Berburu “Durian Runtuh” di Belantara

Oleh: Muhammad Ali.

Orang yang mendapat rezeki nomplok dalam bahasa kiasan biasa disebut “mendapat durian runtuh”. Namun, dalam konteks non kiasan (non filosofis), Aceh Selatan saat ini benar-benar mendapat durian runtuh. Saat ini, di daerah tersebut tengah ber­langsung panen raya durian.

Setiap pohon di seluruh wilayah menghasilkan buah yang kemudian diangkut ke pasar. Bayangkan, akibat melimpahnya hasil, harga durian saat ini di Aceh Selatan hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp15.000/buah, tergantung jenis dan ukuran.

Pada saat begini, muncul pula bisnis dadakan, yaitu aneka jajanan tradisional berbahan baku durian. Mi­salnya, permen, dodol, pulut dengan saus santan durian (sipuluik bakuah), apam berkuah dengan saus santan wangi khas durian. Warga juga mem­buat makanan dengan aroma khas du­rian. Bahkan, gulai durian juga dihi­dangkan di rumah-rumah makan. Ada pula khusus penjual ketupat untuk disantap bersama durian. Wah...!

Tentang aroma khas durian yang menyusup di lorong-lorong pasar hingga seantero kota, Tapaktuan saat  bisa menjadi contoh.  Nyaris di setiap wilayah di ibukota Aceh Selatan itu, apabila Anda menghampirinya, akan disergap aroma buah berbau eksotis itu. Contohnya, di simpang empat Kedai Aru, Jalan Sudirman, terutama di sekitar kompleks Masjid Agung Istiqamah, atau di lokasi tertentu di Lhok Bengkuang. Begitu juga di sejumlah tempat di Samadua, seperti di simpang Kasik Putih. Di Peulumat, Kecamatan Labuhanhaji Timur, Meu­kek, Kotafajar Kluet Utara sampai Trumon Raya, dan rata-rata di setiap kecamatan, hal serupa akan ditemui. Durio zybertinus ada di mana-mana.

Mengumpulkan buah durian yang jatuh dari pohon, tak segampang men­dapatkannya di pasaran. Jika tran­saksi mulus, buah tinggal diangkut. Ada kisah-kisah perjuangan dalam berburu durian di hutan-hutan Aceh Selatan.

Patut disampaikan, tanaman du­rian di Aceh Selatan masih dibudi­dayakan secara tradisional. Tanaman itu tumbuh liar di hutan belantara. Mes­ki ada juga yang di dibudi­daya­kan perkampungan dan menjadi ta­naman pekarangan.

Dikawal “Sang Raja”

Jika musim berbuah tiba, pemilik tinggal menunggu kapan waktu yang tepat durian yang sudah masak jatuh. Jika pohon itu di sekitar rumah, ting­gal mendengar suara berdebum, me­mungutnya, mengumpulkannya. dan, esok, sudah didapat belasan buah ter­onggok dalam rumah atau pondok.

Yang menarik adalah jika pohon durian tumbuh di hutan. Terjadilah perburuan seru. Biasanya, di kebun-kebun durian, di manapun lokasinya, ada pondok yang dipersiapkan untuk memanen durian. Perburuan itu ber­langsung malam hari. Mereka meng­inap di pondok tersebut. Biasanya, warga di desa-desa pergi secara rom­bongan, dua hingga lima orang. Me­re­ka berangkat petang hari dengan mem­bawa bekal seperti kelapa dan pulut. Ada juga yang hanya memba­wa ketupat untuk dimakan bersama buah durian nantinya.

Buah-buah yang pertama jatuh, langsung diolah untuk makanan mereka. Barulah buah yang jatuh se­lan­jutnya dipungut untuk dipasarkan.

Saat mencari buah durian yang ja­tuh di semak-semak, ternyata tidak ja­rang penduduk kepergok sang “ra­ja” hutan alias harimau. Binatang ini juga ikut berburu durian.

Dalam catatan pengalaman-penga­laman warga di Aceh Selatan, hari­mau ikut berburu durian secara da­mai. Harimau dinilai paling bersih da­lam menyantap durian, dengan me­numpuk biji-biji durian setelah isinya dijilat tuntas.

Kebiasaan di Aceh Selatan, jika sedang mengejar durian jatuh, apabila kepergok harimau, sebaiknya membi­ar­kan saja durian itu diambil sang raja hutan dengan diiringi  dialog singkat. Warga akan mengatakan, “Itulah reje­ki Nenek (sebutan penghormatan un­tuk harimau oleh masyarakat setem­pat, red).”

Dipercayai, hewan ini baru meng­hilang setelah menyelesaikan tugas­nya menjilati tuntas buah durian. Se­te­lahnya, warga mulai begadang me­nanti jatuhnya buah durian.

Dalam suatu peristiwa di Gam­pong Lhok Pawoh, Sawang, Aceh Selatan, sekali waktu adalah seorang kakek ikut berburu durian di malam hari. Setiba di ladang durian, kakek tersebut mendengar suara berdebum pertanda ada durian jatuh. Dengan berbekal senter dia menghampiri asal suara. Namun, karena penglihatannya mulai buram, dia tak tahu bahwa di sana juga ada harimau.

Perhatiannya hanya terfokus pada durian. Tapi, begitu dia meraihnya, terasa durian itu ada yang sudah me­raih lebih dulu. Setelah mendengar suara auman kecil, sang kakek baru sadar bahwa durian itu diambil sang “Raja Hutan”.

()

Baca Juga

Rekomendasi