Oleh: Rhinto Sustono. SIAPA bilang gemstone (batu akik) tak lagi menarik? Meski tak lagi banyak diburu seperti dulu, tidak berarti kini akik dibiarkan berlalu. Sepi pembeli sudah pasti, tapi pasaran akik tak pernah mati.
Para pedagang akik masih berjualan. Asalkan usahatetap dijalankan, untung sedikit masih lumayan. Begitu tutur Misno seorang pedagang akik yang masih bertahan di sebuah emperan toko, di pinggiran Kota Medan.
Akik memang pernah booming. Beberapa jenis batu lokal Sumut dan Aceh pernah jadi primadona turis mancanegara, khususnya Malaysia. Jenis indocrase (solar super) asal Gayo Takengon, Aceh Tengah, salah satunya. bukan hanya diminati pencinta batu di dalam negeri, tetapi juga wisatawan Malaysia.
Batu giok solar dan lumut asal Aceh itu, sudah dikenal di pasar Asia, bahkan dunia. Pesona hijau kristalnya yang sangat tajam tidak kalah dengan giok dari Tiongkok.
“Saat ramai dulu, harganya batu giok solar dan lumut asal Aceh yang kristal bisa berharga antara Rp5 juta hingga Rp50 juta per buah,” kenang Misno. Meski taklagi ramai pembeli, tapi tetap saja ada yang membeli.
Sejatinya, saat ‘demam’ akik dulu, dengan banyaknya jenis batu akik yang terdapat di hampir seluruh wilayah di Indonesia, akik tak hanya diburu para kolektor domestik, namun para kolektor batu mulia dari mancanegara.
Dari ragam variannya, ada beberapa jenis yang sangat digemari pecinta akik. Di antaranya jenis bacan hijau. Batu akik yang berasal dari Halmahera Selatan, Maluku Utara tepatnya di daerah Pulau Kasiruta. Beberapa kelebihan jenis akik ini, bisa bermetamorfosa secara alami semakin lama semakin indah. Satu yang paling popular, yakni jenis batu bacan doko dan batu bacan palamea.
Jenis kalsedon lain lagi. Ciri seperti diselimuti kabut transparan, eksotis. Banyak ditemukan di daerah Jawa Barat dan Sulawesi Tenggara. Belakangan ditemukan pula di Pacitan, Jawa Timur.
Ada juga jenis batu akik safir yang tergolong mahal dan mempunyai segmen pasar tersendiri. Pun jenis black opal (kalimaya) yang pernah menjadi primadona. Meskipun lembek, namun tetap banyak yang mencarinya karena memiliki ciri spesifik memancarkan warna semacam berlian.
Cincin Berbahaya
Para pecinta akik tentu sudah paham, jika di antara jenis batu alam yang terlihat indah namun tidak semua bisa dijadikan batu cincin. Sebab ada beberapa jenis batu yang bisa membahayakan kesehatanjika digunakan sebagai batu cincin.
Berdasarkan beberapa penelitian, beberapa jenis batu tertentu mengandung zat yang membahayakan nyawa manusia. Misalnya batu kristal orpiment. Meski memiliki warna-warna menggoda, namun jenis batu ini sangat berbahaya. Sebab terbuat dari campuran arsenik dan sulfur yang sangat reaktif.
Memegang orpiment bisa melepaskan zat karsinogen penyebab kanker pada tubuh dan menyebabkan keracunan arsenik pada saraf. Konon, bangsa China menggunakan Kristal ini untuk menggosok busur panah untuk meracuni musuh.
Selain orpiment, ada beberapa jenis lainnya yang juga membahayakan. Antara lain, kristal arsenopyrite yang kilauannya menyerupai emas. Kristal jenis ini mengandung arsenik sulfida yang jika disentuh dan masuk ke tubuh bisa menyebabkan kematian.
Beberapa jenis kristal lainnya yang juga membahayakan, yakni kristal cinnabar, galena, torbernite, chalcanthite, dan stibnite. Karena itu, waspadailah. Jangan memilih batu karena keindahan semata.
Boleh jadi, kini akik ditinggalkan penggemarnya. Namun tentu bukan cara bijak jika koleksi yang dimiliki tidak dijaga, alih-alih dibuang. Siapa tahu, suatu saat ‘demam’ akik kembali mewabah.











