Kawah Putih

Oleh: Rizal R Surya. Sumatera Utara punya danau yang berada di puncak pegunungan yaitu Danau Toba. Danau Toba merupakan kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Toba.

Jawa Barat juga memiliki objek wisata yang berasal dari letusan gunung. Hanya saja luasnya tidak selebar Danau Toba sehingga tidak masuk dalam golongan danau dan hanya disebut kawah yaitu Kawah Putih. Kawah putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha sekitar abad X.

Disebut Kawah Putih karena warna airnya putih kehijauan. Uniknya air kawah ini kadang berubah warna. 

Kawah Putih berada pada ketinggian 2090 meter di atas permukaan laut (dpl) . Lokasinya di Jalan Raya Soreang Ciwidey KM 25

Awalnya lokasi ini dianggap angker karena setiap burung yang terbang melewati kawasan tersebut akan mati. Karena kepercayaan tersebut, tidak ada orang yang berani mendekati kawasan ini.

Pada tahun 1837 seorang peneliti bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn yang memutuskan naik ke puncak Gunung Patuha demi ilmu pengetahuan. Ia berhasil mencapai puncak Gunung Patuha. Dari sana ia melihat ada sebuah danau berwarna putih dengan bau belerang yang menyengat. Sejak itu, keberadaan Kawah Putih menjadi terkenal dan pada tahun 1987 pemerintah mulai mengembangkan Kawah Putih sebagai tempat wisata.

Bagi yang ingin datang ke Kawah Putih dari Jakarta, hanya perlu menggunakan jalur tol Cipularang dan keluar melalui pintu tol Kopo. Dari menuju ke Soreang dan berkendara ke bagian selatan Ciwidey. Dari terminal Ciwidey, dapat menggunakan angkot yang menuju Situ Patenggang dan turun di depan gerbang Kawah Putih.

Masuk ke dalam kita akan menemui area parkir yang luas. Bagi yang memiliki mobil pribadi ada dua alternatif untuk sampai ke Kawah Putih. Pertama, bisa langsung membawa mobil tersebut hingga ke parkir atas sekitar kawah. Alternatif kedua, mobil tinggal di parkir bawah dan menlanjutkan perjalanan menggunakan Ontang-anting.

 Ontang-anting merupakan sebutan bagi kendaraan khas Kawah Putih. .Kendaraan ini berupa mini bus yang telah dimodifikasi menjadi terbuka dan dilengkapi dengan pengaman. Ontang-anting dimodifikasi dari mobil merk Mitshubisi T120 SS, Suzuky Carry maupun Daihatu Hijet 55. Ontang-anting berasal dari bahasa Sunda yang berarti ‘mondar mandir’.

Pengunjung yang datang menggunakan angkutan umum harus naik Ontang-anting untuk menuju kawah. Demikian pula yang mempergunakan bus harus naik Ontang-anting karena tidak bisa sampai atas. Jalannya terlalu kecil untuk kendaraan seukuran bus.

Kapasitas maksimal untuk 1 ontang-anting adalah 12 orang, namun jangan khawatir tidak kebagian tempat karena ada banyak ontang anting beroperasi di kawasan ini.

Dari area parkir atas, kita harus turun ke bawah melalui anak tangga untuk mencapai Kawah Putih. Begitu sampai di area parkir atas, bau belerang langsung teras. Karena itu bagi yang kuat dengan bau belerang, harus mempergunakan masker. Menjelang gerbang masuk, biasanya ada penjual masker.

Agar kita mendapatkan suasana yang menarik, maka sebaiknya cuaca juga harus diperhatikan. Saat udara cerah merupakan momen yang paling tepat untuk menuju Kawah Putih.

Di samping mempersiapkan masker bagi yang sensitif terhadap bau belerang, sebaiknya pergunakan jaket atau baju hangat. Suhu udara di Kawah Putih sangat dingin dan berangin.

 Jangan terlalu lama berada di kawah karena dapat membuat pernafasan terganggu. Sebaiknya naik sebentar ke atas dan kemudian kembali lagi ke kawah bila masih ingin melihat pemandangan Kawah Putih yang eksotis.

()

Baca Juga

Rekomendasi