Kabanjahe, (Analisa). Hutan produksi Siosar meliputi Kecamatan Merek dan Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, akhirnya ditetapkan menjadi areal pemukiman relokasi total 3 desa, Sukameriah, Simacem dan Bakerah Kecamatan Namanteran, yang masuk kawasan zona merah Gunung Sinabung.
Areal itu merupakan kawasan agropolitan milik Pemkab Karo sekitar 250 hektare telah disetujui Menhut dan Gubernur Sumatera Utara. Sedang 450 hektare lainnya sebagai tambahan untuk rencana areal pertanian 3 warga desa itu masih dalam proses permohonan pinjam pakai.
Hal itu dikatakan PLt Bupati Karo, Terkelin Brahmana, dalam sesion dialog refleksi setahun bencana erupsi Sinabung, di Aula Gedung PPWG GBKP Kabanjahe, yang diprakarsai Forum Persada dan DPP Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI), kemarin.
Areal seluas 450 hektare itu, dengan status pinjam pakai selama 20 tahun. Jalan menuju akses lokasi sepanjang sekitar 3 kilometer sedang dalam tahap proses di Pemprovsu.
“Dengan ditetapkan kawasan hutan Siosar menjadi relokasi warga erupsi Sinabung, segera akan dibuat site plane (design) tata pemukiman. Baik tataan rumah, jambur desa, fasilitas umum seperti Puskesmas, rumah sekolah, rumah ibadah, drainase, jalan, kantor kepala desa dan lainnya, akan dibuat dengan seragam ukuran rumah type 36 meter,”ujar Plt Bupati Karo.
Tim awal diminta agar cepat bekerja terdiri yang dari Bapeda, PU, BPBD, Dinas Kehutanan dan lainnya.
“Kita rencanakan penataan pemukiman tiga desa ini akan kita jadikan sebagai icon dan pilot projek pemukiman tingkat nasional. Jadi kita usahakan pembangunan dan konstruksinya sebaiknya. Bila mungkin kita bangun dengan design budaya, sehingga bisa juga menjadi desa budaya yang berkaitan dengan erupsi Sinabung,” ujar Brahmana.
Terkelin Berahmana mengatakan, jelang pelantikan anggota DPRD Karo periode 2014-2019, lokasi posko utama penanganan bencana erupsi Sinabung yang selama ini di areal komplek DPRD Karo akan segera dipindahkan ke Jambur Pemkab Karo yang bersebelahan dengan rumah dinas Bupati Karo.
Prihatin
Ketua Forum Persada, Effendi Hansen Sinulingga, SE mengatakan, walau jauh dari Tanah Karo, semua yang di perantauan turut prihatin dan tetap peduli akan kampung halaman. Forum Persada terdiri dari berbagai praktisi dan profesional warga Karo di Jakarta dan juga DPP Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI), menggagas “Refleksi satu tahun bencana erupsi Sinabung” mengajak seluruh masyarakat Karo, satu hati “Bangkit, Berjalan, dan Berkarya Lagi” Sebagai spirit membangun optimis di balik bencana erupsi Sinabung.
“Mulai saat ini, tidak ada lagi istilah pengungsi, tapi seluruh masyarakat Karo, ikut merasakan penderitaan saudara-saudara kita akibat dampak erupsi. Jadi seluruh masyarakat dan pemerintah bersatu padu dan bertanggungjawab akan penderitaan saudara-saudara kita,” katanya.
Forum Persada lahir dari rasa keprihatinan Tanah Karo akibat dampak erupsi Sinabung, merebaknya penyakit masyarakat seperti judi, narkoba dan ancaman HIV/AIDS.
Ketua Posko Induk Moderamen GBKP, Pdt Agustinus Purba mengatakan, paska erupsi Sinabung Moderamen GBKP mengelola 13 posko pengungsi terdiri dari 6172 jiwa (2011 kepala keluarga). Setiap bantuan dari donatur ke Posko Induk GBKP, kami menyalurkannya tanpa membedakan agama, suku dan latar belakang pengungsi.
“Kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas kepedulian donatur dari berbagai kalangan atas kepeduliannya kepada para pengungsi, termasuk bantuan dari Brigjen Pol Arman Depari dan juga bantuan beasiswa dari Capres terpilih Joko Widodo,” ujarnya.
Mewakili warga tiga desa yang akan segera direlokasi, Heppy Surbakti dan Elmo Kaban mengaku, sungguh pahit selama hidup dengan ketidak pastian akibat dampak erupsi Sinabung. (ps)











