pernah lagi menyala. Gelap, hanya hitam saja yang tampak. Tak jelas ada atau tidak peng­huni rumah didalamnya. Gelap dan tak jelas jugalah jawaban dari tanya yang selalu lengket di pikir­annya. Pada siapa lagi pertanyaan itu pantas ditanyakan kecuali pada dia, begitu keyakinannya. Tiap dia bertanya keberadaan si bapak pada sesama jamaah dimushalla, mereka selalu menjawab, bapak itu ada dan belum pindah rumah.

* * *

“Pak, apakah benar begitu pak”

“Pak, benar ya pak?”

Muak dan bosan menyelimuti pikiran dan perasaan lelaki ini, sa­ma seperti ketika wanita di ha­dapannya bertanya pada malam itu. Minggu pagi ini, orang yang bertanya tetap sama. Dia perem­puan bermukena. Tak disangka pe­rempuan bermukena berhasil menemui untuk mencari jawaban atas tanya yang tertunda lima hari silam.

Dia terus bercerita serta berta­nya pada lelaki itu tentang apa yang dia dengar. Dia mendengar cerita orang dari kampungnya. Keponakan mereka disuruh men­cuci piring oleh dosennya. Piring, gelas serta sendok kotor yang di­gunakan para dosen tiap harinya. Mereka juga dijadwal secara ter­atur. Bergantian beberapa orang perhari. Waktunya sore hari. Me­reka yang disuruh adalah mahasis­wi penerima beasiswa bidiknasi. Alasannya karena mereka harus menunjukkan ke-loyal-an pada ju­rusan yang bersedia menerima mereka.

Perempuan bermukena juga men­dengar kalau hampir tiap do­sen mengajar keponakan orang kampungnya itu menjual buku dan wajib dibeli. Harga total buku-bu­ku dijual tiap dosen mencapai tiga ratus ribu. Hatinya semakin gelisah mendengar cerita perem­puan lawan bicaranya ini. Guma­man hati, ingin rasanya dia tutup dan sumbat rapat-rapat mulut pe­rempuan yang dari mulai duduk tak ada berhentinya.

Istri datang. Sekali lagi datang menghampiri lalu berbisik. Bisi­kan persis sama seperti malam itu. Ucapan maaf dari tuan rumah langsung ketelinga si perempuan bermukena.

“Maaf, saya ingin mengantar istri saya ke pasar” itu alasannya. Tanya yang sama belum juga ada jawabannya. Dia pulang. Pulang tanpa menemukan apa yang di­cari. Pulang menggendong teka teki. Penasaran terus mengekori­nya.

* * *

Dia tidak percaya, kalau dia akan melihat kejadian ini. Buah kancing baju batik bagian atas dia buka. Sambil berkipas dengan se­lembar kardus bekas kotak mi­numan mineral. Asap ketidakper­cayaan tebal menghalangi panda­ngannya pada kenyataan. Gerah udara, gerah pada apa yang baru saja dia saksikan.

Dia geser posisi duduk, na­mun kegerahan bukan semakin ber­kurang. Sebaliknya, kini rasa yang baru  telah datang, rasa takut. Takut kalau perempuan yang suka berteriak “tak ondak lagi aku yang kuliah ni” mengenalinya. Perem­puan yang baru saja dilihat banyak orang. Teriakan perempuan itu telah mengundang rasa ingin tahu tetangga termasuk para undangan pesta yang melintas. Lelaki yang gerah dan takut, adalah satu dari ratusan undangan yang ada di tem­pat itu. Jarak antara lokasi pesta dan rumah perempuan suka teriak itu hanya di batasi tiga rumah saja.

Hisapan rokoknya semakin tak beraturan. Dihisap tanpa dinik­ma­ti, lalu asapnya ditiup lagi. Ira­ma hisapan rokok senada dengan ingatan yang semakin kuat dan terus melekat pada sel-sel saraf­nya. Seperti sebuah video, reka­man telah diputar dan sulit untuk dihentikan. Wajah, nama dan satu kejadian tentang perempuan yang dilihatnya tadi tampak jelas hadir berputar dibenaknya. Setelah ber­usaha untuk dimatikan, ingatan itu berputar lagi. Hadir lagi.

“Jangan terlalu sombong ka­mu. Baju yang kamu pakai ini bu­kankah dibeli dari uang bea­siswa?”

“ Jadi kenapa kamu tidak mau mencuci piring? ”

“Bisa saja kami cabut beasis­wa­mu atau kami beri E nilaimu?”

Ucapannya sendiri pada satu ke­jadian, tiba-tiba terdengar jelas oleh telinga, hati dan pikirannya sendiri. Dia saja yang mendengar, tidak bagi orang lain yang ramai lalu lalang datang dan pulang dari lokasi pesta.

Dia juga ingat ucapan-ucapan­nya itu diikuti oleh gerak tangan yang memegang tepi lengan ka­nan baju lawan bicaranya. Gerak menegaskan, lawan bicaranya ha­rus sadar diri. Sadar akan ke­hadirannya, karena beasiswa bi­dik­nasi. Patuh dan loyal pada se­tiap perintah yang dikeluarkan oleh dosen dan jurusan, adalah mutlak. Termasuk jadwal mencuci piring.

* * *

Duduk tepat di belakang supir, sambil menunjuk ke arah jendela sebuah rumah. Terdengar suara

“Pa... pa lihat kakak itu teriak-teriak sendiri”. Dia hanya pura-pura tak mendengar saja, “dengar pa... apa arti yang dibilang kakak itu”.

Pedal gas semakin dia tekan, ke­cepatannya pun semakin ber­tambah. Meski sayup-sayup.  An­ta­ra teriakan pertama yang di de­ngarnya dan teriakan yang di de­ngar anaknya adalah teriakan yang sama.

Tak ondak, tak ondak aku lagi yang kuliah ni

Medan, Oktober 2015

()

Baca Juga

Rekomendasi