Medan, (Analisa). Bagi Ormas Islam Al-Washliyah, sosok Ismail Banda bukan hanya pendiri dan Ketua Umum Al Washliyah pertama. Ia bersama dengan Arsyad Thalib Lubis, Abdul Rahman Shihab dan tokoh lainnya mendirikan Al Washliyah pada 30 November 1930 di Medan Sumatera Utara untuk juga turut serta dalam melakukan pergerakan dalam perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan.
Ketua Umum PB Al Washliyah KH Dr Yusnar Yusuf dalam siaran pers yang diterima Analisa, Senin (16/5) menjelaskan, Ismail Banda adalah orang yang cerdas dalam berelasi politik dengan tokoh-tokoh negara lain. “Ini menunjukkan bahwa beliau piawai berdiplomasi dengan berbagai pihak,” kata Yusnar yang mengirim siaran pers dari Teheran, Iran.
Kontribusi Ismail Banda bagi negara juga cukup penting. Ia adalah Panitia Pusat Kemerdekaan RI di Kairo. Ismail Banda dan Arsyad Thalib Lubis adalah dua tokoh Al Washliyah yang memiliki kesamaan visi bagi umat.
“Data dan fakta tentang Ismail Banda perlahan sudah terkumpul. Kami bangga pernah memiliki pemimpin cerdas, amanah, bijaksana, dan disegani di dunia internasional,” katanya.
Ia menjelaskan, Pengurus Besar Ormas Islam Al-Washliyah mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada Octavian Alimudin sebagai Dubes LBBP RI untuk Republik Islam Iran merangkap Turkmenistan, berkedudukan di Teheran dalam membantu mengumpulkan data terkait Ismail Banda dkk.
“Pihak kedutaan baru tahu setelah diberi data. Mencarinya lebih mudah karena makam di Teheran hanya satu lokasi saja. Di belakang Masjid Imam Khomaini.Mohon doanya, agar data dan fakta ini semakin lengkap dan Ormas Islam Al Washliyah dapat mengusulkan tokoh pendiri untuk menjadi Pahlawan Nasional," ujar KH Yusnar.
Meninggal di Teheran
Ismail Banda berangkat dari Bagdad Irak menuju Teheran Iran dengan pesawat Misrair bersama Dr Henry G Bennett Presiden Oklahoma State University bersama 22 penumpang lainnya termasuk awak pesawat dalam menjalankan tugas khusus. Pesawat yang membawanya itu jatuh di wilayah 19 mil atau 10 km sebelah barat Tehran. Jatuh disebabkan snowstorm. London encyclopedi, mencatat hal ini. Pesawat jatuh pada tanggal 22 Desember 1951.
Pesawat Misrair yang jatuh adalah pesawat berjenis SNCASE Languedoc of Air France. Sebab juga ditulis di The Times (london), Monday 24 Dec 1951 (52192), col D, P.4. Nama penumpang termasuk Ismail Banda diperoleh dari Indianapolys Star, Desember 1951.
Pernah Ridwan Tanjung menulis tentang Ismail Banda yang gugur di Teheran, Iran ketika menjalankan tugas negara sebagai Kuasa Usaha (perwakilan) Indonesia di Afghanistan. Pesawat yang membawanya bersama pejabat-pejabat penting bangsa lain terjatuh dihantam badai topan di Teheran.
Data dan fakta serta dokumen penting akan terus disisir di internasional dan nasional termasuk dari buku Diplomasi Revolusi Indonesiandi Luar Negeri yang ditulis M Zein Hassan. M Zein Hassan sendiri merupakan salah satu tokoh Panitia Pusat Pergerakan Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia di Mesir dan Arab Saudi bersama Ismail Banda dan kawan-kawan.
Pemerintah RI pernah mengutus Muhammad Adnan menjadi Misi Haji dan Misi Diplomasi pertama ke Saudi Arabia bersama Sholeh Saudi, Syamsir, Ismail Banda dkk untuk mengadakan kontak dengan Raja Ibnu Saud dan pemimpin-pemimpin negara Islam yang sedang menjalankan ibadah haji, untuk merundingkan mendapat pengakuan Negara RI dan mengatur perjalanan haji yang pertama setelah Perang Dunia II. Saat data dan fakta semakin banyak maka akan segera diusulkan agar Ismail Banda dan Arsyad Thalib Lubis menjadi Pahlawan Nasional kepada pemerintah Indonesia. (br)











