Dosen ITSI PKM di Desa Serbananti, Teknologi Spore Trap Deteksi Penyakit Karat Daun

Dosen ITSI PKM di Desa Serbananti, Teknologi Spore Trap Deteksi Penyakit Karat Daun
Dosen ITSI PKM di Desa Serbananti. (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Serdang Bedagai - Para dosen dari lintas perguruan tinggi berkolaborasi menggelar program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk "Pemberdayaan Pekebun Kelapa Sawit melalui Pemanfaatan Teknologi Spore Trap sebagai Sistem Deteksi Dini Penyakit Karat Daun Berbasis Mikroklimat" menggandeng Perkumpulan Pekebun Tunas Sawita (PPTS), Desa Serbananti, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai.

Ketua Tim PKM, Guntoro, SP, MP merupakan dosen Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) didampingi anggota Nurliana, SP, MP sebagai anggota serta Helmi Kurniawan, ST, MT dari Universitas Potensi Utama, Senin (17/8) menyampaikan, program ini bentuk dukungan pemerintah dalam penguatan pemberdayaan masyarakat melalui peran perguruan tinggi.

Kali ini dengan skema PKM tahun pendanaan 2026 disalurkan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI.

Melibatkan mitra pekebun, tim PKM mendeteksi kondisi dan permasalahan pekebun dengan survei lapangan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi perkebunan, permasalahan yang dihadapi pekebun serta pemahaman masyarakat terhadap penyakit tanaman dan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan penyakit.

Guntoro mengatakan, pendekatan program diawali dengan melihat kondisi nyata di lapangan sebelum menentukan bentuk pendampingan yang diberikan.

“Program ini benar-benar berangkat dari kebutuhan pekebun. Karena itu, sebelum memberikan teknologi dan pelatihan, kami terlebih dahulu melihat kondisi kebun serta permasalahan yang dihadapi pekebun di lapangan,” ujar Guntoro.

Menurutnya, pengelolaan penyakit tanaman membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan tindakan pengendalian ketika gejala telah muncul, tetapi juga perlu diarahkan pada upaya pemantauan dan deteksi lebih awal.

Setelah survei, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan penyuluhan kepada anggota Perkumpulan Pekebun Tunas Sawita (PPTS).

Teknologi Spore Trap

Dalam kegiatan tersebut, jelasnya, pekebun diperkenalkan dengan teknologi spore trap sebagai salah satu alat bantu untuk melakukan pemantauan keberadaan spora di lingkungan perkebunan.

Teknologi ini diharapkan dapat membantu pekebun memperoleh informasi lebih awal mengenai keberadaan inokulum penyakit, yang selanjutnya dapat dikaitkan dengan kondisi mikroklimat di sekitar tanaman.

Guntoro menjelaskan, pengenalan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong perubahan pola pengamatan penyakit di tingkat pekebun.

“Kita ingin mengubah pola berpikir dari menunggu penyakit terlihat baru bertindak menjadi lebih aktif melakukan pemantauan dan deteksi dini. Spore trap menjadi salah satu alat bantu untuk melihat keberadaan spora di lingkungan kebun,” jelasnya.

Dalam kegiatan penyuluhan, pekebun juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya memperhatikan kondisi mikroklimat, seperti suhu, kelembapan, curah hujan dan kondisi lingkungan lainnya yang berkaitan dengan perkembangan penyakit.

“Spore trap tidak berdiri sendiri. Informasi mengenai spora akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan kondisi mikroklimat. Karena itu, pekebun perlu memahami hubungan antara kondisi lingkungan dengan perkembangan penyakit tanaman,” katanya.

Tim PKM juga menyerahkan peralatan berupa spore trap dan mikroskop kepada PPTS, sebagai bentuk dukungan sarana yang dapat dimanfaatkan kelompok pekebun dalam kegiatan pemantauan di lapangan.

Spore trap digunakan sebagai perangkat untuk membantu menangkap dan memantau keberadaan spora, sedangkan mikroskop digunakan sebagai sarana pendukung untuk melakukan pengamatan terhadap hasil tangkapan spora.

Dengan adanya kedua peralatan tersebut, lanjutnya, kelompok pekebun diharapkan memiliki sarana awal untuk membangun kegiatan pengamatan penyakit yang lebih sistematis. Penyerahan alat tersebut merupakan bentuk komitmen tim agar kegiatan tidak berhenti setelah penyuluhan selesai.

“Kami tidak ingin setelah kegiatan penyuluhan selesai, alat kemudian tidak dimanfaatkan. Karena itu, spore trap dan mikroskop kami serahkan kepada kelompok pekebun agar dapat digunakan untuk kegiatan pengamatan dan pembelajaran secara berkelanjutan,” ungkap Guntoro.

Kemandirian pekebun

PKM ini l, katanya, juga membangun kemampuan pekebun agar semakin mandiri dalam melakukan pengamatan terhadap kondisi tanaman dan lingkungan perkebunan.

Melalui pemanfaatan spore trap, dukungan pengamatan menggunakan mikroskop serta pemantauan kondisi mikroklimat, pekebun diharapkan mulai memiliki pola pengelolaan penyakit yang lebih berbasis informasi.

Jadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan perkebunan yang lebih preventif, yaitu melakukan pemantauan dan mengenali potensi masalah sedini mungkin sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih besar.

Guntoro menegaskan, keberhasilan program pengabdian tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan dan tersalurkannya bantuan peralatan, tetapi terutama dari keberlanjutan pemanfaatannya oleh masyarakat.

“Ukuran keberhasilan program ini bukan hanya ketika alat sudah diterima oleh kelompok. Yang lebih penting adalah bagaimana alat tersebut dimanfaatkan, pengetahuan yang diberikan diterapkan, dan pekebun semakin mampu melakukan pengamatan secara mandiri,” tegas Guntoro.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah dan kelompok pekebun, inovasi teknologi diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi langkah awal dalam membangun sistem pemantauan penyakit tanaman yang lebih dini, sederhana, aplikatif dan berkelanjutan di tingkat pekebun.

(AMAD/WITA)

Baca Juga

Rekomendasi