Agar Usaha Menjadi Ibadah

Oleh: Hj. Tjek Tanti, Lc, MA.

Allah Swt telah menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal manusia dan di bumi ini pula Allah menjadikan untuk mereka sumber penghidupan seperti hewan buruan, ikan, tanam-tanaman, biji-bijian, air dan sebagainya. Dalam alqur’an surah al-A’raf : 10 Allah swt berfirman, yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur”.

Namun demikian, untuk mendapat­kan penghidupan yang baik dan mendapatkan semua kebutuhan hidup, seseorang harus bekerja sungguh-sungguh. Untuk bisa makan daging seseorang haruslah berburu dahulu, jika ingin makan ikan harus ke sungai atau ke laut dahulu. Untuk bisa makan sayur atau buah-buahan haruslah bertani dahulu. Singkatnya, apapun kebutuhan yang diperlukan seseorang, dia harus bekerja agar tidak bergantung kepada orang lain. Dalam surah at-Taubah : 105, Allah swt berfirman yang artinya : Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pe­kerjaanmu itu, dan kamu akan dikem­balikan kepada (Allah) Yang Menge­tahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Bekerja dan berusaha mencari nafkah untuk diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita adalah sesuatu yang sangat mulia. Ikhtiyar yang kita lakukan untuk mencari rezeki hendaklah disertai harapan mendapatkan ridha Allah.

Berikhtiar dan bekerja mencari nafkah yang didasari dengan niat yang baik merupakan amal yang mulia dan bisa bernilai ibadah. Rasulullah saw sebagai panutan kita adalah orang yang giat bekerja. Sebelum rasulullah saw diangkat menjadi rasul, beliau pernah menggembala kambing untuk mem­bantu pamannya Abu Thalib. Beliau juga berdagang membawa barang-barang Siti Khadijah guna menafkahi hidup sendiri.

Kerja dan Ibadah

Agar kerja atau usaha yang kita lakukan dalam mencari nafkah bisa bernilai ibadah dan mendapatkan ridha Allah Swt, ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan :

Pertama : Mencari rezeki yang halal

Mencari rezeki merupakan tuntutan kehidupan. Namun seorang muslim juga harus mengetahui bahwa hal itu merupakan tuntutan agamanya dalam rangka mentaati perintah Allah Swt untuk memberi maisyah kepada diri sendiri, keluarga dan siapa saja yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Di masa rasul dan para sahabat, kaum muslimin sangat berhati-hati dalam mencari rezeki. Mereka sangat takut termakan makanan yang haram atau diperoleh dengan jalan haram. Dalam surah an-Nahl : 114 Allah berfir­man : “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.Rasulullah juga sudah mewanti-wanti kita agar berhati-hati, sabdanya : “Akan datang kepada manusia suatu masa dimana seseorang tidak lagi perduli dari mana ia menda­patkan harta, apakah dengan cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”. (H.R. Bukhari dan an-Nasa’i)

Prediksi Rasulullah Saw tersebut benar-benar sudah terjadi saat ini. Saat di mana kejahatan untuk memperoleh rezeki dilengkapi dengan berbagai fasilitas, maraknya perilaku yang meng­halalkan segala cara untuk mendapat­kan kekuasaan dan keka­yaan. Kekua­saan yang seharusnya menjadi alat yang sangat ampuh untuk menolak kemungkaran justru dijadikan alat untuk mempermudah kecurangan.

Kedua: Bekerja dan berusaha dengan benar, jujur dan amanah

Pada hakikatnya pekerjaan yang dila­kukan merupakan amanah , baik dari atasan atau pemilik usaha maupun dari Allah swt yang akan dimintai per­tang­gung jawabannya di dunia dan di akhirat. Implementasi dari jujur dan ama­nah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil se­suatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, objektif dalam menilai dan sebagainya.

Ketiga: Bekerja dengan ikhlas karena Allah swt semata

Bekerja bukanlah berbangga bang­ga dengan jabatan dan besarnya gaji. Bekerja mencari nafkah agar tidak menggantungkan hidup dengan orang lain, tidak mengharapkan belas kasihan dari para dermawan yang bisa jadi diberi atau tidak diberi. Dengan bekerja dan punya penghasilan sendiri, terlepas dari hinanya meminta-minta dan bahkan bisa membantu orang lain dengan bersedekah dan amalan harta lainnya seperti berzakat, berwakaf, mendirikan sekolah dan ikut andil dalam memajukan ekonomi umat. Dengan niat ikhlas, karena Allah semata akan menghindar­kan diri kita dari sifat tamak dan rakus. Kebanyakan mereka yang tamak dan rakus akan menumpuk numpuk harta mereka untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga.

Keempat: Tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja

Implementasi dari keikhlasan dalam bekerja adalah tekun dan sungguh-sungguh. Hadir tepat waktu, tidak meng­a­baikan dan menunda-nunda peker­jaan, menyelesaikan pekerjaan secara tuntas. Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda : “Sesung­guhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya”.(H.R. Thabrani)

Kelima: Tidak melanggar prinsip-prinsip syariah

Walaupun Islam menyuruh umatnya untuk bekerja, namun ada beberapa pekerjaan yang dianggap melanggar prinsip syariah yang tidak boleh dilakukan seperti memproduksi barang haram seperti pabrik miras, menye­barl­uaskan maksiat (pornografi dan prosti­tusi), praktek riba dan lain-lain. Semua yang diharamkan syariat tidak boleh dikerjakan untuk mencari rezeki.

Keenam: Tidak menunda-nunda dan melalaikan kewajiban kepada Allah swt

Apapun pekerjaan yang kita tekuni harus tetap menjaga kewajiban-kewa­jiban kita kepada Allah swt. Jangan di­karenakan sibuknya bekerja hingga tidak ada kesempatan untuk shalat, dikare­nakan butuh modal besar maka tidak membayar zakat dan tidak menu­naikan ibadah haji padahal mampu. Uang untuk bayar zakat dan biaya melaksanakan haji dipergunakan untuk keperluan memperbesar usaha untuk memperoleh keuntungan, namun akhir­nya tidak sedikit yang berakhir dengan kegagalan, bangkrut, ludes sehingga tidak bisa berangkat haji hingga ajal menjemput.

Ketujuh: Selalu bersyukur atas rezeki yang diperoleh

Syukur kepada Allah Swt adalah inti ibadah dan pokok kebaikan. Semua nikmat yang ada pada diri seseorang nam­pak atau tersembunyi semua berasal dari Allah yang harus disyukuri. Allah berfirman : “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Q.S : al-Baqarah : 152)

Selain cara-cara di atas, usaha yang kita lakukan dalam mencari rezeki tidaklah boleh menimbulkan kerugian kepada pihak lain seperti halnya memuji-muji barang yang dijual secara berlebihan padahal kualitasnya rendah. Juga tidak boleh melakukan ikhtikar atau penimbunan barang dagangan yang menyebabkan melambungnya harga lalu kemudian menjualnya. Demikian pula dalam hal mengurangi takaran maupun timbangan.

Dengan bekerja hendaklah kita da­pat menjaga perilaku dan akhlak. Meng­hindari hal-hal yang tercela seperti men­jegal teman kerja, manjilat atasan, meng­injak bawahan, menerima suap, korupsi, menipu, mengambil hak orang lain, juga bekerja sambil menggunjing dan lainnya yang tercela. Semua hal yang tercela akan merusak nilai-nilai ibadah yang seharusnya dapat kita raih dari aktivitas bekerja. Semoga kerja dan jerih payah kita dalam bekerja men­jadi ibadah yang diridhai Allah swt. Amin.

()

Baca Juga

Rekomendasi