Manusia Berwujud Monster

manusia-berwujud-monster

Oleh: Jones Gultom

JELANG pergantian tahun 2018, pelukis muda Eben Ezer Silalahi memamerkan 11 luki­s­annya. Pameran diselengga­ra­kan di Lite­racy Coffee, Jalan Jati II No 1, Teladan Timur, Medan. Dari 11 lukisan itu, tu­juh di antaranya sudah dipa­merkan di Jakarta yang difasi­litasi Walhi. Bagi alumnus senirupa Unimed ini, pameran ini merupakan kali pertama di Kota Medan.

Saya tertarik pada lukisan Eben karena beberapa hal. Lukisannya tidak menyejuk­kan hati, sebaliknya justru membuat perasaan gusar. Objek-objek yang diciptakan­nya juga sadis. Ada seseorang yang dalam perutnya berlo­bang dengan akar-akar yang men­juntai. Ada sosok perem­pu­an berkepala harimau, se­per­ti sedang mencabut bibit pohon serta wajah yang seperti sedang mengaum.

Sebagian besar lukisan yang dipamerkan berobjek ma­nusia dengan artifisial bera­gam. Dari lukisan-lukisan itu, terlihat upaya autokritik yang dibangunnya. Apalagi dalam kon­ferensi pers sebelumnya, Eben mengaku. Tema “Aku dan Isi Semesta” berangkat dari kesadaran. Manusia bebas menentukan pilihan dalam kehidupannya.

“Kita bebas menjadi apa sa­ja. Menjadi mons­ter atau pe­ngayom kehidupan,” kata­nya.

Dia pun melukis seorang pe­rempuan de­ngan kepala ha­rimau seperti tengah menca­but bibit pohon dari tanah. Keba­nya­kan manusia terjebak da­lam visualitas. Dalam bentuk dan objek-objek yang sebe­nar­nya tidak menjelaskan apa-apa. Wujud manusia itu sendiri abstrak. Sebatas perso­nifikasi. Keasliannya baru bisa dilihat da­ri caranya memperlakukan sekitarnya.

Perspektif manusia yang di­bayangkan Eben agaknya ter­anasir dari deskripsi awal ma­nusia dan kisah penciptaan. Misalnya lukisan laki-laki de­ngan akar menjuntai dari pe­rut­nya yang berlobang itu. Sa­ya meli­hatnya seperti rekaan dari kisah penciptaan di Per­janjian Lama Alkitab. Di da­lam kitab suci itu disebut, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kemudian dalam nats selanjutnya dise­but­kan, pada mulanya adalah firman, firman itu adalah Allah dan firman itu telah menja­di manusia.

Entah kebetulan atau tidak, lukisan itu seperti memvisual­kan nats yang setiap pera­yaan Natal selalu dibicakan untuk mengantar injil. Sosok dalam lukisan vertikal itu memang ti­dak berjejak di tanah. Seperti juga sedang melayang-layang di atas laut dengan cakrawala di belakangnya. Akar yang men­juntai dari lobang di perut­nya itu, terasa seperti kehidu­pan itu sendiri.

Saat konferensi pers itu, Eben menjelaskan, kehidupan itu adalah sesuatu yang kon­krit. Kehidupan terus akan ada bila akar pohon masih ada. Ke­terjagaan kehidupan juga ada pada manusia, tetapi ma­nu­sia bisa juga menjadi seba­lik­nya. Mungkin dia ingin me­ngatakan, monster juga bisa tam­pak seperti manusia de­ngan segala pesonanya, seba­gaimana lukisan perempuan berkepala harimau itu.

Eben menyindir, manusia sewenang-wenang merusak alam, boleh jadi karena apa yang diterimanya itu gratisan. Padahal jika dimaknai, Tuhan memberikannya gratis bukan ha­nya karena belas kasih, namun karena manusia me­mang tidak akan sanggup ba­yar.

Selain keliaran objeknya, lukisan-lukisan bertambah me­narik karena memadukan abstraksi warna yang kontras. Dalam hal ini, agaknya Eben sengaja mempertimbangkan eye catching untuk menyela­mat­kan lukisannya dari mata “konvensional”. Kombinasi varian merah dan hitam me­mancarkan spekrum yang te­gas dan enak dilihat. Warna itu dipilihnya untuk objek-ob­jek yang samar, semisal wajah dengan kepala buntung.

Kepada penulis, Eben me­ngaku bila pamerannya kali ini, ia tidak punya target bisnis.

“Ini bagiku ibadah. Waktu pameran di Jakarta ada yang nawar, tapi enggak kukasih. Kalau soal cari uang, aku nyam­bi jadi guru teater,” aku­nya.

Selama pameran berlang­sung, juga dilengkapi dengan diskusi perkembangan seniru­pa di Medan, Sumatera Utara. Dua narasumber antara lain, Johnson Pasaribu dan Franky Pradana. Keduanya menyoroti dunia senilukis/rupa di Medan yang tidak berkembang sekali­pun gairah melukis terus ber­tumbuh.

Johnson bahkan menekan­kan pentingnya ruang-ruang baru di Kota Medan. Ruang yang lebih segar untuk men­cip­takan iklim berkesenian yang sehat dan prospektif. Jonson Pasaribu berharap pelukis-pelukis muda di Me­dan tidak patah arang melihat kondisi Medan yang minim apresiasi ini.

“Seni lukis itu mahal. Kita harus tetap berkarya dan rutin menggelar pameran untuk menghidupkan iklim yang baik di Kota Medan ini,” kata Johnson.

Miris

Berbicara senilukis, tidak lepas dari galeri. Di Me­dan, ma­salah ini tampaknya su­dah menjadi problem klasik. Sete­lah Simpassri (Simpaian Seni­man Seni Rupa Indonesia) tak berdaya, para perupa di kota ini jadi centang perenang. Tak tahu harus memamerkan ka­rya­nya pada siapa dan dimana.

Di tahun 90-an ada bebera­pa galeri terbilang aktif meng­gelar event seni. Selain Sim­pas­sri juga ada Galeri Tong Sam­pah di Jalan Sakti Lubis. Campur tangan dua bersauda­ra mendiang Ben M Pasaribu dan Mangatas Pasaribu, begitu terasa demi menghidupkan galeri ini. Sayang, masa itu mes­ti berakhir di awal tahun 2000.

Sempat juga ada Galeri Ton­di di Jalan Keladi Buntu, Medan. Galeri ini dibuka oleh Grace Siregar, pelukis perem­pu­an yang selama ini tinggal di luar Medan, sejak 2004. Ke­mudian diperkenalkan kepada publik sejak 2005. Galeri Ton­di menjadi harapan tidak hanya bagi para perupa. Seniman lin­tas genre antara lain musisi, sastrawan, tari, foto juga ikut nimbrung di galeri ini. Banyak seniman di Indonesia pernah memperlihatkan karya­nya di galeri ini.

Galeri yang menyulap ru­mah dengan halaman di depan­nya ini, seolah menjadi pelam­piasan para seniman yang bu­tuh ruang. Hampir setiap hari ada kegiatan di sini. Apakah pa­meran rupa, tari, musik, sas­tra atau sekedar diskusi kese­nian. Kebesaran hati Grace sebagai penyedia tempat tanpa memungut biaya, menjadi daya tarik tersendiri.

Sayangnya galeri ini juga tak bertahan lama. Sekitar 5-6 tahun kemudian, galeri ini pun tutup. Beredar kabar, penye­bab­nya adalah masalah ekono­mi. Grace kembali mening­galkan Medan dengan haru biru yang menyertainya.

Para perupa, umumnya ma­hasiswa yang belum sempat pu­as berpameran di galeri ini, kembali kehilangan induk. Beberapa di antara mereka, Anal, Adie Damanik dan ka­wan-kawan, berinisiatif mene­rus­kan semangat Galeri Tondi. Mereka mendirikan Galeri Sa­hala menumpang di salah satu ruko di Padang Bulan. Tak sampai setahun galeri ini juga padam. Pemiliknya berniat membisniskan ruko miliknya itu.

Tak kehabisan akal, mereka menyulap kos-kosan mereka di Jalan Pancing, menjadi ga­leri. Halaman yang sempit di­jadikan panggung terbuka. Ka­mar mereka dijadikan galeri tempat mereka memajang ka­rya-karyanya. Mereka mena­mai dirinya “Sotardok”. Sotar­dok adalah bahasa Batak Toba, yang berarti “tak terkatakan”.

Hitung bulan, komunitas ber­ikut galeri Sotardok bubar. Sebagian perupa yang sudah tamat kuliah banting setir. Ada yang menjadi karyawan Indo­maret, sales dan agen asuransi. Selebihnya menjadi guru un­tuk semua bidang studi. Hanya sedikit sarjana rupa itu yang me­neruskan keseniannya.

Selain Taman Budaya Su­matera Utara, di Medan galeri yang masih eksis tinggal Pa­yung Teduh. Lokasinya berha­dap-hadapan dengan eks Me­dan Plaza. KIni pindah ke Padang Bulan. Sesekali ada anak sekolah yang belajar me­lukis di galeri yang dikelola Togu Sinambela dan kawan-kawannya.

Pertanyaannya apa susah­nya bagi Pemerintah Kota Me­dan untuk mendirikan sebuah galeri yang representatif. Ti­dak usah dulu menggunakan dana APBD yang katanya pas-pasan. Bila memang serius, tinggal bekerjasama dengan pemilik hotel seratus galeri bi­sa didirikan di kota ini.

()

Baca Juga

Rekomendasi