Oleh: Riduan Situmorang.
AKHIRNYA, Indonesia resmi mempunyai hari Sastra yang kita peringati setiap 3 Juli per tahunnya. Mengapa harus ada hari khusus untuk sastra? Seberapa penting sastra itu? Bukankah sastra umumnya imajinatif, tak nyata, mengada-ada atau bahasa kasarnya bohong-bohongan? Kalau bohong-bohongan, apa gunanya membaca buku-buku berbau sastra? Bukankah itu maksudnya dengan membaca sastra berarti kita belajar berbohong?
Joko Pinorbo pernah mengatakan begini: masa kecil kau rayakan dengan membaca; kepalamu berambutkan kata-kata. Tentu saja kalimat ini sangat tegas mendefiniskan, membaca dan buku itu sangat penting bagi kehidupan. Tidak hanya bagi kehidupan, buku itu bahkan menjadi penentu kemajuan sebuah bangsa.
Ketika jurnal dan jumlah buku terbitan Indonesia kalah dengan Malaysia, kita meringis yang lalu membikin terobosan instan: mewajibkan mahasiswa mendaftarkan jurnalnya.
Hasilnya? Oh, sangat mengerikan karena jurnal itu kini ibarat rongsokan, lantaran ditumpuk hampir tanpa seleksi memadai. Bagaimana kalau kita bandingkan dengan Amerika? Aduh, lebih baik tidak usah, nanti kita pening sendiri. Supaya tak terlalu jauh, apa sesungguhnya manfaat sastra secara umum pada kehidupan dan kemajuan?
David C. Mc Clelland pernah meneliti kemajuan sebuah bangsa. Kebetulan dia merupakan seorang psikolog sosial asal Amerika, tertarik pada masalah-masalah pembangunan. Dia membandingkan Inggris dan Spanyol yang kita tahu, pada abad ke-16 merupakan dua negara raksasa. Bedanya, sejak saat itu Inggris makin jaya, tetapi Spanyol malah melempem. Seperti David Mc Clelland, tentu saja kita bercuriga. Mengapa hal tersebut bisa terjadi dan apa-apa saja yang menjadi penyebabnya?
Sebagaimana dimuat dalam buku Arief Budiman yang berjudul Teori Pembangunan Dunia Ketiga (1995), akhirnya David Mc Clelland menemukan jawabannya. Ya, seperti tidak kita duga, faktor penentu itu ternyata ada pada muatan cerita buku. Kelihatannya, dongeng dan cerita anak-anak di Inggris pada awal abad ke-16 mengandung semacam virus yang menyebabkan pembacanya terjangkiti penyakit “butuh berprestasi” (need for achievement). Di sisi lain, cerita anak dan dongeng di Spanyol didominasi cerita romantis. Lagu-lagu melodramatis dan tarian yang justru membuat penikmatnya lunak hati, meninabobokan.
Jika kesimpulan David Mc Clelland benar, negeri kita tertinggal dalam dua hal. Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya lagi Malaysia. Ketertinggalan pertama, jumlah buku. Dulunya gap antara kita dengan Malaysia masih kecil. Kita masih disegani. Sekarang, kita sepertinya sudah seakan takluk kepada mereka. Hasilnya, pulau kita mereka rebut dan sekarang mereka masih saja mengintai dan bermanuver di perairan kita.
Kita? Oh, kita tampak linglung bahkan kapok terutama lagi ketika mereka mengklaim berbagai aset budaya kita. Berbagai produk sastra, budaya, seni yang konon dari negeri ini hampir-hampir mereka klaim. Tonton saja film kartun Upin dan Ipin. Bukankah cerita rakyat yang diceritakan di sana hampir semuanya juga pernah kita dengar? Ah, sudahlah, kita sudah tertinggal dan merapatapi ketertinggalan itu, tanpa berbuat banyak.
Ketertinggalan kedua adalah isi buku kita yang makin buruk. Ketertinggalan ini makin disayangkan lagi setelah terjadi pergeseran makna buku bagi kita. Dulu buku itu menumbuhkan kreasi dan imajinasi. Sekarang, buku itu telah berubah menjadi sekadar buku tulis dan buku pelajaran yang jumlahnya segudang.
Jangankan meningkatkan kreasi dan imajinasi, buku itu malah membebani karena kita membebani punggung anak-anak kita dengan membawa buku yang jumlahnya segudang. Artinya, otot siswa yang terlatih untuk membawa buku, bukan otak! Tragis bukan?
Ya, begitulah buku. Kelihatannya simpel, tetapi sesungguhnya dia memuat energi untuk membangkitkan kehidupan seperti Jepang yang kini kuat salah satunya dimotori oleh Komik Manga Captain Tsubasa. Bagaimana dengan perempuan?
Kebetulan, kami baru saja mementaskan Opera Batak Borua na i Duru Tao atau dalam bahasa Indonesianya disebut Perempuan di Pinggir Danau. Kalau saya tak salah, di buku tersebut mencuat kesimpulan, perempuan memegang peranan kuat dalam peradaban. Bahkan dikatakan, perempuan itu ibarat bumi yang menghidupi. Padanya, kita menyusui dan tanpa susu, anak-anak pasti kekurangan sesuatu.
Tanpa ibu yang sehat pula, mustahil ada anak yang sehat. Kalau ibu sudah tidak sehat, dipastikan generasi ke depan pun pasti tidak sehat. Ironisnya, negeri kita sepertinya kedodoran untuk ini.
Para perempuan kita pun sepertinya masih terstigmatisasi pada budaya kita yang patrelineal. Gerakan emansipasi wanita kita semakin terlambat dan melambat. Bukti keterlambatan ini, lihatlah, hampir seabad setelah Kartini, barulah kemudian muncul gerakan wanita, kemudian menyosor pada pembentukan Partai Wanita Rakyat yang didirikan Sri Mangunsarkoro pada tahun 1945.
Gerakan inilah yang mengilhami Gerwani. Selanjutnya, kita mengenal istilah PKK dan Dharma Wanita. Ironisnya, semua gerakan feminisme ini hanya semata simbol. Feminsime yang dirayakan melalui hari Kartini cukup-cukup dimakanai dengan kebaya.
Menjemput Kemajuan
Memang, dalam ranah politis, baru-baru ini ada semacam kesepakatan, wanita harus menududuki kursi DPR sebanyak 30% sebagai komplementer terhadap pemerkuatan kementerian pemberdayaan wanita. Ironisnya, prestasi perempuan mengalami terjun bebas. Salah satu, misalnya, lantaran tertangkapnya gubernur wanita pertama, Ratu Atut, sebagai tersangka korupsi mahadahsyat. Belum lagi wanita-wanita lain seperti Angelina Sondakh dan Miranda Gultom. Imbasnya, kursi perempuan di Senayan periode ini hanya 15% atau turun 3% dari periode sebelumnya.
Sekilas, tidak ada pengaruh kuat terhadap sedikitnya perempuan yang terpilih di Senayan. Masalahnya, siapa lagi yang akan memperjuangkan perempuan kalau mereka tidak banyak? Pria?
Saya tidak mencurigai, pria akan mendiskreditkan kepentingan wanita. Mari bersikap realistis. Coba lihat bagaimana kedudukan wanita pada pemerintahan masa mendatang! Apakah mereka dipandang?
Kalau kita melihat Nawa Cita-nya Jokowi-JK, sama sekali tidak ada disinggung masalah perempuan di sana. Padahal, kita menyadari, tanpa ibu yang sehat, mustahil ada anak yang sehat. Lagipula, kita sama-sama sadar, pemegang estafet negeri ini ke depan adalah anak-anak.
Pertanyaannya, bagaimana mendapatkan anak sehat yang suka membaca buku kalau ibunya tidak disuguhi program khusus? Ibunya saja tidak dididik membaca, bagaimana lagi ibunya akan mengajarkan anaknya membaca buku?
Ya, begitulah perempuan. Terkesan simpel, tetapi di balik merekalah sebenarnya tersimpan energi masa depan. Hal itu tidak berlebihan. Mungkin karena alasan pentingnyalah kedudukan wanita maka istilah yang feminis selalu digaungkan seperti sebutan ibu pertiwi, alma mater dan masih banyak lagi. Apabila kita ingin merawat peradaban dan memajukannya, seharusnya kita sudah memerhatikan keterdidikan perempuan.
Lebih penting lagi, kita harus menggelorakan semangat sastra pada perempuan sebagai wujud konkret dari gerakan feminisme. Dengan menggelorakan sastra, ibu-ibu akan mendongengkan dongeng inspiratif pada anaknya. Tak usah takut pada diktum, sastra adalah imajinasi yang tak nyata.
Einstein pernah berkata, logika membawamu dari A ke B, tetapi imajinasi dan sastra membawamu ke mana-mana. Anak-anak imajinatif seperti inilah yang akan menjadi inspirasi bagi kemajuan kelak. Jangan seperti sekarang, kita membiarkan anak kita larut dengan game-game online! Anak-anak seperti ini akan menjadi generasi manja ke depannya.
Penulis Pegiat Sastra di PLOt dan Penggagas Teater Z Medan











