Oleh : Mutia Nasution. Pernahkah tidak mengunjungi Mandailing Natal? Bagi masyarakat sekitar Padangsidimpuan, Paluta, Palas dan sekitarnya pasti sudah akrab dengan Madina atau Mandailing Natal. Kota yang terkenal dengan makanan kipangnya ini ternyata memiliki sebuah pantai tersembunyi. Ya, siapa yang mengira. Disaat orang beramai-ramai dihari libur berlibur kepantai di Tapanuli Tengah, disisi lain ada pantai eksotis yang belum banyak dijamah tangan manusia.
Mandailing Natal atau lebih sering disebut Madina - merupakan wilayah kabupaten di provinsi Sumatera Utara yang beribukota di kecamatan Panyabungan. Untuk sampai ke sini, diperlukan waktu sekitar 12 jam perjalanan dari Medan atau sekitar 12 jam dari Medan. Tidak banyak objek wisata di Mandailing Natal. Sebagian besar wilayah masih diselimuti hutan belantara, sebagian lagi ditanami kebun karet dan sawit. Tapi, ada satu tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi bila singgah kemari. Tempatnya di tepi pantai barat Sumatera Utara namanya Pantai Batahan. Untuk sampai ke sana, diperlukan perjuangan yang cukup berat sekaligus melelahkan. Dari ibukota kabupaten Mandailing Natal, diperlukan waktu tempuh sekitar 5 sampai 6 jam. Kondisi jalan aspal dari Panyabungan hingga Natal cukup bagus namun berbelok-belok dan naik turun. Hanya ada beberapa titik yang perlu diwaspadai mengingat banyak tebing dan jurang di sepanjang perjalanan, terutama di musim penghujan. Setiba di kecamatan Natal - sekitar 4 sampai 5 jam perjalanan - anda akan disuguhi pemandangan laut. Di sinilah anda bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pantai Batahan. Tepat di pinggir pantai, ada sebuah mess yang diperuntukkan masyarakat umum. Dengan biaya sekitar Rp60.000,00 ribu per malam, anda bisa melepaskan penat dan lelah selama perjalanan. Dari kecamatan Natal, disarankan anda mengendarai sepeda motor untuk menuju Pantai Batahan. Alasannya, dari tempat inilah petualangan akan dimulai.
Disini kita dapat menyewa perahu dengan membayar Rp5.000,00. Tapi jika cuaca sedang buruk atau sedang ada badai laut, kita tidak disarankan untuk bisa menyeberang.
Sesampainya di seberang, anda akan melewati beberapa pemukiman penduduk pesisir. Jangan berharap ada jalan aspal karena semuanya masih berupa tanah merah dan jalan bebatuan. Setelah itu, barulah anda menyusuri tepi pantai selama 30 menit perjalanan.
Jalur pantai ini merupakan satu-satunya jalur tercepat menuju Pantai Batahan. Namun, jika air laut sedang pasang, anda harus melalui jalur alternatif yang cukup jauh dan berlumpurAkhirnya, setelah menyusuri tepi pantai dan menembus rawa-rawa, anda akan tiba di kecamatan Batahan. Rasa lelah akan hilang setelah anda tiba di Pantai Batahan, melihat sebuah eksotisme di tepi Samudera Indonesia. Indah, elok, dan cantik. Suasana yang tak terlalu ramai dengan ombak yang mengalun pelan.
Di sebelah barat daya, ada sebuah pulau kecil. Pulau Tamang namanya. Jika anda penasaran dan ingin menjejakkan kaki di sana, cukup menyewa sebuah perahu motor dengan biaya pulang pergi Rp500.000,00. Perjalanan ke pulau tersebut ditempuh hanya sekitar 15 menit. Sebetulnya, tidak ada yang menarik di pulau ini. Isinya hanya pemukiman penduduk yang tak terlalu ramai. Satu hal yang unik adalah jalanan di pulau ini yang disusun dari batu karang dan koral. Jika anda berputar ke arah barat, maka anda bisa mengunjungi mercu suar yang berdiri kokoh.
Untuk kembali ke tepi pantai Batahan. Anda tak perlu pusing mencari penginapan, karena beberapa meter dari garis pantai ada sebuah mess dengan 3 kamar. Cukup membayar Rp30.000,00 per orang per malam, anda sudah bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan Samudera Indonesia.
Selain menawarakan panorma pemandangan pantai Batahan juga memiliki potensi wisata lain seperti Pulau Tamang dan pulau lainnya. Sehingga jika ini dikelola oleh pemerintah ataupun investor akan menjadikan daerah ini menjadi tujuan wisata.***
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ltbi, Unimed Semester 3 dan bergiat di Komunitas Laboratorium Sastra (Labsas) Medan











