BUMI yang sekarang kita pijaki telah dikuasai oleh kekuatan energi libido yang lalu lintasnya adalah kesenangan. Pertukaran ekonomi antar negara adalah pertukaran hawa nafsu. Paradigma perkembangannya adalah paradigma kecepatan. Itulah dunia ekonomi dan kebudayaan kapitalisme global yang sarat dengan beraneka ragam energi, kegairahan, pergerakan, perubahan, dan perkembangan tanpa henti. Sejauh mata memandang, yang dilihat adalah beraneka ragam artikulasi getaran nafsu dan kesenangan (libido). (hal: 45)
Tidak dapat dipungkiri, pergerakan energi libido menjejali dengan sesaknya ke seluruh ruang gerak manusia, baik yang terbuka maupun yang tertutup. Dalam hal ini, menurut Yasraf Amir Piliang (1998), perkembangan masyarakat kapitalisme global dipengaruhi oleh dua logika, yaitu logika pelepasan energi dan dan logika kecepatan, yang keduanya berperan besar bagi pelenyapan sosial dan terlebih pandangan berbau agama.
Dalam sistem ekonomi pasar global, yang mengalir dari satu negara ke negara lain, satu pasar ke pasar yang lain, bukan hanya sekedar sabun, shampoo, body lotion, fried chicken, slimming tea, mobil, kulkas, dan benda-benda konkret lainnya, melainkan juga kesenangan, kecabulan, kemabukan, dan keterpesonaan di balik produk yang ditawarkan. Perbincangan agama pun kin sudah tidak lagi berkaitan dengan pencarian jati diri manusia, penggapaian makna hidup yang abadi, dan refleksi perenungan mendalam tentang Tuhan, melainkan telah tereduksi menjadi ajang ajang hijab/fashion show, gelak tawa acara agama dengan iklan sang ustadz. Berkerudung sudah tidak lagi mengarahkan perilaku dan mengantarkan pada kedekatan dengan Tuhan, melainkan telah terkontaminasi ke dalam tempo kecepatan dan histria sorak-sorai dansa, mode kecantikan dan pemenuhan kapital. Sungguh, begitu eratnya semua aspek kehidupan kapitalisme dengan pemuasan nafsu.
Arus libidonomics makin kuat dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga masyarakat kapitalis-modern sering mengabaikan sentuhan dan pemaknaan hidup yang lebih dalam dan kontemplatif serta menurunnya nilai-nilai tauhid di benak masyarakat, sementara prestasi ilmiah dan produk teknologi semakin canggih. John Naisbit menyebutnya “hi-tech, low-touch”, prestasi iptek semakin tinggi, tetapi kualitas akhlak dan pemaknaan hidup semakin rendah. Umat Islam terlena oleh kenikmatan teknologi yang disuguhkan oleh tangan-tangan asing yang menjajah ketauhidan mereka. Mereka akrab dengan televisi, handphine, iPad, komputer dan tablet hingga berkonsentrasi penuh dengan alat-alat canggih itu tanpa ingat apa yang terjadi di sekelilingnya sehingga mengantarkan manusia pada keterasingan diri, keluarga, dan sosial, bahkan Tuhannya.
Dalam keterdesakan teknologi dunia hyper-realitas itu muncul tantangan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai tauhid. Tauhid mengajarkan kepada umat Islam untuk merengkuh dan menguasai dunia dan seisinya ini, tanpa harus menyentuh kesucian hatinya, apalagi memiliki dan menguasai hatinya. Sebab, hanya Allah-lah Yang Maha Memiliki (Innalillahi dan Lillahi ma fis-samawati wal-ardh). Bertauhid ini pula yang kemudian dikatakan beriman, meski cakupannya akan lebih luas. Bertauhid atau beriman akan penuh makna jika diwujudkan secara sinergis antara hati, lisan dan perbuatan, yaitu dengan membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dalam perbuatan dan keshalehan.
Di buku ini, ada segudang penjelasan tentang bagaimana kiat-kiat menyelami tauhid di tengah arus libidonomics. Kisah-kisah inspiratif yang diselipkan penulis di dalam bukunya akan menggugah hati pembaca sehingga dapat meningkatkan kualitas iman pembaca. Tak ketinggalan pula, penulis menuangkan dalil-dalil sebagai pertanggung jawaban atas tulisannya yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadist.
Buku yang memiliki anak judul “Jalan Sosial Merasakan Kehadiran Tuhan dalam Kehidupan” ini secara lugas menjelaskan bagaimana caranya kita merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap hembusan nafas kita lewat sub-sub bagian yang berjudul “Merasakan Kehadiran Tuhan”.
Yang menakjubkan lagi, buku ini tidak hanya menyajikan pengetahuan untuk kebahagiaan di dunia saja, namun juga membimbing pembaca untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak. Buku ini terdiri dari tiga bagian. Pada bagian terakhir, penulis mengajak pikiran pembaca berjalan-jalan ke hari akhir.
Buku motivasi Islami dengan covernya yang sangat elegan, yaitu warna kuning yang menggambarkan madu serta warna putih sebagai back ground-nya memiliki gaya bahasa yang ringan sehingga renyah dikunyah para pembaca walaupun yang dibahas hal-hal yang berat. Yang menarik pada buku ini adalah judulnya, Agar Imanku Semanis Madu. Membuat para pembaca penasaran dan menimbulkan pertanyaan, “bagaimana sih agar imanku bisa semanis madu?”
Dengan senang hati, Bahrus Surur melimpahkan tips-tips agar para pembaca dapat menyulap imannya menjadi semanis madu. Semoga dengan adanya buku ini, Semoga apa yang terkandung di dalamnya dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaaan para pembaca. Selamat membaca!
Peresensi: Diana Aliya, Kru LPM Dinamika UIN SU dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN SU











