Azzam Habibullah, Novelis Muda Deliserdang

Azzam Habibullah bercerita panjang lebar tentang dunia kepenu­lisan, usianya belum genap 17 tahun. Tetapi, anak pertama dari pasangan Henry Ridho dan Laila Sari ini tergolong produktif, dia telah mengha­sil­kan novel Laksana Bulan di usia 14 ta­hun dan 2017 kembali menerbitkan novel "Search; Hidup adalah Tentang Mencari".

Ditemui di lokasi Hari Aksara In­ternasional di Alun-Alun Pemkab Ser­dang, Sabtu (8/9) Azzam bercerita diri­nya bersekolah di sekolah nonformal Se­kolah Alam Medan Raya di Jalan Aman Abadi, Namorih, Pancurbatu, DeliSerdang. Sekolah ini termasuk dalam Jaringan Sekolah Alam Nusan­tara (JSAN). Kini, duduk di kelas XI. Meskipun sekolah nonformal, tetapi semangat belajar sangat tinggi. Dirinya, bahkan kini sudah hafiz 5 juz Alquran.

“Mulai menulis sejak kelas 4 SD, dan mulai menulis di catatan facebook orang­tuanya. Terus berkembang menulis di blog milik pribadi dan akhir­nya menulis novel,” katanya.

 Dirinya menulis sendiri dan dibantu penerbitan oleh teman orangtuanya yang akhirnya keuntungan 100 persen ke dirinya. "Ada teman papa yang ka­gum dengan saya dan membiayai per­cetakan buku,"ucap remaja yang mengaku berkat menulis dirinya sempat pergi ke Amerika Serikat.

"Jadi, keberangkatan ke Amerika Serikat atas undangan Caretakers of the Environment International Austria Conference 2018. Sebuah sebuah or­ga­nisasi yang bergerak di bidang ling­ku­ngan hidup, pendidikan dan pem­bangunan berkelanjutan," sam­bung­nya.

Ke depan, Azzam berkeinginan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia, bahkan ingin menjadi novelis terproduktif di Indonesia pada tahun 2031 sebanyak 15 judul novel yang delapan di an­taranya ingin difilmkan dan menjadi mega-bestseller.

Ibunda Azzam Habibullah, Laila Sari mengatakan, dalam menggeluti du­nia tulis menulis anaknya memiliki ba­nyak tantangan. "Ketemu jadi pe­nulis tidak langsung, berawal dari beberapa tantangan yang memang kita berikan. Terus, betul tidak itu menjadi passion-nya. Jadi, dengan menulis dia bersemangat atau tidak, sehingga akhir­nya sampai mengha­sil­kan,"ka­tanya.

Laila Sari menambahkan, karena su­dah melihat proses dari beberapa tantangan sudah dilalui dengan baik. Makanya, waktu memutuskan menjadi penulis, orangtua hanya mengawasi. "Saya lebih banyak hanya mendam­pingi atau jadi managernya," ucapnya. (muhammad arifin)

()

Baca Juga

Rekomendasi