BBM Subsidi di Madina Disorot, Binsar Nasution Ungkap Modus Barcode

BBM Subsidi di Madina Disorot, Binsar Nasution Ungkap Modus Barcode
BBM Subsidi di Madina Disorot, Binsar Nasution Ungkap Modus Barcode (Analisadaily/Rudi Erianto S)

Analisadaily.com, Madina - Dugaan praktik penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan. Anggota DPRD Madina, Binsar Nasution, meminta aparat kepolisian turun tangan melakukan penertiban terhadap kendaraan yang diduga memanfaatkan BBM subsidi secara tidak semestinya.

Sorotan itu mencakup penggunaan barcode yang diduga tidak sesuai dengan nomor kendaraan hingga kendaraan yang disebut Binsar sebagai "tangki siluman", yakni kendaraan yang diduga berulang kali mengantre untuk mendapatkan BBM subsidi.

‎Binsar berharap penertiban dapat dilakukan aparat, khususnya Polres Madina. "Semoga besok ada penertiban pada mafia-mafia minyak subsidi, terutama yang memakai barcode tak sesuai dengan nomor kendaraan, dan tank siluman yang setiap hari antre di SPBU," kata Binsar, Selasa (11/8/2026).

‎Binsar mempertanyakan pola pengisian BBM sejumlah kendaraan yang menurutnya terlihat tidak wajar.

‎Ia mencontohkan kendaraan yang telah mengisi BBM dalam jumlah penuh, tetapi kembali terlihat mengantre di SPBU pada sore hari atau keesokan harinya. "Hari ini isi penuh, masa besok atau sorenya isi lagi. Lalu ke mana dia habiskan minyak itu?" ujarnya.

‎Menurut Binsar, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena pemerintah telah memiliki perhitungan mengenai kebutuhan BBM kendaraan berdasarkan kapasitas tangki dan penggunaan kendaraan.

‎"Menurut hitungan pemerintah, satu tank kendaraan cukup berjalan untuk 24 jam. Kalau kendaraannya berjalan 24 jam, enggak mungkin dia bisa mengisi BBM di Madina lagi. Pasti besoknya sudah enggak di Madina," katanya.

‎Karena itu, dia meminta aparat tidak hanya mengawasi proses pengisian BBM di SPBU, tetapi juga menelusuri kendaraan setelah keluar dari SPBU.

‎Binsar juga mengungkap hasil pemantauan yang dilakukan bersama sejumlah mahasiswa.

‎Dari pemantauan tersebut, dia mengklaim menemukan kendaraan yang diduga tidak lagi digunakan sebagai kendaraan penarik sewa atau pengangkut barang sebagaimana mestinya.

‎Kendaraan tersebut, kata dia, diduga justru digunakan untuk mendapatkan BBM subsidi. Setelah mendapatkan BBM, bahan bakar yang berada di dalam tangki kendaraan diduga dikeluarkan untuk kemudian dijual kembali.

‎"Dari pemantauan kami dengan adik-adik mahasiswa, banyak kendaraan tidak lagi penarik sewa/barang, tapi justru mencari minyak. Kemudian minyak itu dikeluarkan dari tank kendaraannya, lalu dijual dan pergi lagi mengisi ke SPBU," ungkapnya.

‎Jika pola tersebut benar terjadi, kata Binsar, maka kendaraan dapat melakukan pengisian berulang kali.

‎Ia bahkan menduga praktik tersebut tidak mungkin berjalan sendiri apabila tidak ada pihak lain yang membantu atau bekerja sama.

‎"Tentu ini bisa dilakukan berulang karena ada yang membekingi atau bekerja sama melakukannya," katanya.

‎Binsar meminta Kapolres Madina melakukan penindakan apabila ditemukan pelanggaran dalam distribusi BBM subsidi di lapangan.

Menurut dia, pengawasan diperlukan untuk memastikan BBM subsidi tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. ‎"Hal-hal seperti ini perlu Pak Kapolres melakukan penindakan agar tertib di lapangan," tegasnya.

‎Ia berharap penertiban dilakukan secara menyeluruh, termasuk memeriksa kesesuaian barcode dengan nomor polisi kendaraan, pola pengisian berulang, serta dugaan pengeluaran BBM dari tangki untuk kemudian diperjualbelikan.

Persoalan tersebut dinilai penting karena BBM subsidi merupakan barang yang mendapatkan dukungan pemerintah dan diperuntukkan bagi masyarakat serta kelompok pengguna yang memenuhi ketentuan. (RES)

(WITA)

Baca Juga

Rekomendasi