Bikin Penasaran

Hewan Punya Ide Bunuh Diri

hewan-punya-ide-bunuh-diri

SEJUmLAH jenis hewan nampak punya ide untuk mengakhiri hidup telah mem­buat manusia penasaran selama berabad-abad. Seorang penulis bernama Jessica Mudditt mengatakan: “Kali pertama saya mendengar soal hewan bunuh diri adalah sete­lah beberapa waktu lalu melihat tarsius di penangkaran, sejenis primata yang ditemukan di Filipina dan Sulawesi.

Primata mirip karakter Yoda film Star Wars versi mungil itu adalah hewan yang aktif pada malam hari, membenci kebisi­ngan, serta menghindari kontak dengan manusia; kesengsaraan terjebak dengan antrean panjang manusia yang ingin selfie sama-sama termasuk saya salah satu­nya, bisa menyebabkan mereka menghan­tam­kan kepalanya ke sangkar sampai mati.

Tentu saja, saya baru mengetahui soal ini sesudah saya me­ninggalkan penang­karan mereka. Saya merasa bersalah.”

Tarsius bukan satu-satunya spesies yang punya kecenderu­ngan bunuh diri. Beberapa kitab klasik menunjukkan kemungkinan hewan telah mengakhiri hidup sendiri sejak berabad-abad lalu. Aristoteles, filsuf kenamaan Yunani itu, menulis tentang kasus kuda yang lompat ke jurang setelah menyadari telah di­kawinkan dengan ibunya sendiri.

Ahli binatang serta media massa pe­na­saran untuk membuktikan kebenarannya. Para ilmuwan belum mengetahui apa yang mendorong kelompok ikan paus yang sehat berenang ke pantai menjemput ke­ma­tian, atau tikus lemming yang kebia­sa­annya meloncat massal dari tebing se­gera masuk khazanah budaya pop.

Ketertarikan orang-orang dengan topik ini tampaknya dimu­lai di Inggris era Victoria. Sebuah artikel berita London rilisan 1845 melaporkan seekor anjing yang tampaknya berusaha menengge­lam­kan diri. Setelah berulang kali dise­la­matkan, anjing itu “lagi-lagi bergegas m­a­suk ke dalam air dan bertekad menahan kepalanya di bawah permukaan air sampai nyawanya melayang.”

Semakin banyak laporan yang ke­mu­dian beredar selama 1870'an dan 1880'an: kisah seekor angsa yang me­nenggelamkan kepalanya sendiri; kucing yang meng­gantung diri dari cabang pohoh setelah anak-anak­nya mati. Menurut pemilihan waktunya, contoh-contoh ini tampak­nya muncul dari gagasan bahwa hewan juga me­miliki batin, dan oleh karena itu harus di­hindar­kan dari rasa sakit dan penderitaan.

Kasus baru-baru ini tentang hewan yang diduga bunuh diri cenderung sema­kin banyak, terutama setelah mengalami kekejaman luar biasa akibat ulah manusia.

Di Tiongkok pada 2011, seekor be­ruang penangkaran dilaporkan mencekik anaknya dan kemudian bunuh diri setelah bayi itu mengalami penyisipan kateter ke dalam perutnya untuk mengeluarkan em­pedunya. Menurut seseorang yang meng­klaim telah menyaksikan prosedur di “pe­ternakan empedu” yang aneh ini, seba­gaimana dikutip di Remin­bao.com:

Melolong

“Sang induk beruang keluar dari kan­dangnya ketika mende­ngar anaknya me­lolong ketakutan sebelum seorang pe­ker­ja menusuk perutnya untuk me­nyedot em­pedu. Karena tidak bisa membebaskan sang anak dari kekangannya, sang induk me­meluk anaknya dan pada akhirnya men­cekiknya. Ia kemudian melepaskan sang anak dan berlari dan menabrakkan kepalanya ke dinding, bunuh diri.”

Penggunaan istilah bunuh diri dianggap “janggal” menurut kerangka pikir ilmiah karena artinya ilmuwan harus membuk­ti­kan niatan sadar seekor hewan untuk mati, ujar Barbara King, antropolog dan penulis How Animals Grieve. “Bagaimana coba caranya manusia mengukur hal-hal seperti itu?” ujarnya.

Meski demikian, King merujuk pada lum­ba-lumba sebagai indikasi yang mung­kin paling kuat bahwa bunuh diri be­nar-benar terjadi di jenis hewan. Dia me­ngatakan lumba-lumba menahan napas sam­pai mati saat berhadapan dengan kematian akibat diburu, atau saat dikurung secara kejam. “Lumba-lumba bernapas secara sadar dan mereka amat cerdas, sampai-sampai mereka mampu membuat rencana dengan cara-cara yang kompleks, jadi mungkin bunuh diri termasuk ke dalam pilihan sadar mereka.”

Dr David Pena-Guzman dari San Francisco State University telah mendalami to­pik bunuh diri hewan selama beberapa tahun. Dia percaya berbagai jenis binatang mampu berperilaku desktruktif pada diri sendiri. “Ada bukti hewan memiliki kehidupan emosional yang kaya,” ujarnya, “serta mengalami emosi negatif seperti PTSD, depresi, kesedihan rumit, dan sete­rusnya, yang lebih umum diakui sebagai ke­cen­derungan bunuh diri.”

Kesedihan

Beberapa hewan peliharan, menurut Pena-Guzman, bisa mati akibat duka saat pemiliknya me­ninggal dunia, seperti manusia saat hewan peliharaan mereka mati. “Hewan peliharaan yang pemiliknya me­ninggal dunia bisa merasakan kese­dihan,” ujarnya. “Di beberapa kasus, me­reka menjadi depresi secara mendalam dan bisa kehilangan tekad untuk hidup. Mereka mogok makan lalu mati.”

Meski demikiam. Antonio Preti, se­orang psikiater dari University of Cagliari, ber­pendapat asumsi semacam itu ha­nyalah proyeksi mental manusia atas jenis berduka manusia yang spesifik pada he­wan. Dia menyampaikan pada BBC jika kematian hewan-hewan ini bisa dijelaskan sebagai gangguan ikatan sosial.

“Hewan-hewan tidak membuat ke­putusan sadar untuk mati; alih-alih, hewan tersebut sangat terbiasa dengan pemi­lik­nya jadi dia tidak mau menerima makanan dari individu lain.”

Menurut beberapa pakar binatang lain, sebagian perilaku hewan yang tampak memiliki dorongan bunuh diri adalah urusan yang sama sekali berbeda. Misal­nya saja paus: mereka adalah makhluk sosial, jadi saat anggota kelompok mereka sakit dan mencari keamanan di perairan dang­kal, yang lain akan menemani. Paus tidak serta-merta menepi ke pantai dengan niatan mengakhiri hidup.

Begitu juga dengan tikus lemming. Tin­dakan mereka me­lompat massal dari tebing bukan bunuh diri. Tindakan itu sebetulnya mitos keliru yang dipicu kartun Disney. Lemming memilih bermigrasi dalam kelompok-ke­lompok besar, saat populasinya sudah terlalu padat dan mereka terlalu bersemangat untuk pergi dari koloni yang lama.

Mereka mencari habitat baru dan mung­kin mati secara tidak sengaja dalam proses tersebut, seperti terpeleset di lereng terjal atau tenggelam di dalam sungai.

Contoh lainnya laba-laba. Induk laba-laba terkadang meng­izinkan anak-anak­nya memakan dirinya sendiri.

Ini bukan bu­nuh diri, melainkan suatu cara memberi bayi-bayinya makanan bernutrisi, yang memastikan kelangsu­ngan hidup mereka. (vc/jm/ar)

()

Baca Juga

Rekomendasi