KENANGAN FEBRUARI / 1
Mhd Ikhsan Ritonga
Puisi ini adalah cinta dari hati seorang pujangga cerita kita akan usai pada waktu yang tetap senyum merona, disertai rintik hujan dan terik di tapak kehidupan pada raga yang sudah senja kenangan februari kau hadir dengan seribu satu rindu menusuk dalam sembilu dan beku dalam pusara waktu kita bagai benang merah yang merajut kisah di atas tanah merdeka mencari ridhonya
Tapanuli Selatan, Februari 2019
KENANGAN FEBRUARI / 2
Mhd Ikhsan Ritonga
Kita akan berpisah, dan kau bisikkan tentang sendu kalbu berbisik tentang kenangan bersamamu senja menyapa dan kita melambaikan tangan sembari mengucapkan salam perpisahan kenangan februari akan menjadi abadi
pada lembaran kertas suci laksana permadani puisi ini mengukir segala cerita sebab kita adalah cahaya di antero waktu yang gelap gulita
Tapanuli Selatan, Februari 2019
MENULIS KENANGAN / 1
Mhd Ikhsan Ritonga
Sepi dan air mata yang jatuh di kala kita akan berpisah langkah kaki yang moksa di tengah juang di tanah pusara
asmarandana salahkah jika kita saling menatap dari bilik tua bersama kenangan yang akan pergi dengan bahtera di samudera menuliskan kenangan kini bagai ombak yang menggulung sepi sendu yang merindu kini akan pergi jauh dari kelopak matamu aku kau dan mereka kini tak akan bersua sebab air mata telah jatuh
kita akan menyebutnya sebagai prosa kehidupan dan menulis kenangan
Tapanuli Selatan, Februari 2019
MENULIS KENANGAN / 2
Mhd Ikhsan Ritonga
Menulis kenangan adalah prosa kehidupan kata ditulis sebagai ungkapan dari sukma dinamika kehidupan, sayap yang jatuh di perantauan jemari menari di atas kertas suci mata tertegun malu sebab kenangan suka duka terukir dengan kisah lalu menulis kenangan sebut saja ia adalah cinta dalam kehidupan
meretas air mata laksana sangkur baja di tengah kerinduan
Tapanuli Selatan, Februari 2019
MARET
Nita Surtika Zalukhu
Maret masih sama tak lekang oleh masa ia selalu ada kebanyakan dari mereka meunggunya namun beberapa dari mereka membencinya Maret hampir tiba, semoga kita tidak
dirundung luka yang sama
KESALAHAN DI UJUNG TANDUK 1
Nita Surtika Zalukhu
Menyesal yang bisa dirasa rengekan yang bisa terucap kesedihan yang keluar dari air mata berpadu menjadi kesatuan kesalahan
KESALAHAN DI UJUNG TANDUK 2
Nita Surtika Zalukhu
Kenapa tidak dari dulu
sekarang hanya bisa terdiam terpaku
meratapi kesalahan diujung tanduk
PENIKMAT SENJA
Nita Surtika Zalukhu
Senja kian menghilang terbenam
bersama langit dikala malam
kesunyian mulai memelukku
tapi hanya secangkir kopilah
yang menemani kesunyianku
JELAGA LABIRIN
Sri Maika Simanjuntak
Badai kemarin datang bersama hujan
sepertinya aku sedang bermimpi
kau menyapa dengan senyum
ku rindu pandangan tajam itu
jika ku melihat wajahmu sekali lagi
ku rasa aku bisa mati bahagia
KOPI SENJA 1
Sri Maika Simanjuntak
Harusnya kau tau tentang rasa itu
tetapi mengapa kau mencobanya
apakah sekarang kau menyesal?
kau tau rasa secangkir kopi hitam
hanya ada sebuah pahit tanpa gula
KOPI SENJA 2
Sri Maika Simanjuntak
Kau lupa tentang hari kemarin
menghampiri sebuah rasa pahit
ampas kenangan disecangkir kopi
diasingkan oleh manisnya gula harapan
setiap seduhan memberi kenangan
KOPI SENJA 3
Sri Maika Simanjuntak
Tuhan ciptakan kopi dalam hidup kita
supaya kita tau rasa pahit dalam hidup
mengerti kenikmatan dalam hitam
kemarin aku duduk ditemani secangkir kopi menunggu jawaban dari sebuah rindu
IMAJINASI SENJA
Rotua Batubara
Kutitipkan rindu ku pada senja
yang datang dengan keindahannya
pergi tanpa meninggalkan luka
dan selalu meninggalkan sederetan warna indahnya
PENGGENGGAM LUKA
Rotua Batubara
Menit demi menit kita lalui bersama
dengan luka yang berakhir sadis
hal itu selalu ku ingat
goresan luka yang membekas
dan masih sama seperti luka
saat pertama kau menaruhnya
rindu
Rotua Batubara
Rindu ini masih sama seperti rindu kemarin rindu yang mengiris hati
rindu yang tak ada ujungnya
rindu yang tak mungkin terobati
untuk apa rindu datang?
jika hadirnya hanya pengingat luka saja
waktu
Rotua Batubara
Waktu engkau terlalu cepat berlalu
tak pernah ada kesempatan
untuk kami bersama
waktu pergilah engkau sebentar
karena aku ingin bersama dengan dia
waktu aku berharap engkau mengerti situasi ini karena aku lelah memendam rasa ini sendiri
BUKIT SIMBOLON /1/
Hodland JT Hutapea
Kau begitu syahdu
dalam balutan kabut putih
turun pagi-pagi mengiringi
perjalanan kecil
langkah yang letih
BUKIT SIMBOLON /2/
Hodland JT Hutapea
Bau tanah rerumput basah
semburat cahaya memesona
sejuk angin enyahkan resah
nikmat alam sungguh terasa
BUKIT SIMBOLON /3/
Hodland JT Hutapea
gemericik air mengalir bening
basuh kaki basahi raga
sungguh agung
milik maha hening
pagi di bukit
sejuklah jiwa
waktu berkejaran
Hodland JT Hutapea
Sepanjang lintas perjalanan
membelah kota petualangan
yang tersisa hanya kelu
terbentang derita nan lalu
di seteru desah keperihan
sepanjang waktu berkejaran
MASA KECIL MENYAPA 1
Eliza Olga Pramita
Duduk di koridor yang terhimpit dua gedung fakultas menjulang di atas pandangan nadi berdetak teratur menyingkap aksara dalam hening tertawa bebas menciptakan kenangan masa kecil tenang berselancar di khayalan
MASA KECIL MENYAPA 2
Eliza Olga Pramita
Menatap rintik demi rintik tetesan hujan melambaikan tangan bersama angin yang sejuk menyapa telingaku
aku hanya merindukan masa kecil dikala orang dewasa memikirkan dunia sekejap tak abadi
MASA KECIL MENYAPA 3
Eliza Olga Pramita
Lamunan isyarat jembatan di ujung kalimat berayun dia antara masa yang kurindukan dengan masa-masa terpaksa yang menyiksa rindu kala kecil bersama tuntunan ayah dan ibu berlari di pelataran kini rapuh bersama ombak menggulung kasih dan kisah lalu bersama lamunan
MASA KECIL MENYAPA 4
Eliza Olga Pramita
Lambaian samar di ujung ruang gedung berkejar-kejaran dan hilang menjadi bayangan ditelan dinding kosong yang hitam kelam melayang
khayalan tentang kecil tertawa bebas tanpa penghalang batang usia sudah tinggi, tiang dewasa menjadi bukti
PAYAH
Kasih Kristina Waruwu
Sepucuk harapan membawa pada kabar lerah terlihat dalam kelopak matamu yang mulai berdarah-darah
kembali dimana masa menghuyung larah sejauh langkah berboyong pasrah dentuman jantungmu terlalu di pandang murah persekian detik perlahan wajahmu memerah sudah waktunya untuk merekah sebelum datangnya genangan yang akan membasah.
Bintang KOMPAK, Februari 2019
TEMU RINDU
Kasih Kristina Waruwu
Tidak sengaja kita berpijak di bumi yang sama lamat-lamat pandangan kita beradu kau berucap lewat isyarat dalam bola matamu menandai sudut wajahku yang terbakar rona kau paling bersinar laksana purnama lantas aku memuisikanmu lewat sentuhan rasa
teramat-sangat aku merinduimu kekasih
Bintang KOMPAK, Februari 2019











