Lomba Dayung Sampan Jadi Tradisi Tahunan

Kualasimpang, (Analisa). Masyarakat Kualasimpang meng­gelar perlombaan da­yung sampan tra­disional di aliran Sungai Kota Kua­lasim­pang, Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat (17/8) sore. Kegi­atan tersebut sudah menjadi tradisi tahunan masya­rakat se­kitar dalam rangka meme­riah­kan HUT ke-73 RI.

Bupati Aceh Tamiang, H Mursil, SH, M.Kn hadir mem­buka sekaligus melepas perlombaan dayung sampan dengan bendera start pertama. Disusul oleh Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Zulhir Destrian, SIK, MH pelepasan start kedua, berikutnya Dandim 0117/Atam, Letkol Inf Deki Rayusyah Putra, S.Sos dan Ketua DPRK Aceh Ta­miang, Fadlon, SH pelepasan lomba bendera start ketiga. Hadir juga unsur pe­jabat  lainnya, sejumlah tokoh pemu­da, olahraga dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Mursil mengatakan, lomba dayung sampan ini merupakan lomba tradisi yang hanya bisa disaksikan setiap Hari Kemer­dekaan RI. Selain itu, ke­giatan ini sebagai hiburan bagi masyarakat yang meru­pakan salah satu permainan masya­rakat di pesisir sungai Ta­miang yang harus terus dilestarikan serta bisa menjadi budaya khas masyarakat Aceh Tamiang. “Lomba dayung sampan ini tradisi yang harus dipertahankan hingga ke ge­nerasi kita yang akan datang,” kata Mursil.

Hal senada dikatakan Camat Kota Kualasimpang, Aulia Azhari, S.STP. Menurutnya, perlombaan ini digelar sebagai bentuk partisipasi masyarakat di wilayahnya untuk meme­riahkan HUT RI tahun ini.

Sudah jadi budaya

“Acara ini sudah menjadi budaya yang baik. Jadi, harus dipertahankan terus, meskipun dalam segi pembia­yaan, lom­ba ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit berkisar pu­luhan juta,” sebutnya.

Ketua pelaksana lomba dayung sam­­pan yang juga datok penghulu (kades) Kota Kualasimpang, Zulkifli kepada Ana­lisa menerangkan, ada 27 tim ikut andil dalam kompetisi dayung itu. Peserta berasal dari berbagai wilayah Aceh Ta­miang. Satu tim ber­jumlah tiga orang.

Perlombaan dayung sampan tradi­sio­nal ini dibuat tiga putaran. Jarak tempuh pedayung sekitar 500 meter dari titik start hingga jembatan Kua­lasimpang. “Start 1-3 masing-ma­sing sembilan sampan, dan yang di­ambil melaju ke final sam­pan nomor 1-4. Jadi di laps final hanya ada 12 pe­rahu yang tersisa untuk mencari juara tercepat,” terangnya.

Menurut Zulkifli alias Codet, per­lom­baan dayung pada tahun ini juara I tim “Badak Berendam” dari Desa Pante Perlak, Kecamatan Sekrak. Juara II tim “Bebek Nyosor” dari Desa Suka Jadi, Kecamatan Karang Baru dan tim “Men­dung” dari Desa Sekumur, Ke­camatan Sekrak meraih juara III. Pe­serta lomba ini sebagian adalah warga yang ber­profesi sebagai nelayan tradisional.

Dikatakan, para juara dayung diberi hadiah berupa uang pembinaan. “Un­tuk juara I sebesar Rp2,1 juta, juara II Rp1,5 juta, juara III Rp900 ribu dan juara harapan I mendapatkan Rp600 ribu,” rinci Codet.

Pihaknya berharap, ke depan untuk cabang olahraga dayung asal Aceh Tamiang bisa mendapatkan medali, su­paya bisa mewakili daerah baik di tingkat Kejurda maupun Kejurnas, agar muncul atlet dayung putra-putra dari Aceh Tamiang. (dhs)

()

Baca Juga

Rekomendasi