Sinergi di Sergai: 29 Ribu Pohon Sawit Tanzania Resmi Dilepas untuk Perkuat Plasma Nutfah Nasional (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Serdang Bedagai – Industri kelapa sawit Indonesia bersiap memasuki babak baru. Di tengah tantangan stagnasi produksi dalam lima tahun terakhir, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) RI melakukan langkah besar dengan melepas Sumber Daya Genetik (SDG) kelapa sawit asal Tanzania di perkebunan PT Socfindo Tanah Besih, Serdang Bedagai, Selasa (5/5/2026).
Langkah pengayaan plasma nutfah ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), PT Socfindo, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), serta didukung oleh pendanaan dari BPDPKS.
Sebanyak 102 aksesi bibit sawit—terdiri dari tipe buah nigrescens dan virescens—resmi diserahterimakan. Kehadiran genetik asal Tanzania ini dinilai sangat strategis karena memiliki karakteristik unik yang diharapkan mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan produktivitas.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementan RI, Ir. Ali Jamil Harahap, Ph.D, mengungkapkan kegembiraannya atas potensi bibit asal Afrika Timur ini.
"Rupanya potensi Tanzania ini bisa tumbuh di dataran tinggi. Ini langkah strategis untuk meningkatkan daya saing komoditas kelapa sawit kita di kancah global," ujar Ali Jamil.
Sebelum dilepas ke industri, puluhan ribu bibit ini telah melewati proses pengamatan dan pengasingan yang sangat ketat oleh Badan Karantina Indonesia di kebun PT Socfindo.
Direktur Manajemen Resiko Karantina Tumbuhan, Aprida Cristin, menegaskan bahwa setiap bahan hayati yang masuk harus "berkenalan" dulu dengan sistem karantina untuk memastikan keamanan dari organisme pengganggu.
"Karantina tidak berdiri untuk membatasi inovasi, tetapi memastikan inovasi tumbuh dengan aman. Kita ingin varietas masa depan Indonesia tidak hanya unggul produksinya, tapi juga tangguh menghadapi hama dan perubahan iklim," tegasnya.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa sumber daya genetik adalah fondasi utama industri. Tanpa keragaman genetik yang kuat, industri sawit akan sulit beradaptasi dengan standar global dan tuntutan keberlanjutan.
"Ini bukan sekadar kegiatan teknis, tapi upaya memperkuat modal hayati bangsa. Setelah Tanzania, kami juga tengah mempersiapkan eksplorasi lanjutan ke Zambia untuk terus memperkaya plasma nutfah sawit Indonesia," ungkap Eddy.
General Manager PT Socfindo, Erikson Ginting, menyatakan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan kepada PT Socfindo sebagai lokasi pembibitan dan pelepasan. Ia mencatat, konsorsium ini telah melakukan perjalanan panjang mulai dari Kamerun (2008), Angola (2011), hingga Ekuador (2017).
Acara bersejarah ini ditandai dengan penyerahan sertifikat 29.281 pohon sawit asal Tanzania dari pihak Karantina kepada PT Socfindo, serta pemberian penghargaan kepada para periset yang telah bertaruh tenaga melakukan eksplorasi di Afrika.
(BAH/RZD)