Oleh: Agung Suharyanto
Diawali dari lampu panggung yang fade in dan focus pada salah satu siluet berbentuk kerucut di back drop panggung. Siluet dari sosok Nande Karo bersenandung (rende) dengan penuh pengharapan. Walaupun tidak semua audience mengerti artinya, tapi senandung sedemikian merdu dan rengget, sangat menyentuh perasaan. Sesaat kemudian, senandungpun berakhir dan siluetpun padam dan kemudian disusul alunan Gendang Karo Lima Sedalanen.
Suasana tradisi yang kental dari tiga pemusik Gendang Karo Lima Sedalanen, seakan membawa penonton berada di tanah asalnya. Akhir dari Gendang Karo Lima Sedalanen, terdengar teriakan dari luar panggung, disusul masuknya empat orang pemusik. Mereka membawa masing-masing dua stick kayu yang diadu dengan ditimpali hentakan kaki, memainkan ritme keteng-keteng.
Langue dan Parole
Rakut Sitelu atau daliken sitelu, bisa diartikan dengan tungku nan tiga, menjadi sebuah ikatan yang tiga. Sebagai sebuah kelengkapan hidup (sangkep nggeluh), rakut sitelu adalah lembaga sosial system kekerabatan dalam pikiran/struktur masyarakat Karo. Pikiran/Struktur ini terdiri dari Kalimbubu, Anak beru dan Senina/Sukut.
Kalimbubu menjadi Dibata ni idah atau Tuhan yang tampak yang harus dihormati dan dihargai. Kalimbubu menjadi wakil Dibata di bumi dan pemberi dareh/ tendi (jiwa atau roh) kepada seseorang. Anak Beru menjadi “pelayan” atau pihak yang mengerjakan pekerjaan dalam kerja adat. Sukut/Senina/Sembuyak adalah pihak tuan rumah dalam kerja adat. Dalam sistem ini, ketiga posisi tersebut akan berputar bergantian, sehingga pada masyarakat etnis Karo tidak mengenal kasta.
Memahami Rakut Sitelu sama dengan mengerti pikiran (struktur) masyarakat Karo secara abstrak. Ketiga kelompok, tidak akan nampak dalam keseharian masyarakat Karo, kecuali diselenggarakannya kerja adat.
Inilah model atau pola yang ada pada pikiran (struktur) masyarakat (langue (bahasa) dalam istilah Saussure). Kerja adat adalah bentuk nyata dari dari struktur yang disebut parole (ucapan) dengan kesepakatan bersama.
Pemahaman akan langue (bahasa) dan parole (ucapan) inilah yang oleh Levi-Strauss diadopsi dari Saussure menjadi strukturalisme. Sebuah pandangan yang menyatakan, semua masyarakat dan kebudayaan memiliki struktur (pikiran) yang sama dan tetap. Struktur ini berada di dalam kepala dan pikiran (langue) seseorang yang sifatnya abstrak, berbentuk model atau pola.
Pengaplikasian langue dan parole dalam Rakut Sitelu, bisa diterangkan secara sederhana adalah sebagai berikut. Rakut Sitelu merupakan langue (bahasa) yang ada dalam pikiran masyarakat Karo, bentuknya abstrak. Parole (ucapan) sebagai bentuk realnya adalah kegiatan kerja adat yang menampakkan Kalimbubu, Anak Beru dan Sukut/Senina/Sembuyak.
Langue dan Parole dalam Konser Musik
Melihat konser musik Rakut Sitelu, tentu orang akan membawa kebudayaan masyarakat Karo sebagai referensinya. Pertama adalah pemahaman terhadap system kekerabatan Rakut Sitelu. Kedua adalah idiom dan alat musik tradisi masyarakat Karo.
Dua hal itu menjadi bahan untuk menafsirkan konser musik Rakut Sitelu Brevin. Kemudian dikaitkan dengan langue (bahasa) dan parole (ucapan).
Langue terletak pada Rakut Sitelu (system kekerabatan masyarakat Karo). Parole (ucapan)-nya terletak pada konser musik Brevin Rakut Sitelu. Tafsir bebasnya, seperti layaknya kerja adat. Paling tidak konser musik malam itu juga mewujudkan ketiga system kekerabatan lewat bunyi.
Dimanakah letak Rakut Sitelu yang berusaha ditafsirkan dalam konser musik? Apa yang “terucap” dalam konser musik Rakut Sitelu? Inilah yang menjadi pertanyaan setelah konser ini berakhir. Saya belum “merasakan” adanya Kalimbubu, Anak Beru dan Sukut/Senina/Sembuyak dalam tafsiran bunyi di konser Rakut Sitelu.
Saya lebih “mendengar” idiom-idiom bunyi dari musik tradisi Karo dalam berbagai alat musik. Juga benda lain yang difungsikan alat musik.
Sepanjang pertunjukan yang lebih kurang 45 menit, seisi gedung auditorium dikepung dengan bunyi-bunyian dari idiom-idiom musik tradisi Karo. Baik teriakan dan nyanyian, pukulan bedug, tepakan marwas, pukulan triangle, petikan kulcapi, ayunan lesung sampai petikan gambus. Semuanya secara bergantian dan berurutan, menggiring penonton untuk menikmati suguhan Rakut Sitelu.
Secara visual panggung, pola tiga (tolu) terlihat pada bentuk segitiga putih yang berjumlah tiga sebagai background. Posisi panggung yang terjal menurun ke depan, merefleksikan segitiga, begitu juga alat musik triangle. Jumlah kelompok tiga, terlihat di beberapa pemusik yang memainkannya (nande-nande menumbuk page (padi)).
Walaupun belum terasa di tafsiran bunyi pada pertunjukan ini, tapi ada sisi lain yang patut diapresiasi. Keberanian Brevin Tarigan untuk otokritik akan makna Rakut Sitelu. Otokritik inilah yang menggerakkan energi kreatifnya untuk melakukan kritik sosial terhadap etnis Karo.
Konser musik, berusaha untuk menyadarkan masyarakat agar tidak hanya memposisikan Rakut Sitelu secara artifisial semata. Sebuah keinginan mulia Brevin untuk menyadarkan masyarakat dan generasi muda untuk menggali lebih dalam warisan budaya leluhurnya.
Konser musik Rakut Sitelu, menjadi satu peristiwa musical yang bisa ditafsirkan secara bebas. Brevin sebagai orang muda, patut diacungi jempol atas keberanian dan kreatifitasnya dalam bermusik. Bujur Melala...
Penulis; Dosen Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Medan Area dan Pemerhati Seni dan Budaya yang berdomisili di Medan










