Analisadaily.com, Medan - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa-siswi Sutomo 1 Medan di kancah robotik internasional. Lima tim baik itu tingkat SD, SMP maupun SMA yang dikirim mengikuti World Greenmech Competition 2026 di Nonthaburi Province, Thailand, 7-9 Agustus 2026 membuat hasil dan berhasil membawa pulang medali.
Dari lima tim tersebut, dua tim meraih medali emas, satu tim perak dan dua tim lainnya meraih medali perunggu.
Tim Genesis SMP Sutomo 1 yang terdiri dari Enzo Daniel Tanryo, Darrick Antonio Ang, Cinta Michaele Wijaya dan Harold Alexander Cheng berhasil meraih medali emas atau Juara I pada kategori R4M Basic.
Prestasi serupa juga diraih Team A SMA Sutomo 1 yang terdiri dari Edric Daniel Tanryo, Voss Stanley Chandra, Cayden Daevon Nyo dan Steven Agustino Sinaga. Tim ini juga berhasil meraih medali emas atau Juara I.
Sementara itu, tim Titan Warrior dari SD Sutomo 1 yang diperkuat Davin Delis, Rommel Reynard Chan dan Harry Alexander Cheng meraih medali silver atau Juara II.
Dua tim lainnya, yakni Alpha Tech dari SD Sutomo 1 yang beranggotakan Kenzie Devlin Wibisono, Xavier Kingssen Leeon dan Stanley Ace Lorence serta tim Eternal Magic dari SMP Sutomo 1 yang diperkuat Brian Wennar, Reynard Chan, Nadya Aretha Ui dan Marco Yulio, masing-masing meraih medali Bronze atau Juara III.
Kelima tim tersebut didampingi guru pendamping Willy Koputra. Keberhasilan memborong lima juara I ni menjadi bukti konsistensi Sutomo 1 dalam mengembangkan kemampuan siswa di bidang robotik. Seperti diketahui bahwa Indonesia sendiri mengirim 52 tim ke ajang tersebut. Dari 52 tim, 5 tim di antaranya adalah tim Sutomo 1. Dan kelima tim tersebut semuanya berhasil juara.
“Sekolah telah mempersiapkan para peserta melalui proses seleksi secara bertahap, mulai dari tingkat sekolah, kota hingga nasional, sebelum akhirnya dikirim untuk mengikuti kompetisi internasional,” ujar Kepala sekolah SMA Sutomo 1 Medan Ir. Khoe Tjok Tjin, Kamis (13/8/2026) yang didampingi Kepala Sekolah SMP Sutomo 1 Medan Dwigamar Hadi Purwanto, B.IT, M.Kom dan Kepala Sekolah SD Sutomo 1 Medan Helen, S.Si., Apt.
Ia menegaskan, persiapan menghadapi kompetisi tidak dilakukan secara instan. Para siswa telah menjalani latihan selama berbulan-bulan dengan berbagai simulasi dan evaluasi.
Pengembangan robotik di Sutomo 1 sendiri bukan program yang baru dimulai. Sekolah telah mengembangkan pembelajaran robotik dan mengikutsertakan siswa dalam berbagai kompetisi, termasuk World Robot Olympiad (WRO).
“Pesan saya jangan pernah puas dan terus belajar serta berusaha. Teknologi robot akan semakin berkembang dan ke depan akan menguasai banyak bidang. Karena itu, anak-anak harus terus berlatih dan bekerja keras,” demikian pesan sekolah kepada para siswa.
Bukan hanya itu, ia juga mengatakan bahwa mempertahankan prestasi juga cukup sulit. Apalagi tahun depan tantangannya juga semakin berat. “Harus terus banyak belajar biar bisa mempertahankan prestasi,” jelasnya.
Salah seorang anggota Team A SMA Sutomo 1, Edric Daniel Tanryo, mengatakan bahwa prestasi ini bukan kali pertamanya ia raih di bidang robotik. Dua tahun lalu, Edric juga pernah mengikuti kompetisi di Bandung bersama tim yang berbeda.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting. Pengalaman tersebut menjadi bekal ketika menghadapi kompetisi di Thailand. Menurut Edric, persaingan tahun ini terasa lebih ketat karena berlangsung di negara lain dengan tantangan yang berbeda.
Sementara itu, Enzo Daniel Tanryo, anggota Genesis SMP Sutomo 1, baru pertama kali mengikuti kompetisi tersebut. Ia mengaku awalnya diajak oleh sang kakak yakni Edric untuk mencoba robotik, namun kemudian terus mengikuti latihan dan kompetisi.
Bagi Enzo, keberhasilan meraih emas menjadi pengalaman penting karena setiap anggota tim memiliki gagasan dan rancangan yang berbeda. Hal senada disampaikan Harold Alexander Cheng. Ia menilai kekompakan tim menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi tantangan kompetisi. Menurutnya, keberadaan rekan satu tim yang saling membantu membuat mereka mampu melewati berbagai persoalan selama pertandingan.
“Kami harus tetap berjuang sebagai satu tim. Trek yang kami hadapi memang tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi, tetapi karena yang dibutuhkan adalah problem solving, kami tetap berusaha mencari solusi bersama,” katanya.











