Dusun Sepadan Makmur Butuh Listrik

dusun-sepadan-makmur-butuh-listrik
Medan, (Analisa). Korwil Pusat Monitoring Politik dan Hukun Indonesia (PMPHI) Sumatera Utara, Gandi Parapat berharap ada solusi mendapatkan aliran listrik di Dusun Sepadan Makmur Labuhanbatu Selatan (Labusel)

"Kebanyakan kegiatan saya spontan. Masyarakat Labuhanbatu mengenal saya kebanyakan dari google dan dari mulut ke mulut sehingga saya sering dipanggil untuk membicarakan masalah yang mereka hadapi. Mencari solusi masalah bagi saya merupakan seni yang tidak bisa diukur dengan uang. Sudah banyak permintaan masyarakat agar saya ikut bersama untuk memperjuangkan nasib mereka seperti di Labusel", sebut Gandi kepada wartawan di Medan, Senin (18/2).

Dia menyatakan, masyarakat Dusun 1 Sepadan Makmur, Dusun 2 Bangun Jaya, Dusun 3 Bangun Tore, Dusun 4 Bangun Mulia Desa Sei Meranti perbatasan Riau Baganbatu masih memerlukan bantuan. Ada 750 KK dan anak-anak mereka sekolah mayoritas ke Riau Baganbatu. 

"Esra Sianipar guru honor di SMPN Satu Atap dan SMK Yudautama di Dusun Bangun Tore, dia sangat menjiwai mengajar walaupun honor tidak mencukupi biaya hidup keluarga, hanya berharap anak didiknya pintar dan bisa jadi bupati biar bisa membangun dusun memasukkan listrik, membangun jalan", ujarnya.

Gandi melihat kekerabatan penduduk di empat dusun tersebut sangat harmonis seperti yang diutarakan Sater Pandiangan Kepala Dusun Sepadan Makmur RT 03 dan kepala Dusun Bangun Tore Sutasman mereka merasa seperti dianaktirikan. Sudah lama diusulkan agar listrik PLN masuk dan pembangunan jalan. 

"Ada gedung Puskesmas Pembantu, Kantor Camat Pemekaran Aek Raso sudah dua tahun tidak berfungsi. Guru SMPN Satu atap ASN hanya Kepala sekolah yang sudah tujuh tahun. Perjalanan panjang dari dusun ke dusun menuju SDN dan SMPN ada yang 8 km setiap pagi dengan jalan kaki, akibatnya membuat mereka malas sekolah", papar Gandi.

Menurutnya, masyarakat tidak bosan memohon agar dibangun jalan dan PLN serta sarana kesehatan. Akibat keterbelakangan ini masyarakat jadi kurang mendapat penghidupan yang layak.

"Saya contohkan Sater Pandiangan punya anak 12 dari dua istri karena meninggal. Hasil kebun dari empat dusun ini mereka jual ke Riau Baganbatu, kalau jalan kami bagus pasti hasilnya ke Labusel akan bermanfaat untuk Sumut. Dalam hal itu mereka meminta saya agar ikut memberi masukan ke Bupati Labusel membangun desa dan dusun. Saya berjanji akan menjumpai bupati dan ikut masyarakt untuk percepatan pembangunan", tegasnya.

Gandi menuturkan, tanpa caleg pun pekerjaan bersama masyarakat seperti ini terus berjalan. Dia senang dan tidak menginginkan kegagalan ada di masyarakat.

"Suka duka yang saya hadapi dan itulah membuat saya semakin sadar arti kehidupan. Makan ayam hutan dan ikan gabus, cempedak, manggis karena mereka senang dengan saya malah dimasukkan lagi ke mobil yang penuh lumpur. Walaupun mereka pada awalnya tidak senang karena tampang dan penampilan saya tidak meyakinkan. Setiap saya memasuki desa atau berkomunikasi dengan masyarakat Labuhanbatu tidak mengutamakan agar mereka memilih dan mengutus saya, namun berharap mereka mengenal dan membutuhkan saya", ujar Gandi. (rel/msm)

()

Baca Juga

Rekomendasi