Galih Priya Kartika Perdhana, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soetta (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Tangerang - Imigrasi Soekarno–Hatta (Soetta) kembali menegaskan perannya sebagai garda terdepan bangsa dengan meraih prestasi internasional.
Lembaga survei global SKYTRAX menempatkan Imigrasi Soetta pada peringkat 10 Terbaik Dunia, sebuah capaian yang mencerminkan perpaduan pelayanan prima dan standar keamanan berkelas global.
Sebagai pintu gerbang utama Indonesia, Imigrasi Soetta memiliki peran strategis, bukan hanya dalam pengawasan orang asing, tetapi juga sebagai representasi awal wajah Indonesia di mata dunia.
Ibarat orang pertama yang membuka pintu rumah untuk menerima tamu, petugas imigrasi dituntut untuk ramah dan bersahabat, namun tetap harus tegas dalam menegakkan aturan. Dua sisi peran inilah yang menjadikan Imigrasi Soetta bukan sekadar pelayan publik, tetapi juga penjaga kedaulatan negara.
Kedatangan wisatawan atau warga asing ke Indonesia, sebagaimana digambarkan, ibarat dua sisi mata uang. Mereka membawa potensi ekonomi yang besar, tetapi pada saat yang sama berpotensi menimbulkan kerawanan jika tidak diantisipasi. Karena itu, fungsi keimigrasian tidak lagi hanya bersifat administratif, melainkan menjadi benteng keamanan sekaligus wajah pertama sebuah bangsa.
Imigrasi memang menerapkan pengawasan berlapis yang terdiri dari tiga tahap utama:
Profiling sejak pengajuan visa di perwakilan RI di luar negeri.
Pemeriksaan saat kedatangan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI).
Pengawasan setelah berada di wilayah Indonesia, termasuk koordinasi dengan instansi terkait.
Melalui mekanisme ini, Imigrasi memastikan bahwa hanya orang yang bermanfaat dan tidak membahayakan keamanan negara yang dapat memasuki Indonesia. Prinsip ini dikenal sebagai Selective Policy.
Dalam program Bincang Tipis-Tipis di kanal Tale Trias Info, host Erman Tale Daulay mewawancarai Galih Priya Kartika Perdhana, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soetta, Jumat (8/5/2026).
Pada kesempatan itu, Galih menegaskan bahwa capaian peringkat 10 dunia versi SKYTRAX bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba.
“Ini peringkat 10 dunia, lho. Ini bukan hasil rekayasa, tetapi murni hasil survei terhadap ratusan ribu penumpang internasional,” ujar Galih.
Ia menekankan bahwa penghargaan ini diraih berkat persiapan matang dan peningkatan berkelanjutan di berbagai aspek pelayanan dan keamanan. Bahkan, Menteri IMIPAS Agus Andrianto memberikan apresiasi dan mendorong peningkatan peringkat ke level yang lebih hebat pada tahun berikutnya.
Kombinasi Pelayanan dan Keamanan, Dua Pilar Utama
Galih menjelaskan bahwa kunci prestasi Imigrasi Soetta terletak pada dua pilar utama: Pelayanan prima berbasis teknologi digital “seamless."
Imigrasi Soetta menerapkan layanan digital yang memudahkan penumpang melalui sistem yang cepat, ringkas, dan minim kontak.
Fitur utamanya antara lain:, autogate yang memungkinkan penumpang melintas pintu hanya dalam waktu sekitar 15 detik, jauh lebih cepat dibanding pemeriksaan manual.
Form kedatangan digital melalui All Indonesia yang dapat diisi via ponsel sebelum tiba di Indonesia.
Integrasi sistem yang mendukung pengalaman “seamless travel”, tanpa antre panjang dan tanpa prosedur berulang.
Dengan sistem ini, proses kedatangan menjadi lebih efisien, nyaman, dan selaras dengan standar bandara-bandara kelas dunia.
Kemudian, keamanan berlapis dan ketat
Di sisi lain, Imigrasi Soetta memastikan keamanan melalui berbagai instrumen penunjang, termasuk:
Sistem profiling penumpang.
CCTV yang dibekali dengan teknologi pengenalan muka, dan sistem pemantauan berbasis data.
Autogate yang berfungsi sebagai filter keamanan, mendeteksi penumpang yang bermasalah.
Dukungan petugas Polisi Khusus (Polsus) serta pengawasan internal terhadap kepatuhan petugas.
“Kalau orang bermasalah pasti terdeteksi. Kalau pintu autogate tidak terbuka, petugas langsung bertindak,” jelas Galih.
Galih juga menyoroti pentingnya sumber daya manusia. Petugas dituntut untuk selalu berjalan sesuai koridor, menjaga integritas, dan menampilkan keramahan sebagai frontliner bangsa. Aspek-aspek ini turut memperkuat kesan positif di mata penumpang internasional.
Prestasi internasional ini menunjukkan bahwa Imigrasi Soetta mampu memadukan pelayanan kelas dunia dengan keamanan berstandar tinggi, sebuah kombinasi yang sekarang menjadi tuntutan global. Namun bagi Galih dan jajarannya, penghargaan ini bukan titik akhir, melainkan tantangan untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
“Ini menjadi peluang dan tantangan bagi kami.
Harapannya, tahun depan kita bisa naik peringkat, setidaknya menjadi yang ketujuh terbaik dunia,” pungkasnya.
(KAH/RZD)