“Memahami Karma Sebagai Penyebab Perbedaan dalam Setiap Individu“

Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa

Perbedaan-perbedaan besar yang terdapat di antara individu-individu setiap makhluk hidup, harus diakui bahwa semua fenomena fisik-kimiawi yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian adalah sebagai factor pembantu, tetapi tidak selu­ruh­nya mutlak sebagai penyebab.  Lalu bagaimana halnya dengan anak kem­bar yang memiliki tubuh serupa, me­wa­risi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan yang sama, se­ring­kali memiliki watak, moral dan ke­cerdasan yang sangat berbeda ?

Mengenai perbedaan-perbedaan watak, intelektual dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu di­perlukan pemahaman benar yang le­bih dalam. Teori keturunan tidak da­pat memberikan suatu jawaban yang memuaskan tentang lahirnya seorang kriminal dalam sebuah keluarga yang mempunyai leluhur terhormat atau kelahiran seorang cerdas atau mulia dalam sebuah keluarga yang memiliki reputasi jahat.

Menurut agama Buddha, perbeda­an-perbedaan ini tidak hanya disebab­kan oleh faktor keturunan dan lingku­ngan, tetapi juga disebabkan oleh kar­ma kita sendiri, atau dengan kata lain, disebabkan oleh akibat dari per­buatan masa lampau kita dan perbuat­an-per­buatan kita saat sekarang. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab atas per­buatan-perbuatan kita. Kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri. Sing­katnya, diri kita merupakan aki­bat da­ri karma kita sendiri.

Namun terlepas dari banyaknya per­bedaan- perbedaan yang ada pada setiap makhluk hidup, terdapat satu kesamaan dari semua makhluk hidup dari yang paling rendah  sampai yang paling tinggi, mereka semuanya meng­harapkan kebahagiaan sejati. Na­mun apapun yang kita harapkan, kita tidak dapat menghindari usia tua, penyakit, dan kematian, serta kerusa­kan dari apa yang kita miliki, kehi­la­ngan atas apa yang kita sayangi.

Baik umat awam yang dungu mau­pun siswa bijaksana, keduanya meng­alami kejadian ini. Perbedaannya ada­lah bahwa umat awam yang dungu tidak merefleksikan universalitas hukum ini, dan oleh karena itu, ketika kejadian ini terjadi pada dirinya , “ia berdukacita, bersedih , menangis , dan menjadi kebingungan.” Sebaliknya, siswa bijaksana menyadari usia tua, penyakit, dan kematian, kehancuran dan kehilangan, adalah kejadian alami; dengan demikian ia mencabut “anak panah dukacita yang beracun” dan berdiam dalam keseimbangan batin.

Apa yang ditekankan oleh Sang Bu­ddha sebagai titik awal dalam pen­carian kebahagiaan sejati berhubu­ngan erat antara kualitas etika dari perilaku kita dan pengalaman yang kita rasakan.

Perbuatan jasmani, ucapan, dan pi­kiran dapat dibedakan dalam dua ke­lompok besar, yaitu: yang tidak ber­man­faat (akusala) dan yang berman­fa­at (kusala). Sang Buddha mema­ha­mi bahwa apa yang tidak bermanfaat adalah sumber penderitaan, apa yang bermanfaat adalah sumber kebaha­giaan. Keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin mengarah pada ba­haya dan penderitaan, sedangkan pe­lenyapannya akan membawa kesejah­te­raan dan kebahagiaan. Oleh karena itu Beliau secara konstan mengajar­kan kepada para siswaNya agar ber­usaha dengan tekun untuk mening­galkan apa yang tidak bermanfaat dan mengem­bangkan apa yang berman­faat.

Semua perbuatan kita yang dite­ntu­kan secara moral menghasilkan su­­atu potensi untuk menghasilkan aki­­bat (vipaka) yang bersesuaian de­ngan kualitas etikanya, dan ketika kondisi-kondisi yang tepat bertemu, maka kam­ma menjadi matang dan menghasilkan buah yang bersesuaian, membawa ke­sengsaraan atau kebaha­giaan yang ber­gantung pada kualitas moral dari per­buatan yang menye­babkannya. Karma yang kita lakukan mungkin matang dalam kehidupan ini, dalam kehidupan berikut, atau beberapa kehidupan berikutnya. Satu hal yang pasti adalah bahwa selama kita me­ngem­­bara dalam lingkaran kelahiran kembali, timbunan karma kita mampu untuk menjadi matang dan mengha­silkan akibatnya. Oleh ka­renanya Sang Buddha meng­ajar­kan, lagi dan lagi, bahwa “makhluk-makhluk adalah pemilik karma me­reka, pewaris karma mereka; mereka me­miliki karma sebagai asal-mula­nya, kar­ma sebagai kerabatnya, kar­ma seba­gai pelindungnya; apa pun kar­ma yang mereka lakukan, baik atau buruk, merekalah yang menjadi pewarisnya”. 

Perbedaan dalam catatan karma me­nyebabkan keaneka- ragaman tak­dir orang-orang, yang secara konstan berputar dalam lingkaran kehidupan, muncul dan lenyap, kadang-kadang bergerak dari gelap menuju terang, kadang-kadang dari terang menuju gelap. Karma adalah penentu utama dalam kelahiran kembali. Karma tidak bermanfaat mengarah pada ke­la­hiran kembali yang tidak meng­un­tungkan dan akibat yang menyakit­kan, karma bermanfaat mengarah pa­da kelahiran kembali yang mengun­tungkan dan akibat yang menyenang­kan.

Kelahiran kembali tidak terbatas pada alam manusia, karena kamma ber­variasi dalam hal kualitas dan po­tensinya dan dengan demikian dapat menghasilkan kelahiran kembali di salah satu dari lima gati atau alam tujuan: neraka, alam binatang, alam hantu kelaparan, alam manusia, dan alam dewa.

Ketiga akar dari yang tidak ber­man­faat adalah keserakahan, keben­cian, dan kebodohan . Dari ketiga ini maka muncul kekotoran sekunder seperti kemarahan, permusuhan, iri hati, kekikiran, keangkuhan, dan ke­sombongan. Kemudian dari akar- akar dan kekotoran sekunder ini mun­cul pula perbuatan-perbuatan kotor yang berpotensi menghasilkan kela­hiran kembali di alam sengsara. Se­baliknya, karma bermanfaat adalah perbuatan yang berasal-mula dari ke­tiga akar bermanfaat: ketidak-sera­ka­han, ketidak-bencian, dan ketidak­bo­dohan, yang dapat diungkapkan de­ngan cara lebih positif sebagai keder­mawanan, cinta-kasih, dan kebijak­sanaan. Perbuatan- perbuatan yang muncul dari akar-akar bermanfaat ada dua jenis: duniawi dan melampaui keduniawian. Perbuatan-perbuatan ber­manfaat duniawi akan menghasil­kan kelahiran kembali yang mengun­tungkan di alam-alam yang lebih tinggi. Sedangkan yang  melampaui keduniawian  (lokuttara) – yaitu, kar­ma yang dihasilkan melalui praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan dan Tujuh Faktor Pencerahan meng­urai­kan keseluruhan proses sebab-akibat karma dan karenanya mengarah pada kebebasan dari lingkaran kela­hiran kembali.

Dengan menelusuri akar-akar pen­de­ritaan dan kebahagiaan kembali pa­da kehendak-kehendak kita, Sang Buddha menunjukkan bahwa kunci menuju kebahagiaan adalah latihan dan penguasaan pikiran. Dalam se­rangkaian sutta-sutta berpasangan, Beliau mengatakan bahwa tidak ada yang begitu mengarah pada bahaya dan penderitaan selain daripada pi­kiran yang tidak dikembangkan, tidak terlatih, tidak jinak, tidak terjaga, ti­dak terlindungi, dan tidak terkendali; dan tidak ada yang begitu mengarah pada manfaat besar dan kebahagiaan selain daripada pikiran yang dikem­bangkan, terlatih, jinak, terjaga, terlin­dungi, dan terkendali. Dengan demi­kian inti ajaran Buddha adalah pe­ngem­bangan dan pelatihan pikiran, yang sebagai hasilnya adalah bebas­nya pikiran dari penderitaan serta ter­capainya kebahagian sejati.

Dengan memahami pengaruh kar­ma melalui pikiran, ucapan, dan ba­dan jasmani sebagai penentu dalam hi­dup saat ini dan hidup yang akan datang, diharapkan kita selalu mawas diri dalam berbuat. Demikian juga menyadari  besarnya manfaat  dari pi­kiran yang dikembangkan, terlatih, jinak, terjaga dan terkendali maka kita sebagai insan yang mendambakan kebahagian sejati, hendaknya kita terus berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan latihan kita.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

()

Baca Juga

Rekomendasi