Catatan Umrah di Akhir Tahun (2)

‘Berjumpa Rasulullah’ di Masjid Nabawi

ALHAMDULILLAH, kami tiba di Madinatul Munawwarah, yang dulunya bernama Yastrib. Tetapi setelah Rasulullah Saw hijrah dari Mekkah ke Yastrib akhirnya Yastrib berubah menjadi Madinatul Munawwarah atau Madinatul Rasul.

Di Madinah selain rombongan melaksanakan salat di Masjid Nabawi juga bisa berziarah ke makam Rasulullah Saw.

Dalam buku Muhammad: His Life Based on The Earliest Sources, Martin Lings penulis buku ini menjelaskan ketika masjid hampir selesai dibangun, Nabi Muhammad meminta dibuatkan dua bilik kecil. Bilik yang satu untuk tempat tinggal beliau dan bilik yang satunya untuk istrinya Aisyah. Tempat tinggalnya itulah yang hingga kini dilestarikan sebagai tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad bersama dua sahabatnya yaitu Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Awalnya Masjid Nabawi ini tidak terlalu besar, namun lama kelamaan karena dianggap tidak dapat lagi menampung jemaah akhirnya diperbesar seperti yang terlihat sekarang ini.

Salat di Masjid Nabawi ini nilai pahalanya berbeda dengan masjid-masjid lainnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salat di Masjid Nabawi pahalanya sama dengan 1.000 kali salat di masjid yang lain kecuali salat di Masjidil Haram pahalanya 10.000 kali dibanding dengan salat di masjid yang lain.

Ada tempat yang memang sangat diinginkan oleh setiap jemaah kita mereka salat di masjid ini. Tempat itu adalah Raudah. Tempat ini merupakan bagi dari Masjid Nabawi dan terletak sejajar dengan arah kiblat, yaitu antara mimbar dan rumah Nabi Muhammad Saw. Raudah diyakini sebagai tempat yang dimuliakan karena doa-doa yang dimohonkan di sini akan terkabul.

Tidak mudah memang untuk bisa salat di Raudah, karena banyak jemaah yang menginginkan untuk salat di sana. Karena itu, bila ingin salat di Raudah, tidak ada salahnya antri (menunggu) jemaah yang lain selesai melaksanakan salat di Raudah.

Bagi mereka yang belum pernah ke Raudah memang sedikit bingung, tetapi bagi mereka yang sudah pernah, maka untuk menandai bahwa tempat tersebut adalah Raudah, bisa memperhatikan ambal dari tempat tersebut. Jika ambal masjid berwarna hijau, maka tidak di sangsikan itulah Raudah, karena seluruh ambal yang ada di Masjid Nabawi berwarna merah. Selain itu juga bisa dilihat pilar-pilarnya yang berwarna putih dengan mozaik yang dicat warna hijau dan kuning emas.

Lalu kalau sudah di Raudah, apa yang harus dilakukan? Kita bisa salat sunat, lalu berdoa kepada Allah. Alhamdulillah, penulis sempat menikmati suasana Raudah tersebut, dan tentu saja penulis berdoa terutama untuk diri pribadi, keluarga dan handai tolan.

Tetapi ingat! Jangan lama-lama di Raudah, karena kita akan diusir oleh polisi masjid, mereka meminta kita untuk segera beranjak dari sana, mengingat banyak orang lain yang ingin berada di Raudah tersebut.

“hajji-hajji, ruh-ruh,” ujar mereka, yang artinya kira-kira haji, ayo pergi-pergi!.

Setelah selesai di Raudah, kita bisa langsung berziarah ke makam Rasulullah. Ucapan, “Assalamu’alaikum Ya Rasulullah, Assalamu’alaikum Ya Nabiyullah,” terucap dari bibir para peziarah. 

Di saat itulah kita membayangkan Rasulullah tesenyum dan menjawab salam kita, Wa’alaikum Salam. Menetes air mata ini, mengenang ketaladanan Rasulullah Saw. Ya serasa kita bertemu Rasulullah di Masjid Nabawi.

Tidak seperti dahulu, di mana jemaah tidak boleh mengabadikan dalam bentuk foto, tetapi sekarang hal tersebut tampaknya dibebaskan, sehingga banyak para jemaah yang berfoto selfi di depan makam Rasulullah. Larangan membawa kamera masih tetap diberlakukan, tetapi bagi mereka yang mempunyai ponsel berkamera maka larangan tersebut tidak ada, artinya jemaah bebas berfoto dengan menggunakan kamera ponsel.

Suasana damai begitu tampak terlihat. Banyak jemaah yang beristirahat menunggu masuk waktu salat. Ada yang membaca Alquran, berzikir dan ada juga yang tidur-tiduran.

Selain itu, para jemaah boleh saja mendengar kuliah agama. Kita bisa memilih guru (syaikh) mana yang kita ingin dengarkan pelajarannya. Asal saja kita memahami bahasa Arab.

Penulis juga sempat memperhatikan anak-anak Arab yang setiap hari menghafal Alquran dengan bimbingan para hafizh. Anehnya, anak-anak tersebut membaca Alquran secara berbarengan. Artinya ada yang membaca surat Al-Baqarah, Ali Imran dan lain-lain tergantung hafalan yang akan ia ‘setorkan’ kepada sang guru. Dan sang guru hanya mendengar bacaan mereka, dan jika ada salah satu yang salah membaca, langsung ia mengingatkannya. Artinya kalau dipikir-pikir bagaimana sang guru ini bisa mendengar keseluruhan banyak murid-muridnya yang serentak membaca hafalannya tersebut. Subhananallah.

Masjid Nabawi tidak hanya berfungsi untuk salat saja, tetapi ia juga berfungsi untuk pendidikan selain itu, masjid ini setiap Senin-Kamis menyediakan berbuka puasa bagi para jemaah yang melaksanakan puasa Senin-Kamis.

Rombongan umrah dari Gelora Indah Lestari (GIL) ini hanya berada 4 hari di Madinah, selain salat di Masjid Nabawi, jemaah juga diajak untuk mengunjungi beberapa tempat di Madinah seperti Percetakan Alquran King Fahd bin Abdul Aziz, Pasar Korma, dan beberapa tempat lainnya. (bersambung)

()

Baca Juga

Rekomendasi