Filosofi Didong Gayo Mengandung Nasehat

Takengon, (Analisa). Bupati Aceh Tengah, Ir H. Nasaruddin, MM menyebutkan, filosofi kesenian didong Gayo adalah mengandung nasehat. Sebagai suatu seni budaya tradisional, kesenian didong sudah mengakar dalam keseharian masyarakat dataran tinggi Gayo, khususnya di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Bersamaan dengan perkembangan masyarakat, tentunya sedikit banyak mempengaruhi bentuk asli dari seni didong itu sendiri sebagai warisan turun temurun. Untuk itu, bupati berharap kesenian didong Gayo harus tetap dilestarikan tanpa mengesampingkan makna filosofi yang sesungguhnya.

“Saat menyaksikan didong Gayo, selain mendengarkan kemerduan suara dari para ceh, secara substansi didong harus menyampaikan nasehat. Sumbernya bisa berasal dari Alquran dan sunah atau amanah dari para sesepuh,” kata  Nasaruddin, ketika membuka pertandingan didong  jalu antara Club Teruna Jaya dengan Club Sinar Jaya di rumah dinas Sekda, Selasa  (26/5) malam.

Menurut bupati, karena tujuan didong adalah nasehat, makanya kebanyakan para ceh atau bekas ceh adalah juga para imam, karena memiliki suara yang sudah pasti bagus. Kalaupun bukan ulama, ceh didong diharapkan untuk mendekati para ulama sebagai bahan syair berdidong. Tujuannya agar apa yang disampaikan bermanfaat bagi masyarakat. “Dari dulu syair didong berasal dari Alquran dan sunah, ini harus diteruskan dan jangan diubah tradisi yang santun ini,” tegas Nasaruddin. 

Dia menambahkan, satu per satu penonton pada pulang menjadi pertanda bahwa syair didong sudah melenceng dari keasliannya. Isi didong tidak menjelekkan maupun mengejek pihak tertentu.

“Kalau penonton sudah ada yang pergi, itu tandanya kesenian didong yang dipertontonkan  sudah melenceng dan tidak sesuai dengan karakter masyarakat kita,” ujar bupati. (jd)

()

Baca Juga

Rekomendasi