Pertanian tomat di Huta Tikka Desa Sitinjo 2 Kecamatan Sitinjo Kabupaten Dairi, Sabtu (23/5) (Analisadaily/Sarifuddin Siregar)
Analisadaily.com, Sidikalang - Kabar mengejutkan datang dari sektor pertanian di Kabupaten Dairi. Harga tomat di tingkat petani sukses memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus angka Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram.
Namun, di balik meroketnya harga komoditas ini, para petani justru harus berjuang mati-matian melawan alam.
Mantan Wakil Ketua DPRD Dairi yang kini aktif sebagai petani, Benpa Nababan, membenarkan fenomena langka ini saat ditemui di lahannya yang berlokasi di Huta Tikka, Desa Sitinjo 2, Kecamatan Sitinjo.
"Tomat lagi mahal sekarang. Harga tertinggi sepanjang sejarah pertanian," ungkap Benpa didampingi tim agronomisnya, Rico Pandiangan dan Merki Pandiangan, Sabtu (23/5/2026).
Usut punya usut, melonjaknya harga tomat ini bukan karena surplus peminat, melainkan dampak dari gagalnya produksi pertanian secara massal. Cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut selama beberapa bulan terakhir menjadi biang kerok rusaknya budidaya tomat.
Berikut beberapa faktor utama yang memicu kelangkaan tomat di pasar:
Hujan Es dan Cuaca Basah: Hujan deras yang terkadang bercampur es mengguyur Dairi setiap hari selama berjam-jam, membuat kondisi tanah menjadi terlalu basah.
Serangan Hama & Virus: Kelembapan tinggi memicu perkembangan virus busuk/karat daun serta serangan hama lalat buah yang membuat tomat bocor, membusuk, dan rontok massal.
Biaya Perawatan Bengkak: Petani wajib menyemprotkan pestisida setiap hari. Tantangannya, jika setelah disemprot langsung turun hujan, maka obat-obatan kimia tersebut langsung sia-sia.
Seorang petani setempat bermarga Aritonang juga mengonfirmasi rumitnya perawatan tomat saat ini. Menurutnya, tanaman tomat biasanya aman hingga usia 1,5 bulan, namun setelah itu penyakit akan merajalela dan langsung menyerang buah.
Meskipun harga jual tomat sangat menggiurkan, para petani mengaku tidak serta-merta untung besar. Aritonang mengeluhkan lonjakan harga Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) yang kian tak terkendali.
"Pupuk, pestisida, mulsa plastik naik terus. Bahkan, tali pengikat tanaman saja melonjak drastis dari Rp100 ribu menjadi Rp250 ribu per gulungan," keluh Aritonang.
Kenaikan harga pangan ini rupanya tidak hanya terjadi pada tomat. Kepala Desa Parbuluan 1, Parihotan Sinaga, menyebutkan bahwa beberapa komoditas pertanian lain di wilayahnya juga mengalami lonjakan fantastis dalam sepekan terakhir.
Berikut adalah daftar harga terbaru beberapa komoditas di tingkat petani: Tomat Rp18.000-Rp20.000. Sawi Manis Rp10.000. Sayur Buncis Rp8.000. Terong Ungu Rp8.000. Cabai Merah Rp18.000.
"Kenaikan harga ini sebenarnya sudah dimulai sejak dua bulan lalu, tetapi lonjakan tertinggi dan paling fantastis baru benar-benar dirasakan pekan ini," pungkas Parihotan.
(SSR/RZD)