Akses 18 Km Lantak bak Batu Padas, Warga Dairi Sindir Janji 'Angin Surga' Politisi Saat Pemilu

Akses 18 Km Lantak bak Batu Padas, Warga Dairi Sindir Janji 'Angin Surga' Politisi Saat Pemilu
Akses 18 Km Lantak bak Batu Padas, Warga Dairi Sindir Janji 'Angin Surga' Politisi Saat Pemilu (Analisadaily/Sarifuddin Siregar)

Analisadaily.com, Sidikalang - Ruas jalan provinsi menghubungkan Desa Sumbul Tengah, Kecamatan Tigalingga-Lingga Raja, Kecamatan Pegagan Hilir, Kabupaten Dairi rusak parah.

Bones Sihombing (70) penduduk Desa Bukit Tinggi Kecamatan Pegagan Hilir mengeluhkan buruknya infrastruktur di bawah kewenangan gubernur tersebut.

“Tidak ada gunanya kami memenangkan politisi pada Pemilu lalu. Tetapi juga tidak menyesal. Sebab, menyesal tiada guna,” ujar Bones, Jumat (19/6/2026).

Dijelaskan, pada Pilkada 2024, mayoritas penduduk memenangkan Bobby Nasution menjadi Gubernur Sumut. Bupati, Vickner Sinaga juga menang. Namun manfaat yang dirasakan masyarakat nihil.

“Tidak ada manfaat bagi rakyat memilih Bobby jadi Gubernur dan Vickner jadi Bupati. Tetap saja jalan hancur,” kata Bones.

Begitu juga legislator dari tingkat kabupaten hingga pusat, tak terlihat konstribusi nyata.

“Masyarakat hanya jadi korban politik. Korban buaian angin sorga. Kalau saya menang, akan begini dan begitu. Setelah menang, seakan tak peduli. Faktanya, tiada pembangunan. Padahal, rakyat bayar pajak,” ujar Bones.

Dijelaskan, khusus ruas jalan provinsi, akses hancur mencapai 18 Kilometer. Sedangkan ruas jalan kabupaten dan desa hampir semua berantakan.

Bila tamu atau sanak famili dari luar daerah berkunjung, pasti bersungut-sungut. Enggak disangka sedemikian lantak. Makanya, tidak ada mobil angkot masuk kecuali milik teman sekampung.

Dia merinci, sebagian permukaan jalan tinggal tanah dan lainnya berupa batu padas. Tetapi, namanya tetap jalan provinsi. Bentuknya juga beraneka hingga berlobang dan curam.

“Petani di daerah ini gigih. Lahan dikelola produktif. Sekarang lagi panen jagung. Nanti berganti kakao, cabe, durian dan lainnya,” kata Bones.

Dampak kerusakan jalan, harga jual hasil tani minimal lebih rendah Rp200 per kilo dibanding di jalan bagus. Berapa banyak kerugian diderita petani?

“Sepertinya, kami bakal apatis terhadap politisi. Pura-pura baik ketika ada maunya. Sudah 7 tahun jalan berantakan,” tandas Bones.

Anggota DPRD Sumut, Alfriansah Ujung mengatakan, kebutuhan masyarakat itu sudah disuarakan ke pemerintah.

“Sudah disetujui eksekutif. Namun dipangkas oleh pemerintah pusat dengan dalih efisiensi,” kata Alfri.

Khusus jalur itu, sebut legislator dari PDI Perjuangan, menjadi atensi khusus. Akan terus disuarakan bersama anggota dewan Dapil Sumut 11.

Alfri menyebut, telah menitip aspirasi itu ke anggota DPR RI Dapil Sumut 3.

“Mari kita doakan sama-sama agar keuangan negara bisa normal,” kata Alfri.

(SSR/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi