Tim PKM UMTS Perkuat Kapasitas Kader Nasyiatul Aisyiyah Melalui Tutur Adat dan Retorika Digital (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Padangsidimpuan – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas kader Nasyiatul Aisyiyah melalui program bertajuk “Integrasi Tutur Adat dan Retorika Digital dalam Penguatan Kapasitas Kader Nasyiatul Aisyiyah Berbasis Kearifan Lokal Padangsidimpuan”.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga bulan (20 Juni-20 Agustus 2026) sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan kemampuan komunikasi masyarakat di era digital.
Program pengabdian ini diketuai oleh Dra. Nur Afifah, M.Pd. bersama tim pengabdi yang terdiri atas Devinna Riskiana Aritonang, M.Pd., Rafiqah Amanda Lubis, M.P., serta mahasiswa. Kegiatan ini melibatkan kader Nasyiatul Aisyiyah Kota Padangsidimpuan sebagai mitra dalam penguatan literasi komunikasi berbasis teknologi dan budaya lokal yang diketuai oleh Nikmah Sari Hasibuan, M.Pd berjumlah 26 kader Nasyiah.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap persiapan melalui identifikasi kebutuhan mitra, penyusunan materi, serta koordinasi bersama kader Nasyiatul Aisyiyah. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi mengenai tutur adat, partuturan, pemanfaatan komunikasi digital dalam kehidupan bermasyarakat, serta praktik berbicara mengenai kearifan lokal mengggunakan media digital.
Dalam kegiatan tersebut, Sahlan Tuah, M.Pd. menjadi pemateri pertama dengan menyampaikan materi mengenai tutur adat dan partuturan. Beliau menjelaskan bahwa tutur adat merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat yang mengatur hubungan sosial, sikap saling menghormati, serta tata cara berkomunikasi dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Menurutnya, pemahaman terhadap partuturan tidak hanya berkaitan dengan penyebutan hubungan kekerabatan, tetapi juga mengandung nilai moral dan etika dalam berinteraksi.
“Partuturan mengajarkan bagaimana seseorang menempatkan dirinya dalam kehidupan sosial. Setiap tutur memiliki makna dan tanggung jawab, karena melalui tutur kita belajar menghormati orang lain serta menjaga hubungan antar anggota keluarga maupun masyarakat,” ujar Sahlan dalam penyampaian materinya.
Setelah pembahasan mengenai tutur adat, kegiatan dilanjutkan dengan materi “Retorika Digital dalam Penguatan Kapasitas Kader Nasyiatul Aisyiyah” yang disampaikan oleh Dra. Nur Afifah, M.Pd bersama tim. Materi ini membahas pentingnya kemampuan komunikasi digital bagi kader dalam menyampaikan informasi, membangun citra organisasi, serta menciptakan konten yang edukatif dan bermanfaat.
Nur Afifah menjelaskan bahwa ruang digital saat ini menjadi tempat strategis untuk menyampaikan berbagai pesan kepada masyarakat. Oleh karena itu, kader perlu memiliki kemampuan memilih bahasa, menyusun pesan, serta memanfaatkan media digital secara kreatif dan beretika.
“Retorika digital bukan hanya tentang bagaimana berbicara di media sosial, tetapi bagaimana menyampaikan pesan yang memiliki nilai, mampu diterima masyarakat, dan tetap mencerminkan karakter organisasi,” jelasnya.
Selain pelatihan, kegiatan ini juga diarahkan pada praktik pembuatan konten digital yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal. Peserta didorong untuk menghasilkan komunikasi yang lebih kreatif melalui pemanfaatan media sosial, baik dalam bentuk tulisan, desain visual, maupun konten digital lainnya.
Setelah melalui rangkaian kegiatan selama tiga bulan, tim pengabdi melakukan evaluasi terhadap peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran kader mengenai pentingnya literasi digital serta kemampuan menyampaikan pesan secara lebih efektif kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Asiyiyah Kota Padangidimpuan Nikmah Sari Hasibuan, M.Pd menyampaikan rasa terima kasih karena sudah menjadikan kader Nasyiah sebagai mitra pengabdian kepada masyarakat. Harapannya kader Nasyiah mampu meningkatkan ilmu pengetahuan di bidang tutur adat dan retorika digital.
Melalui program PKM ini, Tim Pengabdi berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai upaya memperkuat peran masyarakat dan organisasi perempuan muda dalam menghadapi perkembangan komunikasi digital.
(REL/RZD)