Oleh: Ika Rahmadani Lubis.
Pada abad ke- 7 atau sekitar 1400 tahun silam, kita mendengar suatu persitiwa maha hebat dari tanah Arab. Peristiwa itu jauh lebih mengagumkan dari satelit ataupun benda-benda langit lainnya. Peristiwa itu dinamakan Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw.
Isra secara bahasa berasal dari kata “saro” yang berarti perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra’ adalah perjalanan Rasulullah bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (palestina), sebagaimana firman Allah Surah Al-Isra: 1 “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha…..”
Sedangkan mikraj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, mikraj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh Nabi Saw untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Najm: 13-18. “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad Saw) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Israk mikraj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Israk Mikraj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu.
Tinjauan Sains Modern
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra: 1 “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dari ayat tersebut tampak jelas bahwa perjalanan yang luar biasa itu bukan kehendak dari Rasulullah sendiri, tetapi merupakan kehendak dari Allah. Maka dari itu Allah mengutus malaikat Jibril as beserta dengan malaikat lainnya sebagai pemandu perjalanan tersebut. Dipilihnya malaikat sebagai pegiring perjalanan Rasululah dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan melintasi ruang waktu.
Asraa (memperjalankan)
Perjalanan Israk Mikraj terjadi karena Allah yang memperjalankan. Perjalanan tersebut merupakan perjalanan tercepat yang pernah ditempuh manusia. Diceritakan kecepatannya itu karena bahwa Rasulullah mengendarai Buraq menuju Masjidil Aqsha yang berlanjut ke Sidratul Muntaha. Buraq berasal dari kata burqun yang berarti kilat cahaya. Dalam perjalanan itu memang Rasulullah dibawa oleh malaikat Jibril yang asal malaikat itu sendiri adalah dari cahaya. Karena asal muasal kejadian malaikat dari cahaya maka malaikat bergerak dengan kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km perdetik atau delapan kali keliling bumi per detik.
‘Abdihi (hamba-Nya)
Para ahli tafsir sepakat bahwa dengan menggunakan kata ‘abdi memberikan isyarat bahwa perjalanan itu dilakukan Rasulullah sebagai manusia seutuhnya, jiwa dan badannya. Dari sinilah mulai muncul masalah dalam menjelaskan peristiwa Israk mikraj. Malaikat adalah makhluk cahaya di mana badannya tersusun dari partikel proton-proton yang sangat ringan. Karena itulah malaikat tidak mengalami kendala untuk bergerak dengan kecepatan cahaya yang demikian tinggi. Sedangkan Rasulullah adalah manusia, yang badannya tersusun dari atom-atom kimiawi, yang memiliki bobot, terdiri atas gabungan dari organ-organ, dan organ-organ itu terdiri atas sel-sel yang tersusun dari paertikel yang lebih kecil, yaitu atom dan ternyata atom juga tersusun dari pertikel sub atomic seperti proton, electron, neutron dan lain sebagainya. Jika materi yang berbobot (berat) bergerak dengan kecepatn cahaya maka aka nada dua kemungkinan yang terjadi dalam prhitungan fisika, pertama materi itu akan terbakar karena bergesekan dengan atmosfer dengan sanagt cepat, atau kedua materi itu akan tercerai-berai, terpisah-pisah menjadi pertikel-pertikel penyusunannya. Sehingga badan tercerai-berai menjadi organ-organ, sel-sel- atom, dan partikel sub atomik.
Salah satu skenario rekontruksi untuk mengatasi maslah di atas adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua kedua partikel tersebut bakal lenyap dan berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama. Teori ini bisa digunakan untuk menjelskan proses perjalanan Rasulullah pada tahap pertama ini. Agar Rasulullah dapat mengikuti kecepat Jibril, maka badan wadag Rasulullah diubah Allah menjadi badan cahaya.
Laila (malam hari)
Perjalanan cahaya itu dilakukan malam hari. Hal ini disebbakan karena cahaya membutuhkan kegelapan atau keadaan gelap. Pada malam hari pendengaran juga menjadi lebih tajam daripada siang hari, karena malam hari tidak mengalami interfrensi atau gangguan gelombang yang terlalu besar sehingga pendengaran di malam hari terdengar jernih. Pada malam hari suara dari kejauhan juga dapat didengar dengan jelas.
Minal Masjid al-Haram ilal Masjidi al-Aqsa (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa)
Allah memilih perjalanan itu dari masjid ke masjid karena masjid adalah tempat yang banyak menyimpan energi positif. Masjid dijadikan sebagai tempat ibadah umat Islam. Masjidil Haram menjadi tempat beribadah semenjak di bangunnya Ka’bah oleh Nabi Ibrahim bersama dengan Nabi Ismail. Meskipun pada saat itu Masjidil Aqsa hanya berupa sisa pondasi yang dulunya adalah bekas masjid Nabi Sulaiman (Solomon Temple). Di sekeliling antara dua tempat itu adalah tempat yang diberkahi sebagai asal mula peradaban.
Mikraj (Perjalanan menembus batas-batas langit)
Langit dalam al-Qur’an adalah kata yang serring disebut dengan bentuk tunggal samaa’, misalnya inna fii khalqis samaa’i wal ardhi. Terdapat ayat yang menyebutkan tentang tujuh langit dan tujuh bumi, seperti pada Surah at-Talaq ayat 12 “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah juga berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” Selain itu pada surah al-Muluk ayat 3 dikatakan ada tujuh langit yang tertumpuk-tumpuk. “Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?” Dan masih ada beberapa surah lainnya yang menjelaskan mengenai langit ketujuh. Namun yang dimaksdukan Mi’raj bukanlah hanya perjalanan ke angkasa melewati lapisan-lapisan atmosfer. Sebab jika manusia berpijak dari bumi ke angkasa menembus bintang-bintang sejauh apapun, sesungguhnya dia masih berada di langit pertama, yaitu langit dunia. Lantas dimanakah letak langit ke tujuh itu?
Jika kita memahami dengan seksama surah at-Tur ayat 38 yang memiliki arti “Atau apakah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan diantara mereka itu datang membawa keterangan yang nyata.” Selain itu dalam surah al-Jinn ayat 8 dijelaskan “Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.” Dan pada surah an-Naba ayat 18-19 “(yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditup, lalu kamu dating berbondong-bondong. Dan langitpun dibukalah, maka maka terdaptlah beberapa pintu.” Dari uraian ayat di atas, maka akan kita dapatkan gambaran bahwa ketujuh langit tersebut letaknya berdampingan, akan tetapi tidak bisa ditembus karena perbedaan dimensi. Tujuh langit tersebut adalah tujuh alam hidup berdampingan dengan perbedaan dimensional.
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Sumatera Utara dan Kru LPM Dinamika UIN Sumatera Utara.











