TEORI Banalitas kejahatan kembali menyeruak ke kesadaran umum setelah kelompok teror ISIS merajalela di Irak dan Suriah. Bagaimana manusia biasa mampu melakukan tindakan biadab dengan nurani yang bersih?
Selama berabad-abad pertanyaan ini telah mengundang perdebatan di kalangan filsuf, sejahrawan, moralis dan bahkan ilmuwan. Salah satu teori yang beredar adalah bahwa hampir semua orang bisa bertindak biadab jika diperintahkan.
Dibaptis dengan nama "banality of evil," teori ini awalnya mencoba menjelaskan kenapa penduduk Jerman yang berpendidikan dan bertingkah-laku baik kemudian ikut serta dalam pembantaian kaum Yahudi di Perang Dunia II.
Jika diperintahkan oleh figur otoriter atau sekedar didorong keinginan untuk bergabung dengan sebuah kelompok, manusia dalam catatan sejarah mampu membakar buku, menghancurkan rumah, memisahkan orangtua dari anaknya atau membantai satu keluarga, tanpa mencederai hati nurani sendiri.
Kini sejumlah psikolog menyuarakan sanggahan setelah menganalisa hasil eksperimen yang dilakukan lebih dari 50 tahun silam.
"Semakin banyak data yang kami kumpulkan dan semakin banyak kami membaca, maka semakin sedikit pula bukti yang mendukung teori banalitas kejahatan," kata Alex Haslam, Professor di University of Queensland di Australia.
Teori Banalitas Kejahatan berawal dari buku milik penulis Jerman berdarah Yahudi, Hannah Arendt terkait persidangan salah satu dalang Holocaust, Adolf Eichmann 1961 silam. Di dalamnya perempuan yang lolos dari cengkraman Nazi itu menggambarkan betapa penampilan Eichmann jauh dari bayangan seorang iblis, melainkan penduduk biasa.
Seorang psikolog Yale University, Stanley Milgram kemudian menjalankan sebuah eksperimen pada tahun yang sama.
Dalam eksperimen tersebut Milgram meminta proband berlaku sebagai seorang guru yang harus menghukum muridnya jika melakukan kesalahan.
Proband lalu ditutup matanya dan diperintahkan mengaktifkan alat penyetrum setiap kali murid dianggap bersalah. Diawali dengan tegangan sebesar 15 volt hingga 450 volt yang mematikan. "Guru" tidak melihat murid, ia cuma mendengar suara teriakan dan kesakitan.
Tentunya murid dan hukuman listrik itu cuma adegan bohong belaka. Milgram ingin mengetahui apakah proband yang berjumlah 800 orang itu bersedia menyakiti orang lain demi tujuan yang dianggap mulia, yakni demi ilmu pengetahuan.
Hasilnya dua pertiga proband sanggup menghukum murid dengan tegangan tertinggi, yakni 450 volt. Dan sebagian besar tidak mengalami stress atau frustasi, melainkan perasaan positif dengan kesadaran telah melakukan sesuatu yang benar.
Drama
Kini sekelompok psikolog menganalisa ulang hasil studi tersebut. "Milgram adalah psikolog dan pembuat drama yang sangat cakap," kata Kathryn Millard, professor di Macquire University, Sidney.
"Isu etika di sini lebih rumit dibanding dengan yang disangka orang," kata Haslam.
"Milgram secara aktif meringankan beban partisipan dengan membuat mereka meyakini ideologi yang berbahaya, yaitu kesediaan melakukan hal keji demi ilmu pengetahuan."
Stephen Reicher, professor di University of St. Andrews di Skotlandia mengatakan, kendati orang biasa mampu melakukan tindakan biadab, bukan ketidakmampuan berpikir yang menjadi penggerak utama, "Kami berpendapat, orang mengetahui apa yang mereka lakukan adalah tindakan keji, tapi mereka meyakini tindakan itu adalah yang benar," katanya.
"Orang mengidentifikasikan dirinya dengan sebuah tujuan dan mereka meyakini bahwa otoritas adalah cerminan sah dari tujuan tersebut."
Anda hobi nonton film horor? Bayangkan kalau Anda sendiri yang menjadi korban pembunuhan mengerikan seperti dalam film “Friday the 13th Part VII - The New Blood.” Ilmuwan menjelaskan apa yang terjadi dengan tubuh sesaat sebelum mati di tangan pembunuh berkampak.
Video ini dibuat oleh para pakar kimia di American Chemical Society. Menurut mereka, perasaan saat menonton orang yang dikejar-kejar pembunuh berkapak di film horor, mirip dengan apa yang dirasakan sang korban dalam film. Hanya tidak sama intesifnya.
Pertama, penonton akan merasa takut yang memicu respon untuk bereaksi atau melarikan diri. Rasa takut dikendalikan oleh kluster neuron dalam otak yang membentuk PVT atau juga disebut sebagai thalamus. Bagian otak ini sangat sensitif terhadap stres dan berlaku sebagai sensor bagi ketegangan psikologis dan fisik.
Reaksi yang muncul dari rasa takut dipicu oleh kelenjar adrenal yang mulai memompa adrenalin. Efeknya: detak jantung meningkat, panca indera menajam, dan membuka akses ke sumber energi dalam jumlah besar untuk bisa menghadapi ancaman dengan taruhan nyawa.
Kadang ancaman yang datang sangat intensif, sehingga orang “membeku”. Ini bisa diintepretasi sebagai otak yang kewalahan untuk bereaksi, atau cara tubuh untuk tidak bergerak dan “bersembunyi” dari predator. Jika berhasil lari, Anda mungkin akan mulai berteriak.
Teriakan biasanya adalah bagian dari instink dan gunanya agar pihak lain merasa takut dan bereaksi. Jika pembunuh berkapak berhasil mengejar seseorang, tentu oran tersebut akan merasa sakit. Saat terluka, neuron yang disebut nosiseptor akan mengirim pesan ke otak yang dikumpulkan oleh thalasmus. Nosiseptor berusaha mengatakan kepada otak untuk melakukan semua hal agar tidak terjadi luka lagi.
Tapi jika setelah semua perlawanan dilakukan, Anda takluk di tangan pembunuh, Anda mati tergeletak di lantai. Para pakar kimia menjelaskan, "Saat ini Anda dianggap mati klinis." Tapi otak Anda masih bekerja.
Menurut penelitian baru-baru ini, otak sepertinya melewati semacam gelombang terakhir yang bisa dikaitkan dengan kesadaran. "Beberapa orang menganggapnya sebagai penjelasan pengalaman menjelang kematian." Akhirnya Anda akan mati secara biologis. (dwc/ar)











