Mengenal Becak-becak di Negara Lain

BECAK adalah suatu moda trans­portasi beroda tiga yang umum dite­mukan di Indonesia dan juga di sebagian Asia. Kapasitas normal becak adalah dua orang penumpang dan seo­rang pengemudi.

Menjadi pengemudi becak meru­pakan salah satu cara untuk menda­patkan nafkah yang mu­dah, sehingga jumlah pengemudi becak di daerah yang angka penganggurannya tinggi dapat menjadi sangat tinggi, dan akan akan menimbulkan berbagai ke­ruwetan lalu lintas.

 Karena itu becak dilarang di Jakarta sekitar akhir dasawarsa 1980-an. Alasan resminya antara lain saat itu karena becak me­nampilkan “eks­ploitasi manusia atas manusia.”

Hal serupa sudah dipraktikkan di ne­gara-negara lain yang maju, mulai dari Jerman hingga Jepang. Berikut tampilan becak-becak modern di luar negeri:

Inggris

Becak modern bisa ditemui di London, Inggris, dengan nama Pedicab. Dikutip dari london pedicabs.com, ada sejumlah 1.400 moda transportasi ramah lingkungan ini yang beroperasi di London. Becak ini menawarkan variasi paket tur yang bisa ber­langsung hingga enam jam.

Amerika Serikat (AS)

New Orleans di AS adalah salah satu tempat yang punya pedicab, becak versi modern. Pedicab di sana diatur secara resmi oleh Dewan Kota New Orleans sejak 2011.

Bentuknya mirip gabungan sepeda dan becak di Jakarta, dengan penge­mudi di bagian depan. Setiap becak ha­nya bisa dinaiki maksimal dua orang.

Tarifnya lima dolar AS untuk enam blok pertama, dan 1 dolar AS per blok untuk tiap penumpang. Semua penge­mudi pedicab pu­nya lisensi resmi, sebagian besar juga merangkap jadi pemandu wisata.

Jerman

Becak di Jerman bisa ditemui di kota Berlin, namanya Velotaxi yang mulai beroperasi pada 1997. Becak yang bisa memuat dua orang penum­pang ini mengusung konsep mobilitas baru nan trendi yang dimanfaatkan sebagai baliho iklan berjalan.

Pengayuh becaknya rata-rata beru­sia 20-40 tahun, setengahnya adalah mahasiswa dan pekerja pa­ruh waktu. Ada juga perem­puan yang menjadi supir Velotaxi.

Setiap pengayuh Velotaxi akan dipandu oleh mentor yang akan memberitahu tetek bengek seperti rute-rute populer, tempat terbaik untuk berhenti hingga kiat-kiat menghadapi penumpang.

Soal tarif, ada dua pilihan. Penum­pang bisa membayar se­suai jarak atau waktu. Tarif satu kilometer pertama adalah 7 euro, sedangkan setiap satu kilometer berikutnya penumpang harus membayar 5 euro.

Penumpang juga bisa mem­bayar berdasarkan kesepakatan waktu kalau ingin berjalan-jalan lebih lama. Ongkos 30 menit naik Velotaxi men­capai 24 euro, untuk perjalanan satu jam biayanya 42 euro.

Penumpang juga bisa memilih paket tur khusus untuk meng­eks­plorasi Berlin dengan harga bervariasi. Seorang penarik becak tradi­sional Jepang atau yang disebut Jinrikisha melintas di kawasan komplek peru­mahan peninggalan samurai di Ka­kunodate, Senboku, Jepang.

Jepang

Jinrikisha, itulah sebutan untuk becak di Jepang. Secara harafiah, Jinrikisha artinya kendaraan yang ditarik tenaga manusia. Bentuk­nya sedikit berbeda dengan becak di Jakarta.

Jinrikisha memiliki dua roda, penariknya berada di depan. Jinrikisha tidak dikayuh, penge­mudi langsung menarik becak dengan tangannya. Menaiki jinrikisha serasa kembali ke masa lampau karena pengemudinya juga mengenakan busana tradi­sio­nal.

Jinrikisha biasanya banyak terlihat di tem­pat-tempat wisata seperti kuil Asa­kusa di Tokyo. Kebanyakan pena­rik jinrikisha adalah para pemuda yang juga ber­peran sebagai pemandu wisata pe­numpang. Tarifnya berva­riasi, antara 3000-6000 yen tergantung jumlah pe­num­pang dan jarak tempuh. (ant/wkp/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi