Polres Taput Hentikan Penyelidikan

Kematian Candra Simamora Menyisakan Misteri

kematian-candra-simamora-menyisakan-misteri

Pahae, (Analisa). Kematian Candra Sima­mo­ra (38 tahun) warga De­sa Pan­tis Kecamatan Pahae Julu Ta­pa­­nuli Uta­ra (Taput), kini bagaikan misteri. Kematian korban yang penuh luka di sekujur tubuh, Minggu (1/9) pekan lalu di Desa Pancurnapitu Kecama­tan Siatas Barita Taput, oleh pi­hak Pol­res Taput disebut akibat kecelakaan lalulintas. Hal itu diperkuat dengan hasil pe­meriksaan sementara autop­si dokter forensik RSUD Dr Djasamen Saragih Pema­tang­siantar.

Pihak keluarga ketika dite­mui di kediamannya Desa Pan­tis Pahae Julu, Jumat (6/9) ma­sih berharap pihak Polres Ta­put dapat lebih serius me­ngung­­kap kasus ini.

Orangtua korban, D Sima­mora dan Br Tambunan, mela­lui dua putranya, Uppi Sima­mo­ra dan Juswardi Simamora menduga, laka lantas yang disebut pihak Polres sebagai penyebab kematian Candra, mungkin adalah penyebab a­khir. Sementara penyebab a­walnya adalah pemukulan a­tau pengeroyokan.

Hal ini juga sejalan dengan pesan yang disampaikan kor­ban saat dibawa ke Puskesmas Onan Hasang bahwa ia bukan kecelakaan tapi dipukuli orang.

“Saat ditemukan tergeletak di pinggir jalan dan dibawa ke Puskesmas Onan Hasang, Can­dra masih dapat berko­mu­ni­kasi. Dan dihadapi kami ia me­nyebutkan, “Dang na ke­ce­lakaan au, alahi na dipa­laki halak do au” (Aku bukan ke­ce­lakaan tapi karena di­pukuli orang),” jelas Jus­wardi, adik korban, menirukan pesan almarhum.

Saat ditanya siapa yang memu­kulinya, ia menyebut­kan, “Diboto hamu do anndon i” (tahunya kalian nanti itu).

Selain itu, tambah Jus­wardi, meski bagian belakang tu­buhnya luka lecet, namun baju yang dikenakan korban tidak ada robek. Mereka menduga, luka lecet tersebut bukan dampak dari kecela­kaan, tapi memang se­ngaja di­seret oleh orang-orang yang me­mukulknya,” tam­bah Uppi, abang kandung korban.

Informasi dikumpulkan, kematian korban berawal ketika Candra bersama te­­man­nya marga Srg, Sabtu (31/8) ma­lam dengan mengen­darai sepeda mo­tornya, ber­kun­­jung di kafe yang ada di ka­­wasan Desa Sima­som Pan­cur Napitu.

Diduga, karena dana yang mereka miliki kurang, Srg dengan mengendarai kenda­ra­an korban, pergi ke arah kot­a untuk mengambil uang di ATM. Se­mentara Candra ting­gal di kafe.

Selang sekira satu jam, saat Srg kem­bali ke lokasi, dida­patinya kafe sudah tutup. Dan ia terkejut, tidak jauh dari lo­kasi tersebut, Candra dite­mu­kannya tergeletak di ping­gir jalan.

Srg disebut berupaya men­cari ban­tuan termasuk meng­gedor pemilik kafe. Korban Candra yang saat ini masih ber­nyawa, akhirnya dilarikan ke Pus­kesmas Onan Hasang se­te­lah ada orang yang me­ngenalnya melintas di lokasi tersebut.

Namun karena kondisi korban cukup parah, luka lecet di sekujur tubuh, luka di ke­pala, pipi dan te­linga, tanda-tan­da patah tulang iga kanan dan kaki kiri, korban selanjutnya dilarikan ke RSUD Tarutung.

“Saat masih di Puskesmas itulah korban berpesan kalau ia bukan kece­lakaan tapi karena dipukuli orang,” ulang Juswardi.

Namun hanya beberapa jam dirawat di RSUD Tarurung, atau Minggu (1/9) sekira pukul 08.30 WIB, korban Candra mengem­buskan nafas terakhir.

Jenazah korban pun di bawah ke RS­UD Dr Djasamen Sa­ragih Pema­tang­­siantar untuk di­la­kukan autopsi. Pihak Polres yang mendapat laporan pun sesungguhnya langsung bekerja dengan memeriksa 16 saksi, termasuk Srg dan pemilik serta pengunjung kafe.

Penyelidikan Dihentikan

Namun dalam gelar perkara yang dilakukan Senin (2/9) di Aula Tri Brata Polres Taput di­pimpin Kasat Reskim AKP Zul­karnaen SH, disimpulkan, “per­kara dugaan tindak pidana pe­nganiayaan tidak dapat diting­katkan ke proses penyel­idikan, dan perkara ini dihentikan (SP3). Selanjutnya koordinasi menga­rahkan tindak lanjut perkara ke unit laka lantas.

“Perasaan kami kian terpukul mengetahui pihak Polres Taput meng­­hentikan proses penyelidi­kan kasus ini. Kami tidak me­ngerti, apakah hal seperti ini bo­­leh dilakukan pihak kepoli­sian,” kata Uppi.

“Hal lain yang membuat kami bingung, kalaupun ka­sus ini dialihkan ke unit laka lan­tas, sampai saat ini pihak Lan­­tas Polres Taput juga belum ada mela­kukan langkah-langkah pemerik­saan/penyelidikan, khu­­­­susnya di tempat kejadian per­­kara. Karenanya kami ber­harap pihak Polres Taput lebih serius menangani kasus ini,” tambah Uppi Simamora. (mp/can)

()

Baca Juga

Rekomendasi