Rela Berjalan Kaki demi Sampaikan Aspirasi

AGUS Yuda akhirnya bisa ber­temu Presiden Joko Widodo setelah berjalan kaki selama 26 hari dari Mojokerto. Agus, yang baru sekitar empat tahun menjadi sopir truk di pabrik karton Krian, Sidoarjo, berga­bung dengan Serikat Pengemudi Truk Nasional (SPTN). Serikat ini ber­markas di Desa Ngrame, Pungging, Mojokerto.

Dari tempat inilah Agus memulai perjalanannya menuju Istana Negara, Jakarta, untuk menemui Presiden Jokowi.

Bendahara SPTN, Iis Indah Sari (34), mengatakan, keberangkatan Agus ke Jakarta memang untuk menepati janjinya. Menurutnya, sudah lama Agus ingin menyampai­kan aspirasi para sopir truk kepada Presiden Jokowi tepat di ulang tahun pertama SPTN.

“Rencananya, di ulang tahun SPTN tanggal 1 Mei, Agus sudah balik dari Jakarta, tapi molor sampai hari ini baru bisa bertemu Pak Jo­kowi,” katanya saat dihubungi detik­com, Selasa (8/5).

Kabar Agus akhirnya bisa bertemu dengan Presiden Jokowi membuat Indah dan rekan-rekan sesama sopir bahagia. Menurutnya, keluhan para sopir truk terkait pungutan liar (pungli) dan premanisme di jalan akhirnya bisa didengar langsung oleh Jokowi.

Namun pihaknya mengaku ada sedikit kerisauan atas aksi Agus. “Kami juga takut, ini akan menjadi bumerang bagi kami, terutama soal pungli,” ujarnya.

Karena itu, Indah berharap peme­rintah ke depan memperhatikan nasib sopir truk. Selain memberikan solusi terkait pungli dan pre­manisme, para sopir berharap mendapat perlindung­an dari kemung­kinan pihak-pihak yang dirugikan oleh mencuatnya isu pungli sopir truk.

“Juga kalau ada kecelakaan di jalan, jangan selalu kami yang disa­lahkan. Kami minta pemerintah memperhatikan hal itu,” tandasnya.

Istri Agus, Siti Alimah (33), sempat khawatir. Dikatakannya, keberangkatan sang suami, Minggu (8/4), dari Mojosari, Mojokerto, menemui Presiden dan Gubernur Jawa Tengah itu sebenarnya sudah lama. Namun niat berjalan kaki tersebut baru terlaksana.

Siti mengaku, dalam perjalanan­nya menuju Istana Presiden, Agus hanya ingin menyampaikan aspirasi teman-teman seprofesinya. Selama ini, para sopir mengeluhkan pungli.

“Kami tidak berikan bekal apa pun, hanya doa supaya selamat dalam perjalanan. Namun juga sempat khawatir dan takut, tapi alhamdulilah sampai di Jakarta,” tambahnya.

Kemarin, Presiden Jokowi me­mang menemui sekitar 70 sopir truk dari berbagai kelompok. Hadir dalam pertemuan itu Wakapolri Komjen Pol Syafruddin dan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi.

Presiden sempat kaget mendengar aksi pungli dan premanisme dengan nama kelompok tertentu yang di­sampaikan para sopir. Pungli dan premanisme ini dilaku­kan dengan modus penge­catan terhadap truk.

Bila truk sudah dicat atau lazim disebut “dicap”, pe­nge­mudi harus membayar sejumlah uang kepada ke­lompok yang “mengecap” truk itu. Bila tidak, akan ada kaca truk dipecahkan, ban disobek, bahkan sopir dito­dong dengan golok. Ini ter­jadi di Sumatera, Jawa mau­pun Kalimantan.

“Oh punglinya preman, jalan mana lagi? Di Marun­da? Cakung-Cilincing, Ci­kampek-Cirebon. Terus mana lagi? Lampung mana? Lintas Timur. Oke, biar di­catat Pak Wakapolri (Kom­jen Polisi Syafrudin), Sama­rinda-Balikpapan pungli petugas? Oke. Terus, Mesuji, Prabumulih,” kata Presiden mengulang sahutan dari para sopir mengenai lokasi pungli yang mereka alami.

Sumut-Aceh

Salah seorang sopir me­nyampaikan kepada Jokowi, “Dari Jambi sampai Medan, titik rawan paling banyak memasuki Riau dan mema­suki Medan. Lintas timur dari Lampung, paling domi­nan wilayah hukumnya Pol­res Mesuji. Mungkin Polres Mesuji sudah tahu tapi kewa­lahan. Mungkin perlu diban­tu Mabes Polri.”

Sopir lain juga menge­luhkan jalanan di lintas Su­matera yaitu dari perbatasan Aceh, di Binjai sampai Me­dan dan dari Medan sampai Pekanbaru hingga Bengka­lis. Lalu, dimulai lagi dari jalur Pelalawan, Riau.

“Kemarin mobil teman saya sampai dibakar. Mulai lagi perbatasan Jambi dan Pa­lembang, masuk Sumatera yang namanya Bedengseng, rajanya ‘cap-capan’ lewat ru­mah makan di situ. Kalau kita lewat saja kita ‘gak nga­pa-ngapain’. Kita lewat wa­rung wajib bayar. Kalau ti­dak bayar, kaca pecah, kalau tidak golok sampai di leher, kalau tidak ban kita disobek. Itu siang bolong,” jelas sopir tersebut.

“Diminta berapa sih itu?” tanya Presiden.

“Bervariasi. Berapa yang diingat dia saja. Kalau Rp200 ribu, ya Rp200 ribu. Kalau Rp2 juta, ya Rp2 juta,” ungkap sopir.

“Lho, kok gede banget?” tanya Presiden.

“Ya begitu, Pak. Setelah itu, jalur itu yang rawan lagi untuk sekarang-sekarang mulai Kabupaten Ogan Ilir sampai ke simpang Tanjung Lumbuk, khususnya Kayu Agung, berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir,” jelas sopir.

“Berinya berapa?” tanya Jokowi.

“Mobil yang pakai merek, bayar Rp10 ribu-20 ribu, satu kali lewat,” jawab sopir.

“Stempel itu apa?” tanya Presiden.

“Yang disemprot-semprot di mobil kita itu, Pak. Mobil kita dicat lalu dibikin merek dia,” jelas sopir.

“Cap pengawalan? Ada apa lagi?” tanya Presiden.

“Di Sumatera merek itu RPAD, ke Medan PSDS, AS­DS, KR, Sinar Toba, Sa­pantau, APBK, ADL, Hari­mau Jalan, SBN. Masih ba­nyak. Susah menghitungnya kalau ditulis satu buku,” ja­wab sopir.

“Banyak banget itu,” kata Presiden.

“Di daerah Marunda pe­ngawalannya TRK sama HCP wilayah Jakarta. Inti­nya, pe­ngemudi pengen rasa nyaman, ingin anak bisa se­kolah, ingin aman,” kata so­pir lain.

“Ini yang saya ingin dengar langsung dari bapak semua­nya. Ini dari Sumatera ada, Ka­limantan juga, Jawa ada, kom­plet. Saya kira di Jawa saja,” tambah Jokowi. (dtc/Ant)

()

Baca Juga

Rekomendasi