Oleh: Datuk Imam Marzuki.
Masuknya Islam ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir seperti Pasai, Gresik, Goa, Talo, Cirebon, Banten dan Demak. Dalam sejarah penyebaran Islam di nusantara oleh masyarakat arab ada empat hal disampaikan dalam histiografi. Pertama, Islam di Nusantara dibawa langsung dari Tanah Arab. Kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru atau juru dakwah profesional. Ketiga, orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah penguasa. Keempat, sebagaian besar para juru dakwah profesional datang di Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13 (Azra, 2002: 13). sementara menurut Graaf, berdasarkan atas studinya terhadap cerita diseputar Islamisasi di Nusantara dapat dibedakan bahwa ada tiga metode penyebaran Islam, yaitu pedagang muslim, oleh para da’i dan orang suci (wali) yang datang dari Arab yang sengaja bertujuan mengislamkan orang-orang dengan damai dan meningkatkan pengetahuan mereka yang telah beriman. Penyebaran dan perkembangan Islam di Nusatara dapat dianggap sudah terjadi pada tahun-tahun awal abad ke-12 M. Berdasarkan data yang telah diteliti oleh pakar antropologi dan sejarah, dapat diketahui bahwa penyiaran Islam di Nusantara tidak bersamaan waktunya, demikian pula kadar pengaruhnya berbeda-beda di suatu daerah.
Islam sebagai substansi ajaran yang turun di Makkah lalu tersebar ke Madinah dan ke daerah-daerah lain seperti negara Yaman, Mesir, Irak, India, Pakistan hingga sampai ke Indonesia. Islam yang menyebar kemudian bertemu dengan budaya setempat. Akulturasi antara budaya dan agama kemudian dibagi menjadi tiga. Pertama, adakalanya Islam menolak budaya setempat. Kedua, Islam merevisi budaya yang telah ada. Ketiga, Islam hadir untuk menyetujui budaya yang telah ada tanpa menolak dan tanpa merevisinya. Secara garis besar bahwa ketika ada budaya di Nusantara yang bertentangan dengan Islam maka dengan tegas kita harus menolaknya, seperti memuja pohon, atau benda-benda yang dianggap keramat yang telah mengakar kuat pada masyarakat Nusantara. Atau meluruskannya seperti tradisi sedekah bumi yang semula bertujuan menyajikan sesajen untuk para denyang dirubah menjadi ritual tasyakuran dan sedekah pada fakir miskin. Dan jika ada budaya yang sesuai dengan syari’at Islam maka kita terima dengan lapang dada. Islam Nusantara sesungguhnya hanya penyerdehanaan dari tipologi Islam Indonesia hasil perpaduan anatara Islam dengan kebudayaan Nusantara. misalnya kata musyawarah, wakil, adab merupakan kata serapan yang terambil dari bahasa arab, tiga kata ini tidak memiliki perbedaan kata dari bahasa aslinya. Umum dan khusus juga pada hakikatnya berasal dari bahasa arab yang mengalami sedikit perubahan. Dari sini pengaruh bahasa arab terhadap bahasa nusantara tampak kental. Oleh sebab itu pengaruh bahasa arab pada akhirnya diduga kuat berasal dari penyebaran agama Islam yang merambah Nusantara sebelum Zaman penjajahan.
Semuanya itu dilakukan dalam semangat mencari ilmu dan menegakkan perdaban Islam. Mereka begitu syahdu mengarungi samudera ilmu hingga dunia Arab, khususnya wilayah Timur Tengah hingga melanjutkan risalah dakwah di Tanah Air. Sampai-sampai para penuntut ilmu dari Jawa di Makkah dan Madinah disebut sebagai masyarakat “Jawi” di Tanah Suci. Istilah “Jawi” saat itu tentu saja secara literal mengacu kepada orang Jawa. Lebih dari itu, istilah ini kemudian digunakan oleh seluruh bangsa Melayu tanpa memandang tempat asal mereka di dunia Melayu. Dengan demikian, orang Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, bahkan orang Patani di Thailand Selatan, semuanya disebut orang “Jawi”. Fenomena masyarakat Jawi di Timur Tengah telah direkam sejumlah sejarawan seperti Mustaf al Hamawi (wafat 1757 M), murid Ibrahim al-Kurani dalam kamus biografinya Fawaid al Irtihal wa Nata’? al-Safar yang disusun pada abad 17 M, memberikan referensi paling awal yang kita kenal mengenai penuntut ilmu Jawi di Tanah Suci.
Pada tahun 808 H para ulama utusan Sultan Muhammad I tiba di Pulau Jawa yang kemudian dikenal dengan nama Walisongo. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, ahli tata pemerintahan negara dari Turki; Maulana Ishaq dari Samarqand, yang dikenal dengan nama Syeikh Awwalul Islam. Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina; dan Syeikh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah, penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M, yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa. Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syeikh Ibrahim dari Samarkand (dikenal sebagai Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (dikenal sebagai Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (dikenal sebagai Sunan Gunung Jati). Mulai tahun 1463 M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (dikenal sebagai Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (dikenal sebagai Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (dikenal sebagai Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (dikenal sebagai Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.
Semisalnya pengaruh kekhilafahan Turki Utsmani di Nusantara dapat dibuktikan dalam beberapa hal, Pertama, angkatan perang Khilafah Utsmani membantu mengusir Portugis dari Pasai dan dari Malaka. Pada tahun 925 H/1519 M, Portugis di Malaka digemparkan oleh kabar tentang pengiriman armada Utsmani untuk membebaskan Muslim Malaka dari penjajahan kafir. Kabar ini, tentunya, sangat menggembirakan kaum Muslim setempat. Kedua, Pemerintahan Utsmani juga pernah membantu mengusir Parangi (Portugis) dari rute perjalanan haji dari Aceh ke Makkah. Karena itu, nama Turki melekat di hati umat Islam Nusantara, yang populer dengan “Sultan Rum.” Sebelum kebangkitan Turki Utsmani, istilah “Rum” mengacu kepada Byzantium, Tetapi setelah penaklukkan Konstantinopel ibu kota Romawi Timur, istilah “Rum” beredar untuk menyebut Kesultanan Turki Utsmani. Pada 954 H/1538 M, Sultan Sulaiman I (berkuasa tahun 928 H/1520 M) melepas armada yang tangguh di bawah komando Gubernur Mesir, Khadim Sulaiman Pasya, untuk membebaskan seluruh pelabuhan yang dikuasai Portugis, guna mengamankan pelayaran haji ke Jeddah (Azyumardi Azra: 2004)
Jika kita menelisik sejarah, banyak kontribusi yang diberikan ulama Timur Tengah bagi perkembangan Islam di Indonesia. Hubungan antara ulama Nusantara dengan ulama Arab terjalin begitu kuat. Mereka mendidik para ulama Nusantara dengan gigih dan ikhlas. Tidak sedikit para ulama Nusantara itu akhirnya besar menjadi ulama di Timur Tengah dari Syekh Abdusshomad al Palimbani, Syekh Yusuf Makassari, Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, hingga Syekh Mahfudz at Turmus. Jauh sebelum itu, para ulama Nusantara telah menuntut ilmu di Timur Tengah, sebut saja Syekh Abdusshomad al Palimbani dan Syekh Yusuf Makassari. Syekh Abdusshomad Al Palembani (lahir 1704 M) merupakan salah seorang ulama berskala Internasional yang berasal dari Nusantara. Langkahnya untuk menjejak Timur Tengah membawa perubahan berarti bagi al Palimbani. Tak kurang delapan karya tulis dirampungkannya dari mulai tauhid hingga jihad. Hal ini membuat nama al Palimbani berada di jajaran ulama terhormat di Nusantara.
Penulis: Dosen UMSU, Sekjen Pemuda Muhammadiyah Medan.











