Menikmati Wisata Kota Padang dan Bukittinggi

menikmati-wisata-kota-padang-dan-bukittinggi

Oleh: James P. Pardede.

Pertama kali menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional Minangkabau, hal pertama yang ada dibenak saya adalah mengucap syukur karena sudah selamat sampai tujuan.

Lama penerbangan sekitar 45 menit dari Bandara Kualanamu Internasional Deliserdang ke Bandara Interna­sional Minangkabau, Padang-Sumatera Barat.

Rombongan kami terdiri dari 25 orang jurnalis dan 5 orang pendamping dari Biro Humas dan Keprotokolan Pemprovsu untuk melakukan studi banding (pertukaran informasi) antara wartawan yang bertugas di Biro Humas Pem­provsu dengan Biro Humas Provinsi Sumatera Barat.Tiba di Kota Padang, kami langsung makan siang, mengisi perut yang sudah keroncongan. Ru­mah makan yang kami singgahi adalah Rumah Makan Lamun Ombak di Kota Padang. Makanan yang akan kami santap sudah dihidangkan di sa­lah satu ruangan khusus. Menu makanan yang disajikan sudah pasti masakan khas Padang yang tak pernah meninggalkan menu rendang, gulai ayam dan segala jenis masakan lainnya yang menggugah selera makan.

Habis makan siang, bus yang kami tumpangi melaju perlahan dan tour guide kami me­nyam­paikan informasi bahwa tujuan perjalanan kami berikutnya adalah Kota Bukittinggi. Sebe­lum sampai ke kota Bukittinggi, kami juga mendapat informasi-informasi penting tentang keberadaan kota-kota yang kami lalui menuju Kota Bukittinggi. Cerita tentang Payakumbuh yang dulunya dikenal sebagai sentra minyak kelapa dan penghasil kopra terbesar, kini hanya tinggal nama. Karena, kebun kelapa yang dulu produktif telah berubah fungsi menjadi kebun sawit.

Sebelum sampai ke Bukittinggi, kami singgah sejenak untuk melihat kain songket sulaman dan bordiran khas Sumatera Barat di Istano Minang Aia Angek yang lokasinya berada di Jalan Raya Padang Panjang-Bukittinggi. Karena sudah malam, kami tidak sempat melihat langsung sentra tenun di desa dekat Istano Minang Aia Angek. Beberapa teman yang ikut dalam rombongan membeli kain tenunan khas Sumbar.

Perjalanan yang sangat melelahkan, rombo­ngan kami akhirnya tiba di Kota Bukittinggi yang letaknya berada di perbukitan hampir sama dengan kota Berastagi di Sumatera Utara, udaranya juga sangat sejuk tapi tidak sedingin kota Berastagi. Setelah menyimpan tas ke hotel dan mandi air hangat, kami keluar hotel untuk melihat Jam Gadang di tengah Kota Bukittinggi. Kami memilih jalan kaki dari hotel tempat kami menginap menuju lokasi Jam Gadang.

Sampai di lokasi Jam Gadang, kami tidak bisa melihatnya secara dekat karena sedang renovasi dan seluruh areal Jam Gadang dipagari seng serta dijaga oleh Satpol PP. Penjagaan dilakukan karena pengerjaan Jam Gadang berlangsung pagi-siang-malam dan sekaligus mengamankan lokasi pasar yang baru-baru ini terbakar. Di pagar seng ada satu plank yang memberitahukan program renovasi Jam Gadang lengkap dengan maket perubahannya ke depan.

Objek wisata lainnya adalah Benteng Fort De Kock yang lokasinya tak begitu jauh dari Jam Gadang, Benteng ini merupakan sebuah benteng peninggalan Belanda yang berdiri di Kota Bukit­tinggi. Ada juga rumah pengasingan Soekarno, Ngarai Sianok dan objek wisata lainnya yang membutuhkan waktu dua atau 3 hari baru bisa menikmati semua kawasan wisata di kota ini.

Tak banyak yang bisa kami lakukan di Kota Bu­kittinggi karena cuaca pada saat itu tidak men­dukung, hujan sepanjang pagi sampai sore hari membuat kami hanya bisa menyaksikan keindah­an alamnya dari kaca bus yang basah karena hujan. Perjalanan dari Bukittinggi menuju Padang, kami masih meluangkan waktu untuk menikmati objek-objek wisata lainnya seperti Kiniko Cafe, sentra industri rumahan pembuatan kopi, kopi jahe dan produk lainnya.

Kami juga berkesempatan untuk melihat cara pembuatan kopi, kopi jahe mulai dari proses sangrai sampai ke peng­gilingan dan pengemasan. Proses pengolahan kopi menjadi siap dijual dan dikirim ke berbagai kota sebagai oleh-oleh masih dilakukan dengan cara tradisional. Peluang untuk menjadikan bisnis ini lebih dikenal luas adalah mengundang investor dan menjadikan sentra produksi kopi menjadi lebih profesional.

Menjelang siang, kami singgah di Istano Basa Pagaruyung yang lebih dikenal dengan Istana Pagaruyung lokasinya berada di Kecamatan Tanjung Emas, Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Bangunan istana ini adalah replika dari istana sebelumnya yang per­nah terbakar. Setelah berkeliling dan men­dengarkan penjelasan tentang sejarah istana, kami berkesempatan untuk melihat bangunan di lantai dua dan lantai tiga, dapur dan bangunan lainnya di sekitar istana.

Waktunya makan siang, kami menikmati hidangan ikan bakar di restoran Pondok Flora yang lokasinya tak begitu jauh dari Istana Paga­ruyung. Suasana tempat makan yang berada ditepi sawah kian menggugah selera. Dalam sekejap, menu yang disajikan sudah tuntas disantap. Perut sudah kenyang, perjalanan menuju Padang dilanjutkan.

Pantai Padang

Sore hari menjelang matahari terbenam, perja­lanan kami dari Bukittinggi lumayan melelahkan dan akhirnya kami sampai di Kota Padang. Tempat pertama yang kami singgahi adalah Pusat Oleh-oleh khas dari Padang, Ummi Aufa Hakim. Di toko ini, semua peserta yang ikut dalam rom­bongan berkesempatan untuk membeli oleh-oleh khas dari Padang seperti keripik sanjai, keripik ubi ungu, sagu, rendang serta jenis makanan olahan lainnya.

Kalau ingin melepas lelah setelah seharian bekerja, kita bisa duduk seraya menikmati segelas air kelapa muda atau secangkir teh hangat. Me­mandang ombak yang berkejaran atau sekadar menikmati matahari terbit maupun terbenam, pantai Padang bisa jadi pilihan. Selain lokasinya di pusat kota Padang, pantai ini juga semakin ramai pengunjung terutama di hari-hari besar dan hari libur sekolah.

Menurut Pak Nas, pemandu wisata kami selama menikmati objek wisata di Padang dan Bukit­tinggi, pantai Padang ini beberapa tahun lalu masih sangat kotor dan tidak tertata dengan baik. Pedagang berjualan disembarang tempat bahkan sampai ke pantai pasir pinggir laut. Setelah kepe­mimpinan walikota saat ini dan gubernur Sumatera Barat yang sedang menjabat (Irwan Prayit­no dan Nasrul Abit), terobosan dan perubahan dilakukan. Pantai Padang dibenahi sedemikian rupa dengan menempatkan pedagang pada tempat khusus dan lebih tertata rapi.

Di sini terdapat area bermain bagi anak-anak, sehingga ketika hari libur atau musim liburan sekolah, tempat wisata ini padat pengunjung. Dilengkapi dengan fasilitas bermain untuk anak-anak menjadikan tempat wisata ini sebagai desti­nasi yang pas untuk wisata keluarga. Tak hanya itu, pada sore hari pantai ini juga banyak dikun­jungi muda-mudi yang ingin menikmati sunset dan suasana menjelang malam sambil makan jagung atau pisang bakar.

Dari perjalanan menikmati wisata Padang-Bukittinggi-Padang, hal yang patut dicontoh adalah jalan yang menghubungkan kota-kota di sepanjang jalan sangat mulus dan tidak ada yang berlubang. Ini yang perlu dicontoh oleh daerah lain yang ingin meningkatkan arus kunjungan wisata ke daerahnya. Benahi infrastruktur dan sarana prasarana pendukung lainnya, maka wisatawan akan datang.

()

Baca Juga

Rekomendasi