BNN Dorong Kawasan Rawan Narkoba Jadi Ekonomi Sentra Produktif Lewat Life Skill

BNN Dorong Kawasan Rawan Narkoba Jadi Ekonomi Sentra Produktif Lewat Life Skill
BNN Dorong Kawasan Rawan Narkoba Jadi Ekonomi Sentra Produktif Lewat Life Skill (Analisadaily/Rudi Erianto S)

Analisadaily.com, Madina - Badan Narkotika Nasional (BNN) terus memperkuat upaya pemberdayaan masyarakat di kawasan rawan narkoba melalui program peningkatan keterampilan dan pengembangan usaha produktif.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Life Skill bagi masyarakat kecamatan Panyabungan Timur yang berada pada kawasan rawan tanaman terlarang yang digelar di Aula Kantor Camat Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan tersebut dibuka Direktur Pemberdayaan Alternatif BNN, Brigjen Pol. Edi Swasono. Ia menegaskan program pemberdayaan alternatif merupakan bagian dari Grand Design Alternative Development (GDAD) yang bertujuan mendorong perubahan sosial dan ekonomi masyarakat di kawasan rawan narkoba agar menjadi lebih produktif, mandiri, dan sejahtera.

‎"Program pemberdayaan alternatif hadir sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di kawasan rawan narkoba. Melalui program ini, masyarakat didorong memiliki sumber penghasilan yang legal, produktif, dan berkelanjutan," ujar Edi.

‎Ia menjelaskan, berdasarkan data Indeks Kawasan Rawan Narkoba (IKRN), masih terdapat ribuan kawasan rawan narkoba di Indonesia. Di Provinsi Sumatera Utara sendiri tercatat ratusan kawasan yang masuk kategori rawan, termasuk beberapa wilayah di Kabupaten Mandailing Natal yang menjadi fokus BNN.

Menurut Edi, selama ini sejumlah kawasan di Madina masih menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang berpotensi memicu keterlibatan masyarakat dalam aktivitas yang melanggar hukum.

Karena itu, BNN hadir melalui program pembangunan alternatif dengan memberikan pelatihan keterampilan sekaligus pendampingan usaha bagi masyarakat.

‎"Kami ingin mengubah stigma negatif yang selama ini melekat pada kawasan rawan narkoba menjadi kawasan yang produktif dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya," katanya.

Sebagai bagian dari program tersebut, BNN tidak hanya memberikan pelatihan life skill, akan tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

‎Saat ini, BNN mendorong pengembangan usaha produksi Tusuk Sate dan budidaya pisang Abaqa yang dinilai memiliki potensi pasar yang baik dan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

"Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya mampu berproduksi, tetapi juga memiliki akses pasar yang jelas sehingga hasil usahanya dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

‎Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan keterampilan usaha dari para instruktur. ‎

Berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah, kecamatan, desa hingga pelaku usaha turut dilibatkan untuk mendukung pengembangan usaha masyarakat melalui akses permodalan, promosi, dan pemasaran produk.

‎Edi menegaskan bahwa keberhasilan program pemberdayaan alternatif tidak dapat dilakukan oleh BNN sendiri.

Diperlukan kolaborasi seluruh pihak agar masyarakat yang telah memperoleh pelatihan benar-benar mampu mengembangkan usaha secara mandiri.

"Kami ingin masyarakat yang mengikuti pelatihan ini tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga mendapatkan dukungan agar usahanya berkembang dan berkelanjutan," katanya.

Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, program pembangunan alternatif juga menjadi bagian dari upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Menurut Edi, ketika masyarakat memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak dari usaha yang legal, maka potensi keterlibatan dalam aktivitas narkotika akan semakin berkurang.

‎Ia menyebutkan bahwa keberhasilan mengalihkan profesi masyarakat dari aktivitas yang berisiko menuju usaha produktif akan memberikan dampak besar bagi lingkungan dan generasi mendatang.

"Kalau masyarakat bisa hidup layak, menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memperoleh penghasilan dari usaha yang legal, tentu mereka tidak akan kembali pada aktivitas yang melanggar hukum," tegasnya.

BNN juga menargetkan perubahan kondisi kawasan rawan narkoba melalui program jangka menengah selama lima tahun.

Evaluasi keberhasilan program akan dilakukan melalui Indeks Intervensi Kerawanan Narkoba (IKRN) dengan target menurunkan tingkat kerawanan dari kategori bahaya menjadi waspada hingga akhirnya masuk kategori aman. (RES)

(WITA)

Baca Juga

Rekomendasi