Oleh: Busairi
MURID-murid sekolah dasar (SD) sudah dilatih baris-berbaris dan bernyanyi sejak sepekan sebelum kunjungan Presiden Soeharto. Rumah-rumah penduduk di sisi jalan yang akan dilalui Presiden bersama rombongan juga telah disulap dengan cat putih dan merah.
Ketika rombongan tiba dengan beberapa bus besar melewati jalan yang berpasir dan belum diaspal, tentu akan memunculkan kepulan debu ke angkasa di sepanjang jalan sekitar 15 kilometer dari Lhoksukon ke Cot Girek, Aceh Utara. Beberapa kali penyiraman dilakukan sebelum rombongan melintas. Tapi, akibat teriknya sinar matahari saat itu, upaya ini tidak berpengaruh besar. Biar sudah disiram air berkali-kali, jalan itu kembali kering dan mengepulkan debu saat dilalui.
Tangan para murid SD yang memegang bendera merah-putih dari kertas minyak untuk dilambai-lambaikan kepada rombongan Kepala Negara yang akan tiba. Seolah-olah itu pengganti ucapan selamat datang ke daerahnya. Ditemani gurunya, mereka sudah menunggu berjam-jam.
Ternyata, Presiden Soeharto tidak ada dalam rombongan yang menumpang bis itu. Presiden menumpang helikopter dari Bandara Malikussaleh menuju Cot Girek yang ditempuh dalam waktu 15 menit.
Presiden mendarat di dekat Pabrik Gula (PG) Cot Girek. Setelah acara singkat selesai, Soeharto lantas pulang mengikuti jalur dan prosedur sebagaimana kedatangannya.
Demikian sepenggal sejarah berdirinya pabrik gula di Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, pada Mei 1970. Empat bulan setelah Soeharto datang, pengoperasian pabrik gula di Cot Girek dengan kapasitas giling maksimal 2.500 ton tebu/24 jam, dengan luas tanaman tebu giling sekitar 4.000 hektare itu diresmikan Menteri Ekonomi Keuangan dan Industri (Menko Ekuin), Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
“Iya, waktu itu banyak warga yang berbondong-bondong datang ingin melihat langsung Presiden Soeharto. Tapi, saya waktu itu tidak tahu yang mana Soeharto karena ada beberapa orang dari Jakarta. Acara juga berlangsung singkat,” ujar warga setempat, Khatijah (63) saat ditemui Analisa di rumahnya.
Dia mengaku tidak mengingat secara jelas berapa harga gula saat masih beroperasi Pabrik Gula Cot Girek. Seingatnya, harga gula waktu itu masih terbilang mahal. Namun, diakuinya, banyak warga Cot Girek yang terserap sebagai tenaga kerja di pabrik gula tersebut.
Salah seorang tokoh masyarakat Cot Girek, Amir menyebutkan, sepengetahuannya, setelah pabrik gula itu berhenti beroperasi, sebagian pekerjanya dipindahkan ke tempat lain.
“Sebagian dari mereka ditempatkan di PKS (pabrik kelapa sawit) dan ke tempat lainnya. Banyak juga dari mereka kembali ke Medan, Sumatera Utara, ketika pecah konflik di Aceh,” kenangnya.
Berhenti Operasi
Lima belas tahun setelah diresmikan, tepatnya pada 1985, Pabrik Gula Cot Girek ditutup. Beberapa tahun sebelumnya, kondisinya juga sudah tidak sehat.
Tanaman tebu yang ada kemudian dikonversi ke kelapa sawit. Seiring berdiri dan beroperasinya PKS Cot Girek, pabrik gula tersebut juga berhenti.
Tapi, tidak diketahui persis alasan berhentinya operasional pabrik gula satu-satunya yang pernah ada di Aceh itu.
“Saya tidak tahu dengan jelas mengapa pabrik gula itu berhenti beroperasi. Itu sudah lama sekali. Saya baru menjabat sebagai Humas PTPN-I Cot Girek sekitar delapan bulan lalu,” ungkap Humas PTPN-I Cot Girek, Abdul Muthalib, kepada Analisa, Selasa (7/3).
“Yang saya ketahui, tanaman tebu sebagai bahan baku gula dihasilkan dari kebun milik PTPN sendiri, bukan dari kebun rakyat,” tambahnya.
Namun, beberapa sumber menyebutkan, berhentinya beroperasi pabrik gula itu karena tingginya beban pokok penjualan (BPP) gula. Tingginya biaya ini karena subsidi yang diberikan pemerintah terlalu kecil. Pabrik gula ini dianggap tidak ekonomis atau menguntungkan.
Sekarang, Pabrik Gula Cot Girek di Desa Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, sekitar 15 kilometer selatan Lhoksukon, ibukota Aceh Utara, atau sekitar 35 kilometer dari Lhokseumawe, itu telah menjadi bangunan tua.
PTPN-I Aceh membiarkan bangunan itu lapuk dimakan usia. Belum ada rencana dari manajemen badan usaha milik negara (BUMN) tersebut untuk memfungsikan kembali bangunan ini.
“Belum ada rencana untuk apa bangunan itu akan difungsikan. Ini mengingat bangunan itu sudah sangat tua dan lapuk. Papan yang ada di bagian atap bangunan juga sudah berjatuhan satu persatu,” tambah Abdul Muthalib.
Bangunan megah pabrik itu terlihat tinggal rangka. Bangunan pabrik gula itu menjadi bangkai di tengah melambungnya harga gula pasir di Aceh. Harga gula di Aceh sempat mencapai Rp18 ribu-20 ribu per kilogram saat Ramadan 2016.
Sepertinya, harapan masyarakat Aceh untuk mendapatkan gula murah dengan adanya pabrik gula dan dapat mendongkrak perekonomia masyarakat terkubur sudah.
Industri Sawit
Sebagai pengganti pabrik gula, PTPN I kemudian mendirikan PKS. Tanaman tebu diganti menjadi sawit yang kini terbentang luas. PKS itu terus mengeluarkan asap saat beroperasi. Mirisnya, PTPN-I dinilai sangat minim memberikan perhatian terhadap lingkungannya.
Konversi tanaman kelapa sawit di Cot Girek itu sendiri dibiayai bersama-sama oleh PTPN II, PTPN III dan PTPN VII dengan membentuk PT Cot Girek Baru (Persero). Sedangkan untuk pembangunan PKS dibiayai oleh PTPN IX. Sehingga, namanya menjadi PKS Cot Girek PTPN IX (Persero).
“Bayangkan, belasan kilometer jalan Lhoksukon-Cot Girek yang rusak akibat dilintasi truk mengangkut tandan buah sawit segar (TBS) sawit hingga saat ini belum diperbaiki. Bantuan lainnya untuk masyarakat sekitar juga sangat minim,” ujar Camat Cot Girek, Usman saat ditemui di ruang kerjanya.
Dikatakannya, hampir 40 persen masyarakat Cot Girek hidup di garis kemiskinan. Di kecamatan yang terdiri atas 24 desa itu juga terdapat 400 unit rumah tak layak huni.
Sekarang, tidak ada kebun tebu di Cot Girek, semua lahan ditanami sawit. “Setahu saya, tidak ada lagi kebun tebu di Cot Girek. Seluruhnya lahan sudah ditanami sawit. Saya harapkan PTPN-I memperhatikan masyarakat lingkungan di sini,” harap camat.
Nasib PG Cot Girek ternyata sangat singkat. Seakan sesingkat kedatangan Presiden Soeharto saat ini. Sangat kontras dengan cita-cita saat membangunnya.











