Strategi Bersaing UMKM Cloud Kitchen ala Lontong Hj Winna

Strategi Bersaing UMKM Cloud Kitchen ala Lontong Hj Winna
UMKM Cloud Kitchen Lontong Hj Winna (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Pandemi Covid-19 memberi banyak dampak pada koperasi dan UMKM di Indonesia. Koperasi dan UMKM merupakan jenis usaha yang memiliki peran penting dalam peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) suatu negara, khususnya di Indonesia.

Melihat kondisi perekonomian yang menurun akibat pandemi, mengakibatkan beberapa sektor terkena dampaknya, misalnya sektor UMKM. Dalam menangani dampak tersebut, ada UMKM yang mampu bertahan dan ada pula yang tidak mampu bertahan.

Untuk tetap berjalan mahasiswa dari Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sumatera Utara (USU) terdiri dari Yunanda Sibarani, Anzala Sahru Ramadhan, Faranisa Amalia, M Aditya Rifki Ginting dan Leonardo Giovandhi mengadopsi teknologi digital.

"Salah satu UMKM yang mampu mempertahankan bisnisnya di tengah dampak pandemi ini adalah UMKM Lontong Hj Winna yang menjual sarapan pagi berupa lontong dan juga nasi gurih dengan mengadopsi teknologi digital yang diterapkan melalui sistem pembelian online maupun pembayaran online," kata Yunanda, Jumat (19/11).

Menurut Yunanda, berdirinya usaha ini dilatarbelakangi dari hobi memasak oleh pemilik serta adanya ketidaksetujuan salah satu anggota keluarga untuk bekerja di luar rumah. Lontong Hj Winna lebih berfokus pada penjualanan online, hal ini didorong oleh karena adanya revolusi Industri 4.0 yang membuat semuanya serba digitalisasi termasuk dalam hal memesan makanan.

"Untuk produksi dimulai dari proses belanja bahan produksi. Kegiatan belanja bahan produksi dilakukan perhari dikarenakan usaha ini mempunyai produk berbentuk makanan sehingga diperlukan proses produksi harian," terangnya.

Karena menjual makanan untuk sarapan pagi, Lontong Hj Winna buka dari jam 6 sampai jam 11 pagi. Makanan dari Lontong Hj Winna menawarkan produk yang mempunyai rasa yang enak, nilai gizi yang tinggi serta higienitas.

"Hal tersebut menunjang penjualan ke segmen menengah ke atas yang sangat memperhatikan kualitas. Dalam penerapan harga pada produk nasi uduk dan lontong sayur dalam penjualan secara langsung di gerai diterapkan harga mulai dari 11.000 - 25.000 tergantung dengan pilihan menu dan untuk produk kue kue-an dimulai dari 2.500 per-pcs," terang Yunanda.

Untuk harga produk yang dijual secara online diterapkan harga mulai dari 13.000-32.000 untuk produk nasi uduk dan lontong sayur tergantung dengan pilihan menu dan untuk produk kue kuean diterapkan mulai dari 3.000 per-pcs. Dari penerapan harga tersebut bisa dikatakan bahwa harga harga produk yang dijual memang ditujukan untuk kelas menengah.

Yunanda menambahkan, distribusi produk dilakukan dengan cara langsung dari gerai penjualan serta bermitra dengan platform jasa pengiriman online. Alasan dari UMKM ini membuka gerai penjualan secara langsung adalah untuk lebih mengenal konsumen dan dapat berkomunikasi secara langsung.

"Sedangkan untuk pembukaan platform secara online karena mengikuti perkembangan zaman dan guna menghadapi dampak pandemi Covid-19. Dalam promosinya Lontong Hj Winna menggunakan word of mouth, menyebarkan brosur hingga mendaftarkan UMKM dalam Google Business," tambahnya.

"Selain itu strategi dalam meningkatkan kepuasan pelanggan, strategi yang digunakan adalah dengan tetap menjaga kualitas rasa makanan dan meningkatkan kualitas servis yang lebih mendekatkan diri pada pelanggan," tandas Yunanda.

(JW/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi